POSTINGAN POPULER

Thursday, November 16, 2017

REVOLUSI PIKIRAN

Dalam teori perubahan peradaban manusia kita mengenal istilah evolusi dan revolusi. Evolusi merupakan perubahan sosial budaya secara lambat dan berubah secara perlahan-lahan. Biasanya, hal-hal yang berubah secara perlahan seperti ini terjadi tanpa disadari dan direncanakan dengan detail, atau bahkan tanpa ada perencanaan sekali pun.

Revolusi adalah perubahan sosial budaya secara cepat dengan perubahan yang begitu menonjol. Biasanya, revolusi terjadi karena sudah direncanakan dengan baik dan matang, sehingga dalam melaksanakan perubahannya tidak membutuhkan waktu lama. Orang-orang ini biasanya adalah orang-orang yang sudah siap menerima perubahan.
Proses evolusi dengan ritmenya yang pelahan biasanya nyaris tidak menimbulkan korban baik lingkungan maupun manusia. Sementara revolusi pada umumnya akan memunculkan korban,  sekecil apapun itu.

Kalau Pak Jokowi punya slogan revolusi mental, maka sebagai terapis slogan yang saya pegang adalah Revolusi Pikiran (State of Mind)

Dan berdasarkan premis di atas maka ketika kita ingin melakukan sebuah perubahan perilaku dengan cepat yang artinya kita melakukan revolusi maka mesti ada yang dikorbankan. Pengorbanan di sini janganlah diartikan harfiah dengan hilangnya nyawa seseorang, namun bisa jadi cukup dengan diganggunya kedirian (ego state) atau sebagian dari kenikmatan fisiknya.

Contoh nyata adalah seorang perokok berat bisa saja langsung berhenti total ketika dia divonis terkena serangan jantung. Apalagi dokter mengatakan bahwa penyebab serangan jantungnya adalah kebiasaannya merokok. Ketika kesehatannya sudah menjadi korban maka dia akan melakukan revolusi.

Atau seorang karyawan yang selalu datang telat bisa langsung berubah drastis menjadi rajin ketika dia mendapatkan SP 3 dari HRD. Ketika harga diri dan pekerjaannya terancam maka dia juga melakukan sebuah revolusi.
***

Proses terapi menggunakan aplikasi hipnosis telah diakui selama berabad-abad sebagai terapi pikiran yang revolusioner. Mengapa demikian? Karena memang pada kenyataannya proses menyelesaikan sebuah gangguan pikiran hanya memakan waktu dalam hitungan menit atau jam. Tentu saja sesuai dengan berat atau ringannya gangguan psikis tadi.
Dan tentunya kita tidak mungkin menunggu munculnya korban, baru melakukan tindakan terapi. Karena kalau itu yang terjadi bisa jadi waktu yang dibutuhkan akan panjang. Artinya proses perubahannya kembali menjadi evolusi, bukan revolusi. Justru kalau kita ingin menjadi terapis handal, dibutuhkan sebuah kreativitas untuk memunculkan 'gangguan' yang berujung pada sebuah pengorbanan tadi.

Dalam NLP dikenal presuposisi  (asumsi dasar) 'memiliki pilihan akan lebih baik daripada tidak memiliki pilihan sama sekali', maka dalam sebuah proses terapi kita perlu 'memunculkan' pilihan-pilihan tindakan sebagai alternatif pengganti perilaku lama yang akan di-'korban'-kan.

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah training leadership, ada salah satu peserta yang minta diterapi quit smoking. Setelah melakukan basa basi singkat, akhirnya saya ketahui bahwa kebiasaan merokoknya ini semakin sulit dihentikan sejak kematian putri pertamanya karena infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).  Dia sadar bahwa kebiasaan merokoknya memiliki andil besar pada penyakit anaknya tersebut. Justru karena merasa sangat bersalah, dia malah melarikan diri dengan semakin banyak merokok. Kontradiktif bukan?

Setelah saya gali lagi ternyata kawan ini masih memiliki seorang putri lagi yang masih balita. Maka ketika dia sudah saya bawa ke dalam kondisi hipnosa, saya bawa dia ke dalam kondisi dilematik yang dulu tidak pernah disadarinya, yaitu putri keduanya inipun saya gambarkan terkena ISPA dan kemudian meninggal pula. Dalam trance-nya dia menangis sejadi-jadinya. Berteriak histeris, memanggil nama kedua anaknya. Menyumpahi dirinya sendiri.

Namun kondisi masih sangat terkendali, kemudian saya berikan dia pilihan:

1. Berhenti merokok (mengorbankan kenikmatan semu) atau
2. Mengulangi kepedihan yang sama yaitu kehilangan putrinya (mengorbankan kehidupan keluarganya).

Sontak dia memilih yang pertama. Berhenti merokok.

Setelah itu saya bantu dia menguatkan komitmennya dengan Forgivenes Therapy, agar rasa bersalahnya sirna, sehingga tidak ada alasan lagi baginya untuk kembali menghisap rokok. Begitu saya bangunkan dia, dan saya minta dia mengeluarkan rokok dari sakunya, maka langsung dibuangnya jauh-jauh rokok tersebut.

Dari pengalaman terapi di atas, jelaslah sudah bahwa dengan memberi klien pilihan tindakan, maka dia akan memilih tindakan dengan risiko terkecil (meski itu berarti harus mengorbankan sebuah kenikmatan yang sudah menjadi kebiasaan).
***

Namun jangan sampai kita salah dalam memberikan pilihan seperti contoh di bawah ini. Ceritanya si Fulan yang seorang perokok berat sedang kambuh bengeknya. Diapun mendatangi dokter langganannya. Berikut dialog antara Fulan (F) dan Dokter (D):
D: "Kenapa lagi kau Fulan,  bengek lagi kau?"
F: "Iya Dok. Sesek nih dada awak"
D: "Cem mana kau ini. Awak bilang juga setop itu rokok. Kau bandel sih"
F: "Habis nikmat sih Dok"
D: "Itu khan kenikmatan semu Fulan. Sekarang gini aja. Awak dah bosan ngobatin kau. Kau mau pilih SEHAT atau TETAP MEROKOK?"

Coba tebak kira-kira Fulan bakal menjawab apa Kawan?

Kalau Anda pikir dia bakal menjawab tetap merokok maka Anda salah! Lho kok?

Mari cekidot kelanjutan dialog mereka.










F: "Ya tentu saya pilih SEHAT dong Dokter!"
D: "Nah bagus itu. Itu jawaban yang awak tunggu. Coba jelaskan alasannya?"
F: "Ya kalau SEHAT khan merokoknya jadi NIKMAT Dokter!"
D: "@$#@&;@#$#"

Hehehe sila tebar jika manfaat.


NB:
Jika Anda juga memilih tetap sehat, maka salah satu cara ampuh adalah dengan mendaftar di Workshop Find The Hypnotist in YOU! yang akan diadakan pada tgl 25-26 November 2017 di Cafe Therapy Bogor.

Tabik

-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...