POSTINGAN POPULER

Thursday, June 01, 2017

I Message vs YOU Message

Alhamdulillah  hari ini saya dipercaya untuk mengisi training di Acefood dengan topik Industrial Relation Coaching Skill. Inti dari materi ini adalah bagaimana hubungan antara karyawan, Serikat Pekerja dengan company menjadi lebih erat. 

Sebagai Happiness Life Coach maka saya share beberapa teknik komunikasi jitu di antaranya I Message & You Message. Apa pula itu?

Bayangkan ketika bawahan Anda mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?

  1. Anda selalu saja mengulang  kesalahan ini!
  2. Saya kecewa Anda mengulang lagi kesalahan ini.


Kalau Anda terbiasa secara otomatis memilih kalimat 1, hati-hati, Anda sebetulnya sedang merusak hubungan Anda dengan bawahan Anda. Kenapa?  Karena kalimat 1 cenderung diterima sebagai kalimat yang merendahkan dan menghina, dan akhirnya direspon dengan defensif.

Coba disimak, ada 2 hal utama yang mengganggu pada kalimat ini. 
Pertama adalah penggunaan kata ‘selalu’.
Tahukah Anda bahwa kata ‘selalu’ itu harus dihindari, karena terlalu menggeneralisasi dan tidak menghargai orang yang ditunjuk. Kata lain yang harus dihindari adalah ‘tidak pernah’, ‘kamu tuh orangnya…’, dan kata-kata lain yang menggeneralisasi perilaku orang lain.

Kenapa kata-kata yang menggeneralisasi perlu dihindari? Karena tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menunjukkan perubahan, dan pada akhirnya cenderung malas berubah.

Contoh, di atas disebutkan bahwa si lawan bicara ‘selalu’ mengulang kesalahan, artinya dia tak pernah tak mengulang kesalahan. Padahal tak mungkin kan? Dalam kehidupan sehari-hari, dia pasti pernah secara sengaja atau tidak, tidak mengulangi kesalahan tersebut.

‘Kesalahan’ kedua dari kalimat tersebut adalah penggunaan ‘Anda’ sebagai subyek. Bukan berarti tak boleh, tapi menggunakan ‘you message’ seperti ini cenderung membuat lawan bicara kita merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dll. Apalagi kalau kalimat ini dikombinasikan dengan bahasa tubuh berkacak pinggang sambil menunjuk lawan bicara, dan dengan raut muka marah.

Menerima pesan yang dianggap negatif, cenderung membuat lawan bicara jadi defensif, berusaha membela diri. Tak menutup kemungkinan dia justru lebih marah lagi dan kemudian berusaha menyalahkan Anda, dalam usahanya membela diri. Dan akhirnya Anda saling menyalahkan, dan semakin sulit membicarakan permasalahan Anda.

So mesti gimana? Para ahli menyarankan kalimat kedua (Saya kecewa Anda mengulang lagi kesalahan ini), dikombinasikan dengan intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah). Kalimat kedua ini sering disebut para ahli sebagai ‘I message’.

I message, mudahnya didefinisikan sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaaan kita tentang suatu pengalaman atau interaksi, dengan menggunakan suara lembut dan pernyataan yang dimulai dengan ‘saya’.

Contohnya: Saya merasa terganggu kalau tiap kali sedang meeting, Anda memainkan HP Anda tanpa henti.”

Memang I message bukan bicara fakta, ia membicarakan tentang pengalaman pribadi kita terhadap sesuatu. Justru karena ini adalah pengalaman pribadi, maka bentuk komunikasi ini sangat terbuka terhadap diskusi. Dengan menyebutkan ‘saya’, maka kita sudah mengurangi serangan terhadap lawan bicara kita, tidak menyalahkan lawan bicara kita, dan akhirnya bisa memperbaiki komunikasi.

Pada contoh di atas, kita bukan menyalahkan bawahan kita karena dia mengulang kesalahannya. Kita hanya mengungkapkan kekecewaan kita. Bawahan kita justru lebih mungkin merasa bersalah karena telah membuat kita kecewa, merekapun mengerti apa perasaan kita, tak perlu menebak-nebak lagi. Dan diharapkan pada akhirnya mereka memperbaiki kinerja mereka.

Silakan tebar jika manfaat

Tabik

- haridewa -
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...