POSTINGAN POPULER

Thursday, June 08, 2017

Hambatan atau Batu Loncatan

Suatu sabtu yang cerah,  Galih dan Ratna jalan-jalan ke Puncak naik motor. Saking asyiknya menikmati indahnya alam pegunungan, mereka tidak sadar kalau waktu sudah beranjak malam. Ternyata malam itu hujan mulai turun, maka mereka memutuskan untuk menginap di hotel. Karena malam minggu adalah peak season, mereka cuma berhasil mendapatkan satu kamar.

Untuk menjaga hal yang tak diinginkan maka Ratna  meletakkan guling di tengah tempat tidur sebagai pembatas. (Jangan pada ngeres ya Bro, malam ini semua kondisi TKA alias Terkendali Aman)


Minggu siang mereka turun pulang kembali ke Jakarta. Melewati jalan berliku-liku dan karena tiupan angin yang lumayan kencang, tiba-tiba saputangan penutup muka Ratna terlepas dan terbang melewati pagar sebuah rumah di pinggir jalan setinggi 3 meter. Kontan Galih menghentikan motornya, kemudian dia memanjat pagar rumah tadi untuk mengambilkan saputangan Ratna.

Dengan penuh rasa sayang Galih menyerahkan saputangan Ratna, namun tiba-tiba PLAKKK..!!!  Bukannya menerima saputangannya Ratna malah menampar Galih.

Dengan menahan sakit dan kaget Galih bertanya, "Ada apa sih Beb kok aku ditampar? Seharusnya khan bilang terimakasih sambil memeluk aku"
"Hanya gara-gara sebuah saputangan saja kamu rela naik turun memanjat tembok yang tinggi, tapi kenapa di dinginnya hawa Puncak tadi malam, memanjat guling saja kamu tidak berani?!?! Terlalu...! ",  jawab Ratna geram.
Galih cuma bisa garuk-garuk kepala sambil gigit ban motornya
***

Hehehe, sudah ah tertawanya. 

Sidang pembaca yang budiman saya ingin mengajak Anda untuk menemukan hikmah dibalik humor di atas. Dalam pelatihan Find The Happiness in YOU! di salah satu laundry terbesar di Bogor kemarin pagi,  saya menjelaskan mengenai salah satu budaya kerja mereka yaitu Etos Kerja Tinggi.

Ketika seseorang memiliki etos kerja tinggi maka mereka senantiasa akan selalu bekerja melampaui target dan melibas semua rintangan yang menghadang. Ada seribu satu jalan yang bisa dilalui agar targetnya tercapai.  Sebaliknya ketika etos kerjanya melempem maka akan selalu muncul alasan atas tak terpenuhinya sebuah target. Meminjam istilah TDW, mereka ini adalah pakar BEJ alias Blame, Excuse dan Justify.

Blame
Menyalahkan orang lain atas sesuatu yang terjadi di luar keinginan kita.
Contohnya faktor cuaca, iklim politik, suhu ekonomi yang lagi tidak bagus, birokrasi pemerintah, menyalahkan situasi dan lain-lain.

Excuse
Alasan yang seringkali dicari-cari untuk memperkuat Blame yang sebelumnya telah mereka buat.
Contohnya, usia (masih muda/sudah terlalu tua), bakat (tidak punya bakat), tingkat pendidikan (hanya tamatan SMP).

Justify
Pembenaran upaya untuk menutupi kelemahan/kemalasannya untuk berubah menjadi lebih baik dengan membenarkan keadaannya sebagai sesuatu hal yang wajar. Contohnya, ungkapan “Terang saja dia bisa berhasil karena punya modal.”
***

Sidang pembaca yang budiman, ketika seseorang sudah memiliki mental BEJ, maka mereka akan berhenti ketika menghadapi sebuah aral, sekecil apapun rintangan tadi, seperti kasus Galih pada malam hari itu.
Sementara dengan etos kerja tinggi maka meski setinggi apapun halangan yang menghadang akan tetap diloncatinya, seperti perjuangan Galih mengambilkan saputangan siang itu.

Kesimpulannya adalah:

"Sebuah rintangan akan menjadi HAMBATAN ketika rintangan tadi membuat diri kita berhenti mencapai target kita, namun kalau kita berani meloncatinya aral tadi bukan sebuah hambatan melainkan sebuah BATU LONCATAN"  Ituh....!!!!


Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Thursday, June 01, 2017

Tiga Jurus Sakti Menguak Pintu Langit

Di bulan penuh berkah ini, saya ingin berbagi mengenai rahasia kecil kehidupan yang memiliki manfaat luar biasa, paling tidak untuk diri saya pribadi.  Beberapa waktu yang lalu seorang kolega kantor pernah datang dan bercerita mengenai kesulitan kehidupannya selama ini. Meski memulai karir dalam waktu yang sama, namun posisi saya bisa dikatakan lebih beruntung darinya. Ketika dia masih harus berpanas-hujan ria dengan kendaraan roda duanya, saya sudah menikmati keteduhan kendaraan roda empat lengkap dengan system pendingin udara dan audio yang nyaman.

Ternyata sahabat saya tadi mengamati bahwa seumur pekerjaan saya, belum pernah saya ditempatkan di luar Jawa, yang tentunya jauh dari keluarga besar saya yang tinggal di Jawa. Masih menurutnya lagi, saya bisa melakukan zig-zag dalam meniti karir saya menuju posisi yang lebih tinggi. Bahkan saya bisa dipromosikan ke level supervisory tanpa melalui asesmen (ujian), sekitar 15 tahun yang lalu. Dalam selorohnya dia mengatakan  seolah perusahaan tempat saya bekerja adalah milik nenek moyang saya saja. Hampir tiap tahun saya pindah bidang pekerjaan, dan tetap pekerjaan kantoran dan nyaris selalu mendapatkan promosi. Berbeda dengan dirinya yang sering dipindah dari satu kota ke kota lain, namun tetap saja dalam posisi yang sama. Nguli, katanya. Dari sisi keluarga, dia juga menganggap saya lebih beruntung, anak saya sudah tiga, dua perempuan dan satu laki-laki, lengkap. Sementara dia, meski sudah menikah hampir selama 10 tahun namun belum dikarunia satu orang anakpun.

Sampai pada suatu kesempatan kami bisa berbincang dan saling bertukar kabar, setengah mengeluh dia menanyakan apa sih rahasianya? Rahasia? Saya jadi bergumam sendiri, benarkah selama ini saya mempuyai rahasia? Rahasia yang menurut sahabat saya tadi membuat nasib saya jauh lebih baik dibandingkan nasib sahabat saya tadi.  
Sidang Pembaca yang budiman, setelah berpikir keras, berusaha mengingat, barulah saya menyadari, mungkin rutinitas kehidupan saya selama ini, karena orang lain belum mengetahuinya menjadikan seolah menjadi sebuah rahasia. Namun karena hal ini sudah menjadi rutinitas sehari-hari saya, maka hal itu hanyalah sebuah kebiasaan.

Behavior. Seperti kata pepatah, alah bisa karena biasa, dan sesungguhnya kebiasaan baik akan mengantarkan kita pada nasib baik, begitu pula sebaliknya kebiasaan buruk tentunya akan membuat hidup kita mengalami kesusahan, kegagalan dsb.
Jadi apa sebenarnya rahasia saya tadi? Baiklah, sebentar lagi saya akan berbagi mengenai rahasia agar doa kita 99% diijabah oleh Allah Yang Maha Mengabulkan Doa. Saya sebut rahasia ini

'Tiga Jurus Sakti Menguak Pintu Langit'  

dan saya akan membagikannya dalam tiga bagian:

Jurus Satu: 
Allah mempunyai jam kerja   

Saya tahu beberapa dari Anda pasti akan langsung menyanggah statemen di atas. Allah itu Maha Segalanya, masak mempunyai jam kerja. Kapanpun kita berdoa pasti didengar. Jangan khawatir, saya juga sependapat dengan Anda kok, tapi sebelum perdebatan ini menjadi lebih parah lagi, marilah kita ikuti ilustrasi berikut ini.   

Pada suatu hari Anda merasa tidak enak badan, dan Anda berencana mendatangi dokter untuk berobat. Biasanya di depan tempat praktek dokter tertulis jam praktek mereka. Pagi jam 7-10, atau malam jam 7-9. Karena ingin segera sembuh, maka Anda mendatangi dokter tadi di luar jam prakteknya. Menurut Anda, dokter tadi mau menerima Anda atau tidak? 

Tidak? 

Mungkin ada beberapa dokter yang mau menerima Anda, namun pertanyaannya adalah apakah dia menerima Anda dengan sepenuh hati? Apakah dia akan mengeluarkan semua kemampuannya untuk mengobati Anda? 

Saya yakin Anda sependapat dengan saya, bahwa dokter tadi akan ogah-ogahan dalam mengobati Anda.
Secepat mungkin dia akan membuat Anda meninggalkan tempat prakteknya. 

Kenapa demikian? Ya, karena Anda datang pada jam yang salah.   

Sangat berbeda ketika Anda berobat pada saat jam praktek dokter tadi. Tentunya dia akan sangat welcome kepada Anda. Setelah dengan telaten mendengarkan semua keluhan Anda, dia akan melakukan diagnose, untuk kemudian memberikan resep obat.
Bahkan mungkin dia akan memberikan beberapa tips kesehatan agar Anda bisa menjalani hidup dengan lebih sehat lagi.

Memang ada tantangan tersendiri, ketika Anda mendatangi dokter pada jam prakteknya. Karena semua orang ingn mendapatkan pelayanan prima dari dokter bersangkutan, tentunya kita harus mengantri sesuai dengan waktu kedatangan kita. Namun apalah arti sebuah penantian, ketika pada akhirnya kita mendapatkan sesuatu yang memang kita perlukan.  

Well, sekarang kita kembali pada topik pembicaraan di depan tadi. Menurut saya, meski Allah memang Sang Maha Pengabul Doa, namun tetap saja ada beberapa adab yang mesti kita patuhi. Seperti halnya, dokter yang memang dikaruniai keahlian untuk menyembuhkan penyakit kita, untuk menemuinya saja kita juga harus patuh pada peraturan yang mereka buat.

Bagaimana, sudah sepakat dengan saya sekarang, bahwa seperti halnya dokter, Allah juga mempunyai best timePrime time bahkan.

Untuk lebih meyakinkan Anda, berikut saya petik sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim. Bersabda Rosulullah SAW : “Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat (waktu). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan di dunia maupun di akhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” (HR Muslim)  

Nabi SAW bersabda lagi : “Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman “Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” (HR Bukhari dan Muslim)  

Dalam dunia advertising juga dikenal istilah prime time, yaitu waktu dimana pemasangan iklan pada sebuah media dikenakan harga yang premium. Contoh pada media televisi,  prime time-nya berkisar antara jam 19.00-21.00. Kenapa tarif iklan pada saat prime time menjadi tinggi sekali, bahkan bisa 2 sampai 5 kali lipat pada jam tayang biasa? Jawabannya sangat simple, karena jangkauan iklan pada saat prime time sangatlah luas. Pasa saat itu hampir seluruh anggota keluarga sedang menonton TV. Dengan rayuan dan bujukannya yang kadang-kadang terlalu bombastis, para pemasang iklan berharap iklan mereka mampu mempengaruhi subconscious pemirsa TV untuk kemudian membeli produk mereka. 

Berkaca pada waktu utama tayangan TV ini, ketika Anda ingin doa Anda diijabah olehNya, maka datangilah Dia pada saat prime time.

Jadi kapan prime time Allah? Ada tiga zona waktu prime time, yaitu :   
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama (Ba’da Isya–22.00)   
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua (pukul 22.00–01.00)   
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir (pukul 01.00–Subuh)  

Sahabatku, ketika Anda mempraktekkan jurus pertama ini, maka insya Allah 33% doa Anda sedang dalam proses pengabulan olehNya. 
***


Jurus Dua: Doakan Teman/Saudara  

Dalam aktifitas kita sehari-hari, baik di kantor maupun lingkungan rumah tentunya kita mempunyai teman. Teman adalah tempat kita berbagi, baik berbagi cerita, waktu ataupun sekedar canda tawa. Teman adalah seseorang yang akan memuji kita dengan tulus ketika kita berprestasi. Atau sebaliknya mengkritik kita dengan lembut namun lugas, ketika kita melakukan sebuah kesalahan. Bahkan teman yang baik adalah seseorang yang akan mengingatkan kita ketika sehabis makan masih terdapat sepotong kulit cabe nyempil di sela geligi kita.
'That's what friends are for' kalau kata Rod Stewart.

Pertanyaannya adalah, apa yang Anda rasakan ketika kawan Anda mendapatkan sebuah keberuntungan, kesuksesan atau kebahagiaan? Ikut senang? Yakin? Lha kalau ternyata kolega kantor mendapatkan promosi yang selama ini Anda incar? Masih ikut senang?  Atau malah merasa iri dan kesal? Kenapa mesti dia yang dipromosikan, bukan Anda?

Kalau hal ini yang terjadi maka boro-boro mendukung dan mendoakan keberhasilan kawan tadi, bisa jadi kita malah akan mencari kesalahan dan berusaha menjatuhkannya agar jabatan yang kita incar berpindah ke tangan kita.

Padahal jurus kedua yang akan memudahkan doa kita diijabah adalah mendoakan kawan.  Oleh karena itu tentunya kita harus ikut bahagia ketika teman kita bahagia. Dan tetap bahagia ketika teman kita lebih sukses dari kita sendiri. Jurus kedua ini saya dapatkan dari sebuah tausiah di sebuah radio swasta yang saya dengarkan dalam perjalanan pulang kantor.

Untuk mewujudkan arti teman seperti yang saya tulis sebelumnya, ternyata yang paling penting adalah pengertian yang kita berikan kepada mereka.
Dalam bukunya Seven Habits Highly Effective People, Covey berpesan: Seek understand first, before to be understood. Mengalahlah ketika masih mungkin. Jangan egois, itu pesan moralnya. Artinya utamakanlah teman kita. Bahkan ketika mereka ingin sukses, doakanlah mereka. Dengan tulus, dengan sepenuh hati.

Menurut Ustadz yang memberikan tausiah tadi, ketika kita mendoakan teman kita untuk sebuah tujuan, kesuksesan contohnya, maka malaikat akan mengaminkan. Dan ketika malaikat mengaminkan, maka Allah akan lebih mudah mengijabahkannya.
Luar biasanya lagi, ketika kita mendoakan teman kita untuk sukses, ternyata malaikat juga akan mendoakan kita atas kesuksesan yang bakal diterima teman kita tadi. Dan satu impact lagi yang tentunya bisa Anda duga. Ketika teman kita tadi menyadari bahwa kita mendoakan dia atas sebuah kesuksesan, menurut Anda apa yang bakal dia lakukan?
Yup, seratus untuk Anda, dia akan berbalik mendoakan kita. Malaikat mengaminkan. Allah mengijabah. Double impact bukan?

Rasululllah pernah bersabda: “Doanya orang muslim untuk saudaranya yang sedang tidak bersamanya terkabulkan,  karena di atas kepalanya ada Malaikat. Setiap dia mendoakannya dengan kebaikan, Malaikat yang ditugaskan itu berkata : Aamiin (Ya Allah, Kabulkanlah) dan bagimu seperti itu juga.” (HR. Muslim). 
 
Sahabatku, ternyata sedemikian mudahnya jurus yang bisa kita lakukan agar doa kita mendapat ijabah dariNya. Cukup doakan kawan kita akan sebuah kebaikan, maka kitapun akan menerima hasil doa kita tersebut.
Dan ketika Anda juga sudah mempraktekkan jurus kedua ini, maka bertambah 33% lagi proses pengijabahan doa Anda. 
***

Jurus Pamungkas: Ikhlas  

Kata yang satu ini sangat sering kita dengar, dan mungkin juga sering kita ucapkan, namun sangat menantang untuk dilakukan.
Easy to say, but challenging to do. Jadi apa sebenarnya hakikat ikhlas. Tulus, tanpa pamrih? Itu hanya padanan katanya.

Pada dasarnya manusia itu dibentuk oleh kata-kata, jadi apapun yang kita ucap atau dengar akan dicarikan referensinya oleh pikiran kita. Ketika kita mengucap kata mobil, maka segera akan tergambar di pikiran kita sebuah kendaraan beroda empat, dengan stir di sebelah kanan. Begitu juga ketika kita mendengar kata mawar merah. Segera saja pikiran kita akan menggambar sebuah putik, lengkap dengan helai-helai bunganya, dan berwarna merah. Bukan biru. Bahkan ketika Anda mendengar sebuah kata asingpun, pikiran kita akan mencoba mencari referensinya.

Bagaimana referensi pikiran kita akan kata ikhlas? Marilah kita ikuti dulu ilustrasi berikut ini. Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Semua orang sibuk mempersiapkan diri menghadapi hari besar ini. Bahkan masjid yang pada awal bulan ramadhan penuh oleh jamaah shalat tarawih mulai terlihat kosong di sana sini. Sebagai gantinya, mal-mal, pusat perbelanjaan yang penuh sesak. Suatu sore sehabis berbuka puasa, istri Anda datang mendekat dan berkata, ”Mas, lebaran sudah dekat nih. Tuh para tetangga sudah sibuk  berbelanja baju baru. Bagaimana dengan kita? Beliin baju baru dong untuk lebaran!” dengan mimik penuh penuntutan. Atau di lain waktu, anak Anda sambil memijat kaki Anda berkata, ”Papa sebentar lagi Adik masuk sekolah nih. Beliin tas baru, seragam sama sepatu baru ya. Teman-teman yang lain juga tuh.” Merengek.

Bagaimana perasaan Anda? Apa reaksi Anda? Langsung menjanjikan untuk membelikan istri dan anak Anda apa yang mereka minta? 
 
Sekarang kita amati sebuah fragmen yang sedikit berbeda. Suasananya masih sama, suatu sore sehabis berbuka puasa, istri Anda datang mendekat dan berkata, “Mas, sebentar lagi sudah lebaran lagi ya. Meskipun aku lihat para tetangga sudah sibuk berbelanja baju baru, namun aku lihat baju-bajuku yang lama masih bagus kok. Aku IKHLAS meskipun tidak dibeliin baju baru. Uangnya kita tabung saja untuk keperluan lain”, penuh pengertian.  Kemudian anak Anda datang, dan sambil memijit kaki Anda, dia berkata, “Papa sebentar lagi Adik masuk sekolah nih. Teman-teman Adik pada cerita kalau mereka pasti dibeliin tas dan sepatu baru. Tapi Adik lihat tas dan sepatu Adik yang lama masih bagus, masih kuat, jadi nggak dibeliin yang barupun adik terima kok. Adik IKHLAS” Penuh pengertian.

Nyessss,  ada setitik haru di dalam dada Anda mendengar penuturan anak dan istri Anda. Pasti itu yang Anda rasakan. Dan saya yakin, Anda justru buru-buru mengajak mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk membelikan apa yang telah mereka ikhlaskan.  
***

Saya dapatkan jurus yang satu ini ketika mengikuti pelatihan EFT (Emotional Freedom Technique), sebuah teknik penyembuhan yang berbasis pada pelepasan semua masalah hanya kepada Sang Khalik. Terdapat dua langkah dasar pada EFT, yaitu set up (niat) dan taping (mengetuk beberapa titik dengan ujung jari). Pada langkah awal penyembuhan atau Set Up, kita disarankan justru untuk mengikhlaskan semua masalah dalam sebuah niat. Saya kombinasikan teknik EFT ini dengan ICT (Instant Change Technique), sehingga sebuah set up akan memiliki tahapan sbb:

1. Declare the situation (Curhatkan situasi kita)
2. Let it go, let it God (Ikhlaskan)
3. We deserve to have healthy life (Semua orang berhak hidup sehat)
4. Begin with the end of mind (Visualisasi situasi yang diinginkan)
5. Gracefull to God (Bersyukur)
***
Sebagai contoh ketika saya mempunyai masalah dengan batu ginjal pada tahun 2009 lalu, saya melakukan ikrar Set Up sbb :

1. Ya Allah, di ginjal sebelah kanan ada batu. Sakit sekali rasanya. Kalau sedang kambuh bawah perut seperti ditusuk tusuk. Setiap kali makan rasanya mual. Perjalanan ke kantor menjadi sangat menyiksa.
2. Tapi saya sudah ikhlas kalau memang ini adalah bagian dari rencanaMu. Jadikanlah ujian ini penggugur dosa dosaku Ya Rabb
3. Kau telah ciptakan kami sebagai makhluk yang paling sempurna, maka kami yakin bahwa kami berhak untuk hidup lebih sehat. Maka sehatkanlah kami
4. Ya Allah, saya yakin dalam waktu dekat batu ginjal tadi bisa keluar, tanpa darah dan tanpa rasa sakit.
5. Terimakasih Ya Allah, atas ijinMu dan atas KuasaMu, Engkau telah mengangkat penyakitku ini. Aamiin.

Catatan:
- Curhatkan sebanyak mungkin situasi yang sedang Anda alami sampai perasaan Anda menjadi lebih lega. Ingat, curhat bukan mengeluh.
- Ikhlaskan semua situasi Anda dengan sepenuh hati
- Buatlah visualisasi serinci mungkin, bukan untuk mendikte Allah namun untuk memudahkah Allah mengijabah doa kita
***

Masya Allah, hanya dalam waktu dua minggu, batu ginjal sepanjang 1,5 cm dengan diameter sekitar 0,5 cm berhasil saya keluarkan. Tanpa darah.Tanpa rasa sakit. Saya segera memeriksakan ginjal saya ke dokter, dan mereka hanya bisa heran ketika hasil rontgen serta USG menyatakan bahwa ginjal kanan saya sudah bersih dari batu sementara tidak ada bekas operasi atau laser pada tubuh saya. Tentunya saya kombinasikan terapi batu ginjal tadi dengan hipnosis, reiki serta minum air putih lebih banyak dari biasanya. 
***

Sewaktu kecil saya diajarkan untuk berdoa sambil ‘merengek’ kepada Allah. Bahkan sampai keluar air mata kalau memang diperlukan. Saya percaya sebagian dari Anda juga menerima pelajaran ini, bahkan masih memahaminya sampai sekarang. Tidak ada yang salah dengan ajaran ini. Tentu Ustadz yang mengajarkan juga memiliki dasar yang kuat.
Berkaca dari ilustrasi di atas, sekarang Anda mempunyai pilihan lain, agar Allah segera mengijabah doa kita. Kalau Anda sependapat dengan saya bahwa ilustrasi pada fragmen kedua itu lebih bagus, maka Anda boleh mulai mempraktekkan jurus pamungkas ini.
Nah, ketika Anda sudah mengamalkan jurus ketiga ini, maka lengkap sudah 99% syarat yang akan membuat Allah segera mengabulkan doa kita.  
Sidang Pembaca yang budiman, mungkin Anda akan bertanya, kenapa tiga jurus ini hanya menghasilkan 99% pengabulan doa. Kenapa tidak digenapkan 100% sekalian. Ya, karena yang 1 % adalah hak prerogative Allah, yang tidak bisa kita intervensi. Atau bahasa langitnya adalah TAWAKAL. Setelah meluruskan niat, dan menyempurnakan ihtiar, maka kini saatnya kita bertawakal.

Sharing ini murni pengalaman saya pribadi, tentu masih banyak sahabat lain yang memiliki pengalaman yang tak kalah hebat dari pengalaman saya ini. Maka Anda jangan percaya begitu saja sharing saya ini sebelum mencobanya.

Tahukah sahabatku, bahwa ternyata IKHLAS memiliki makna:

Ini
Kulakukan
Hanya
Lantaran
Allah
Semata. 

Semoga bermanfaat. 

Huwallahu alam bissawab.

      
Tabik
- haridewa -
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

I Message vs YOU Message

Alhamdulillah  hari ini saya dipercaya untuk mengisi training di Acefood dengan topik Industrial Relation Coaching Skill. Inti dari materi ini adalah bagaimana hubungan antara karyawan, Serikat Pekerja dengan company menjadi lebih erat. 

Sebagai Happiness Life Coach maka saya share beberapa teknik komunikasi jitu di antaranya I Message & You Message. Apa pula itu?

Bayangkan ketika bawahan Anda mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?

  1. Anda selalu saja mengulang  kesalahan ini!
  2. Saya kecewa Anda mengulang lagi kesalahan ini.


Kalau Anda terbiasa secara otomatis memilih kalimat 1, hati-hati, Anda sebetulnya sedang merusak hubungan Anda dengan bawahan Anda. Kenapa?  Karena kalimat 1 cenderung diterima sebagai kalimat yang merendahkan dan menghina, dan akhirnya direspon dengan defensif.

Coba disimak, ada 2 hal utama yang mengganggu pada kalimat ini. 
Pertama adalah penggunaan kata ‘selalu’.
Tahukah Anda bahwa kata ‘selalu’ itu harus dihindari, karena terlalu menggeneralisasi dan tidak menghargai orang yang ditunjuk. Kata lain yang harus dihindari adalah ‘tidak pernah’, ‘kamu tuh orangnya…’, dan kata-kata lain yang menggeneralisasi perilaku orang lain.

Kenapa kata-kata yang menggeneralisasi perlu dihindari? Karena tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menunjukkan perubahan, dan pada akhirnya cenderung malas berubah.

Contoh, di atas disebutkan bahwa si lawan bicara ‘selalu’ mengulang kesalahan, artinya dia tak pernah tak mengulang kesalahan. Padahal tak mungkin kan? Dalam kehidupan sehari-hari, dia pasti pernah secara sengaja atau tidak, tidak mengulangi kesalahan tersebut.

‘Kesalahan’ kedua dari kalimat tersebut adalah penggunaan ‘Anda’ sebagai subyek. Bukan berarti tak boleh, tapi menggunakan ‘you message’ seperti ini cenderung membuat lawan bicara kita merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dll. Apalagi kalau kalimat ini dikombinasikan dengan bahasa tubuh berkacak pinggang sambil menunjuk lawan bicara, dan dengan raut muka marah.

Menerima pesan yang dianggap negatif, cenderung membuat lawan bicara jadi defensif, berusaha membela diri. Tak menutup kemungkinan dia justru lebih marah lagi dan kemudian berusaha menyalahkan Anda, dalam usahanya membela diri. Dan akhirnya Anda saling menyalahkan, dan semakin sulit membicarakan permasalahan Anda.

So mesti gimana? Para ahli menyarankan kalimat kedua (Saya kecewa Anda mengulang lagi kesalahan ini), dikombinasikan dengan intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah). Kalimat kedua ini sering disebut para ahli sebagai ‘I message’.

I message, mudahnya didefinisikan sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaaan kita tentang suatu pengalaman atau interaksi, dengan menggunakan suara lembut dan pernyataan yang dimulai dengan ‘saya’.

Contohnya: Saya merasa terganggu kalau tiap kali sedang meeting, Anda memainkan HP Anda tanpa henti.”

Memang I message bukan bicara fakta, ia membicarakan tentang pengalaman pribadi kita terhadap sesuatu. Justru karena ini adalah pengalaman pribadi, maka bentuk komunikasi ini sangat terbuka terhadap diskusi. Dengan menyebutkan ‘saya’, maka kita sudah mengurangi serangan terhadap lawan bicara kita, tidak menyalahkan lawan bicara kita, dan akhirnya bisa memperbaiki komunikasi.

Pada contoh di atas, kita bukan menyalahkan bawahan kita karena dia mengulang kesalahannya. Kita hanya mengungkapkan kekecewaan kita. Bawahan kita justru lebih mungkin merasa bersalah karena telah membuat kita kecewa, merekapun mengerti apa perasaan kita, tak perlu menebak-nebak lagi. Dan diharapkan pada akhirnya mereka memperbaiki kinerja mereka.

Silakan tebar jika manfaat

Tabik

- haridewa -
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...