POSTINGAN POPULER

Sunday, April 09, 2017

Lu Gila Boongin Tuhan (LGBT)

Berikut adalah pengalaman saya melakukan terapi kepada seorang pemuda berusia 26 tahun yang mengakui memiliki kelainan persepsi seks-nya. Istilah kekiniannya adalah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). 

Pemuda ini adalah klien LGBT saya yang kesekian, dimana setiap kali berhadapan dengan penderita kelainan persepsi seks ini, perasaan saya yang muncul selain miris, kasihan juga mesti berhati-hati. Miris mengingat perilaku yang mampu mereka lakukan yang di mata kita adalah sebuah perbuatan yang tidak masuk akal, masak jeruk makan jeruk

Kasihan karena mereka ini sebenarnya adalah korban pembajakan pikiran bawah sadar yang membuat persepsi seks mereka menyimpang. Dan saya mesti berhati-hati dalam melakukan terapi kepada seorang gay, karena sebuah proses hipnoterapi biasanya menyisakan perasaan nyaman kepada klien. Jangan sampai saking nyamannya, alih-alih dia terterapi, bisa-bisa malah merasa nyaman terhadap terapisnya. 

Iiiiih..., emangnya eike cowo apaan! 

Setelah berbasa-basi sejenak, saya kemudian minta dia menggambarkan situasi dirinya sekarang. 

“Saya merasa memiliki kelainan sex Pak Hari. Meski belum sampai melakukan tindakan yang dilarang agama, namun hal ini cukup membuat diri saya galau. Saya lebih tertarik bila melihat cowok ganteng, dibandingkan cewek cantik. Apalagi kalau cowok itu bertelanjang dada”

Dan sudah menjadi prosedur saya dalam melakukan sebuah terapi untuk meminta klien membuat goalnya (Well Formed Outcome) dulu. Biasanya saya akan memandu mereka dengan teknik Miracle Question sbb: 

“Jika seandainya nanti malam ketika Anda tertidur terjadi sebuah keajaiban, bagaimana kira-kira kondisi diri Anda besok pagi?” 

Jawaban dari pemuda tadi adalah, 

“Saya adalah seorang pemuda macho dan perkasa yang memiliki hasrat, ketertarikan seks dan mampu melakukan hubungan seks dengan lawan jenis”

Bagus. Dengan panduan seperti ini maka klien langsung kita ajak untuk berfokus pada masa depannya. Pada solusi, bukan masalahnya. Maka tugas saya sebagai terapis adalah mencarikan jalan agar goal pemuda tadi segera tercapai.

Namun sebelum membantu mencarikan jalan keluar, saya perlu mencari tahu dulu penyebab terjadinya penyimpangan persepsi sex ini. Saya pernah membaca artikel yang menyatakan bahwa semua kejadian LGBT adalah in chance (karena lingkungan), mematahkan pendapat kaum itu sendiri yaitu in born (bawaan lahir). Semua bayi terlahir di dunia ini netral dan normal. Pernahkan Anda melihat ada bayi pria dan perempuan dimandikan bareng dan bayi pria atau perempuanya terangsang? 
Tidak pernah bukan? 
Ya, karena hasrat seksual sesorang muncul bersamaan dengan kematangan organ reproduksi serta mental spiritualnya. 

Artinya penyimpangan persepsi seksual seseorang juga pasti terjadi karena sebuah pengaruh lingkungan dalam masa perkembangan organ reproduksi serta mental spiritualnya tersebut.

Dari pengalaman saya melakukan terapi LGBT, pengaruh lingkungan pada masa kanak-kanak sangat dominan menjadi penyebab terbentuknya jiwa LGBT. Bisa karena pengaruh ibu yang terlalu dominan pada anak laki, atau pengaruh ayah yang terlalu keras kepada anak perempuan. Atau peristiwa traumatik akibat pelecehan seksual ketika kecil. Namun dari in take interview saya dengan pemuda ini, semua itu tidak terjadi. Dia tumbuh dari keluarga kecil yang lumayan religius. Dia hanya memiliki satu adik perempuan, dan keluarga itu lumayan harmonis (minimal menurut pengakuannya). 

Hmm, pasti ada sesuatu yang terlewatkan oleh pikiran sadar pemuda ini.

Dengan teknik Past Life Age Regression, saya ajak pemuda ini jalan-jalan ke masa lalu. Dan ternyata memang ada memori yang terlupa dia ceritakan dalam kondisi awake. Nyatanya sampai dia kelas 4 SD, di rumah orangtuanya ikut menumpang Paman dan Tante dari pihak ibu. Menurut dia, sang tante adalah seorang perempuan judes, galak dan sangat tidak bersahabat dengan anak-anak, termasuk dirinya. Selain kata-kata kasar yang acapkali terlontar dari mulutnya, tante ini tak jarang juga mencubit dirinya jika sedang kesal atau menganggap dirinya nakal. Sebaliknya sang paman sangatlah baik kepada dirinya. Selain tutur kata yang halus, parasnya juga lumayan rupawan. Sang paman inilah yang kerap menyelamatkan dirinya dari cengkeraman tantenya. Seringkali ketika menolong ponakannya ini, sang paman hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.

Nah..., rupanya ini asal muasal terjadinya persepsi yang salah pada pemuda tadi di waktu kecil. Bagian dirinya yang paling dalam waktu itu tentu sangat membenci tantenya, dan secara tak sadar menyanjung pamannya.

Polanya adalah sbb:

Tante jahat, aku benci tante -->Tante adalah seorang perempuan, maka aku benci perempuan.
Paman baik hati, aku suka paman --> Paman adalah seorang pria (ganteng, dadanya bidang), maka aku suka pria (apalagi yang bertelanjang dada).
***

Ketika akar masalah sudah ditemukan seperti ini, maka kelanjutan sesi terapi akan menjadi lebih mudah. Saya tinggal menggunakan teknik Forgiveness Therapy agar pemuda tadi memaafkan tindakan sang tante di masa lampau baik secara fisik maupun emosionalnya. 

Kemudian saya install goal yang sudah disusun ulang dengan lebih sempurna lagi sbb:

“Bismillahir rahmanir rahiim. Aku yakin dan percaya bahwa atas ijin Allah, mulai detik ini dan selanjutnya secara terus menerus, aku adalah  seorang pemuda macho dan perkasa yang memiliki hasrat, ketertarikan seks dan mampu melakukan hubungan seks dengan lawan jenis secara sempurna. Dan aku juga yakin dan percaya bahwa pada bulan Juli 2017, aku sudah menjadi suami dari Neng Mawar (bukan nama sebenarnya), serta mampu melakukan hubungan suami-istri pada malam pertama dengan sempurna dan saling memuaskan. Aamiin”

Mari kita doakan agar pemuda tadi kembali ke jalan yang benar.
***
Anda ingin memahami lebih dalam lagi mengenai hipnosis?
Segera daftarkan diri Anda dalam Workshop 2 (dua) hari bertajuk "Find The Hypnotist in YOU!" yang rutin kami selenggarakan pada hari sabtu-minggu sebulan sekali

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Hari Dewanto di nomor: 0817 903 9372

Tabik

-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 0817 903 9372

Wednesday, April 05, 2017

Aku Punya Allah

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11



“Aku punya Allah. Dia pasti akan menolongku”. Mungkin seringkali Anda mendengar statement seperti itu terucap dari kolega, teman atau keluarga Anda. Atau bahkan mungkin statement tersebut justru meluncur dari mulut Anda sendiri. Apa yang Anda rasakan ketika mendengar seseorang mengucap kalimat tersebut? Serasa orang tersebut begitu religiuskah? Atau seolah orang yang telah ‘berhasil’ burucap seperti itu adalah orang yang telah kaffah ibadahnya. Telah sempurna dalam melakukan semua usaha dan tinggal menunggu Allah menentukan nasibnya. Kalau memang seperti itu sikap dan perilaku orang yang berucap statement tersebut, maka alangkah mulia mental spiritual orang tadi.

Namun pernahkah Anda menjumpai orang yang sekedar berucap, tanpa terlihat sebuah usaha dalam kesehariannya. Mereka ini rajin berdoa dan mengatasnamakan Tuhannya namun tanpa mereka sadari mereka ternyata tidak melakukan usaha demi pencapaian doanya itu. Banyak sekali contoh yang bisa kita dapatkan. Mungkin Anda mempunyai teman yang kelihatan selalu optimis namun kehidupannya belumlah seoptimis sikapnya. Dari bibirnya sering terlafalkan dzikir namun kinerjanya malas-malasan, datang ke kantor terlambat, sering bermain games di komputernya dlsb. Kala ditegur atasannya atau ditanya oleh teman kantor maka dia akan mengemukakan statemen andalannya, “Aku punya Allah. Dia pasti akan menolongku”.

Pagi ini kebetulan saya mendapatkan sebuah email ‘pencerahan’ dari seorang kolega kantor yang mengutip sebuah artikel Jaya Suprana sbb: “Hidup itu seperti huruf i, tugas kita membuat garis dan tugas yang Maha Kuasa membuat titik di atasnya. Buatlah garis sebanyak-banyaknya karena kita tidak tahu mana yang akan diberi titik oleh-Nya. Jangan sampai Dia memberi titik sementara kita belum membuat garis.”

Pengusaha Jamu yang juga pendiri MURI [Museum Rekor-Dunia Indonesia] ini melanjutkan, “Huruf i itu juga bermakna, hidup harus punya 5i.” Artinya, kata Jaya Suprana, manusia harus punya idealisme atau sesuatu yang diperjuangkan.

“Kedua, jadilah manusia yang inovatif, punya ide dan gagasan yang ditawarkan kepada masyarakat. Selain itu, manusia juga harus punya inisiatif, tak boleh menunggu tetapi harus proaktif,” tambahnya.

Kemudian Jaya Suprana melanjutkan, i yang keempat adalah implementasi. “Percuma kita punya ide, gagasan dan inovasi bila tidak diimplementasikan. Dan percayalah, apabila kita melakukan 4i tersebut maka i yang kelima adalah insya Allah kita berhasil.”

Saya sangat setuju dengan prinsip 5i nya Jaya Suprana ini, karena memang Allah akan menolong kita setelah kita berusaha menolong diri kita dulu. Sebuah scenario lain yang mungkin pernah Anda Alami, atau pernah anda dengar. Ada seseorang atau sekelompok orang yang mulutnya sangat ‘tajam’, dia bisa mengkritik orang lain dengan sangat pedas. Mungkin apa yang dikatakannya kadangkala ada benarnya, namun cara penyampaiannya selalu merendahkan. Seolah hanya dialah pemegang kebenaran dunia ini. Alasannya selalu amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan memerangi kejahatan). Karena merasa benar, maka Allah pasti akan menolong mereka. Mereka lupa bahwa amar ma’ruf haruslah bil ma’ruf juga (menegakkan kebenaran dengan cara yang benar), karena justru bil ma’ruf inilah sebuah inisiatif yang harus dilakukan agar Allah senantiasa menolong kita. Karena meski kita merasa punya Allah, kenyataannya Allah tidak akan serta merta menolong kita. 

Sebuah contoh lain lagi, ketika kita berhadapan dengan preman. Meski kita merasa benar dan punya Allah, namun lisan kita adalah senjata yang telah diberikan Allah untuk mengucapkan kata-kata yang mampu melunakkan hati para preman ini, bukan sebaliknya malah berkata sesumbar dan menantang para preman tadi yang memungkinkan mereka melukai kita. Allah tidak akan serta merta menurunkan malaikatnya untuk menolong kita, karena kita sudah dipersenjatai dengan akal budi yang memungkinkan kehalusan tutur kata kita dalam menghadapi para preman tadi.

Mungkin Anda pernah mendengar cerita di bawah ini:

Pada suatu hari terjadi banjir besar, ada seorang korban yang selama ini hidupnya sangat taat beragama, iman yang luar biasa, tekun berdoa. Terkena banjir inipun dia berdoa terus mohon pertolongan Allah. Para tetangganya mulai mengungsi dan mengajak dia tetapi dia tidak mau karena dia pikir Allah akan menolongnya. Kemudian datang sekelompok pemuda kampung itu menggunakan kayu yang diikat sebagai perahu, mengajaknya untuk mengungsi, dia pun tidak mau ikut karena dia sangat yakin Allah akan menolongnya. Sampai akhirnya datang tim SAR menawarkan bantuan,  dia juga tidak mau ditolong. Akhirnya orang yang taat beribadah inipun meninggal karena tenggelam.



Singkat kata di akhirat dia bertemu  Tuhan dan dia langsung protes : " Tuhan kenapa Engkau tidak menolongku, padahal aku sudah minta tolong padaMu ?" Dengan tersenyum Tuhan menjawab "Lho ... kan sudah Aku kirim pertolongan, apalagi sampai tiga kali "

Wallahualam bissawab

-haridewa-

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...