POSTINGAN POPULER

Monday, March 13, 2017

Strike The Iron While It Is HOT!

Tepat 30 tahun yang lalu saya meninggalkan sekolah ini, lulus dengan nilai ebtanas murni yang lumayan membanggakan orang tua yaitu rata-rata 8,5. Memang masa SMP saya lewati dengan sangat 'cupu', yang ada di pikiran saya hanya belajar, belajar dan belajar. Dengan badan yang terhitung tinggi dibanding kawan sebaya (anehnya saya merasa ini sebagai sebuah kekurangan), bahkan dilengkapi dengan wajah yang ditumbuhi jerawat di beberapa spot membuat saya menjadi siswa yang minder dan pendiam. 

Maka pelarian dari perasaan rendah diri adalah belajar sepanjang waktu tadi. Dalam pergaulanpun saya sangat membatasi diri hanya kepada kawan yang saya anggap setara dan sekufu. Saya tidak berani menyapa dan atau berkawan dengan kawan yang tenar di sekolah.

Satu-satunya motivasi saya untuk bergerak ke depan adalah sikap keras bapak saya terhadap diri saya (yang terkadang terasa tidak adil karena saya tidak merasakan hal itu diberlakukan kepada saudara saya yang lain). Saya ingat sekali ancamannya bahwa kalau sampai ada nilai mata pelajaran  yang kurang dari 7 maka beliau tidak akan mau mengambil raport saat akhir semester. Namun saya memetik hasil sikap keras itu sekarang.

Salah satu ungkapan dalam bahasa Inggris (meski bapak saya hanya lulusan SMP, namun kemampuan bahasa Inggrisnya lumayan bagus) yang sering dilontarkan bapak saya adalah: 

 'Strike The Iron While it is hot'tempalah baja itu selagi masih panas. 

Awalnya saya tak paham dengan maksud ungkapan ini. Sampai ketika saya membaca kisah para empu pembuat keris, saya baru 'ngeh' bahwa untuk membentuk keris dengan sejumlah luk-nya hanya bisa dilakukan ketika bajanya masih membara. Apa pula maksud bapak saya dengan ungkapan ini, apa beliau berharap saya menjadi empu?

Dan misteri ungkapan ini terungkap ketika pak Riyadi (guru bahasa Indonesia) sedang membahas makna tersirat dalam sebuah ungkapan bahasa Indonesia. Intinya adalah jangan pernah sia siakan masa muda kita. Manfaatkan usia muda untuk hal yang bermanfaat. Dan karena waktu itu yang saya anggap sebagai hal bermanfaat adalah belajar, maka jadilah saya seorang siswa super cupu yang gila belajar seperti penuturan saya di awal tulisan ini.
***


Setelah 30 tahun lepas dari sekolah ini, saya kembali dengan kondisi yang bisa dikatakan 180 derajat berbeda, karena sekarang saya sedang mengemban tugas untuk memberikan motivasi kepada adik-adik kelas 9 yang sebentar lagi akan menghadapi UN. Wow, saya kembali ke sekolah saya sebagai seorang motivator! Sebuah profesi yang tidak pernah terbayang di benak saja dari dulu. Sebuah profesi yang mengharuskan saya bicara di depan orang banyak dengan penuh percaya diri agar mampu memotivasi orang lain. Sebuah aktifitas yang sangat tidak mungkin saya lakukan 30 tahun yang lalu.

Selama hampir 4 jam saya mengajak para adik kelas untuk menyadari bahwa mereka adalah masterpiece yang berharga MAHAL, maka mereka perlu membuat cita-cita yang bernilai tinggi juga. Semua adik kelas sangat bersemangat mengikuti sesi motivasi ini, karena selain mereka jarang mendapatkan sesi seperti ini, saya juga menyuguhkan sebuah sesi yang memberdayakan dengan aksi-aksi hipnosis di sela-sela sesi motivasi itu. 

Sebenarnya saya adalah orang yang paling termotivasi saat itu, karena saya berdiri di ruang yang sama dengan kelas saya 30 tahun yang lalu. Bedanya adalah ruang ini sekarang terlihat lebih kokoh dengan dinding full tembok sementara dulu setengah papan. Bahkan saat sesi kontemplasi, saat saya minta adik-adik kelas untuk mengingat jasa orang tua dan para guru, saya ikut menangis haru menyadari metamorfosis yang sudah saya alami. Melihat dan mendengar adik-adik kelas menangis, bapak ibu guru juga melelehkan  airmata, ternyata mata saya juga sembab basah berlinangan.

Hiks, motivator kok cengeng. Memberi semangat kok malah larut dalam suasana emosional yang diciptakannya sendiri. Baru kali ini saya mengalami hal ini. Namun saya tidak malu, dan peristiwa ini tidak memalukan, justru memberikan pelajaran tersendiri bagi saya dan adik-adik kelas saya, bahwa seorang cupu pun mampu bermetamorfosis asal ada kemauan keras untuk selalu menempa bajanya ketika masih membara.

Terimakasih untuk semangat kalian adik-adik kelasku. Terimakasih untuk kawan-kawan alumni yang bahu membahu mewujudkan training yang dahsyat kemarin.

Terimakasih Bapak Ibu Guruku, Pak Katno, Pak Ir, Pak Aris, Pak Riyadi, Bu Arfati, Bu Arini, Bu Sum, dan tentu saja Pak Pri, serta Bapak Ibu guru lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya bangga pernah menimba ilmu di SMPN 01 Sukorejo, saya bangga menjadi murid Bapak Ibu guru semua. Mohon maaf kalau baru sekarang bisa berkontribusi ke almamater tercinta. Marilah kita senantiasa tempa baja kita selagi masih membara.


Tabik

- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 0817 903 9372

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...