POSTINGAN POPULER

Friday, March 31, 2017

Terapi Pemulihan Jiwa


Tarik Nafas Panjang. Aku sayang pada diriku sendiri. Yang berlalu biarlah berlalu. Masa depan lebih penting. Hai diriku, tetaplah tersenyum. Tetaplah bahagia. Aku melihat diriku yang ceria itu. Aku melihat diriku yang bahagia itu. Itulah diriku yang sesungguhnya. Aku ingin kembali. Kemanakah aku selama ini? Aku sangat berharga. Aku ini diinginkan Tuhan. Masa depanku penting. Keluargaku penting. Hidupku ini sangat penting. Hal-hal yang tidak penting tidak boleh mengganggu aku. Perasaan-perasaan tidak berharga aku letakkan, aku tinggalkan. (tarik nafas panjang).
Demi kebahagiaanku, demi ketenangan hidupku, aku ikhlaskan masa laluku. Bukan aku kalau tidak lkhlas. Aku letakkan. Aku lepaskan agar ringan langkahku. Agar sehat badanku. Agar indah masa depanku.

Ya Tuhan mudahkanlah bahagiaku semudah nafasku.
Hai diriku, tetaplah tersenyum, tetaplah bahagia.  (Tarik nafas panjang)
Tarik nafas panjang hhhhhhhh sekali lagi tarik nafa panjang
Hal-hal yang tak sanggup kupikirkan, kuserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Pikiran-pikrian yang tak sanggup kupikirkan memamng tidak untuk aku pikirkan. Bukan bagianku. Aku ikhlaskan (Tarik nafas panjaaang). Ikhlasss....ikhlaaaa...ikhlasss. Karena Ini kulakukan hanya lantaran Allah semata.... dan aku merasakan kedamaian. Semoga tidurku nyenyak. Semoga hatiku tabah. Begitu sejuuuk rasanya.. bangga menjadi diri yang tenang. Sangat bangga. (Tarik Nafas Panjang). Bahagiaaaaa....Bahagiaaaaa...Bahagiaaaaa.. Aku merasakan tubuhku sehaat. Oksigen yang kuhirup membawa kebahagiaan. Menyebar ke seluruh tubuhku. (tarik nafas panjang) Sehaaat sehaaaat sehaaaat. Tuhan Yang Maha Besar hadir dalam bathinku. Ini yang membuat aku tenang. Aku sehat, aku bahagia. Aku ikhlas aku sukses. (Tarik nafas panjang). Inilah diri anda sesungguhnya, buka mata Anda membawa perasaan bahagia. Membawa rasa syukur, membawa rasa positif
  

Tuesday, March 28, 2017

Stay! (Jangan Pergi! )

Manusia (Indonesia) adalah makhluk kontradiktif. Senantiasa menginginkan 'A' namun melakukan 'B' untuk mendapatkannya. Gak percaya? Mau bukti?

Kita sudah sangat hafal dengan idiom rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya dan bersih pangkal sehat. Namun coba perhatikan kenyataan hidup sehari-hari. Betapa banyak siswa yang ingin pandai agar bisa mendapatkan sekolah favorit, namun mereka memilih untuk bermain game, nonton TV dan tidak belajar. Agar lulus ujian mereka (tidak semua tentunya) malah berembug untuk membeli soal (dan hebatnya beberapa orang tua dan guru mendukungnya).

Tidak kurang jumlahnya juga dari kita yang ingin hidup cukup dan kaya raya namun sangat keranjingan belanja. Apa saja barang baru yang ditawarkan iklan TV atau media sosial serta merta akan dibelinya. Padahal belum tentu barang tadi dibutuhkan. Alasannya, 'Toh duit-duit gue sendiri, ngapain elo yang repot?'
Mereka ini lupa bahwa untuk bisa kaya,  yang diperlukan bukan banyaknya penghasilan melainkan banyaknya berhemat. See?
***

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan  kontradiksi tindakan ini terjadi? Semua berawal dari pikiran kita, Kawan.
Kita? Elo aja kali? ☺

Mohon maaf kalau kalimat awal tulisan ini seolah mendiskreditkan bangsa kita, memangnya yang melakukan kontradiksi ini hanya bangsa Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan mengajak Anda mencermati beberapa film Hollywood. Kemarin saya nonton film Alvin and Chipmunk terakhir.

The Chipmunks : The Road Chip

Inti cerita film ini adalah sbb:
Karena kesalahpahaman, Alvin, Simon, dan Theodore mengira Dave akan melamar kekasih barunya (Samantha) di Miami… dan mengusir mereka dari kehidupan Dave. Mereka hanya punya waktu tiga hari untuk menemui Dave dan menghentikan pertunangan itu, supaya mereka tak hanya batal kehilangan Dave, tapi juga selamat dari kehadiran kakak tiri (Miles) yang menyebalkan.

Ketika Dave hendak berangkat menuju Miami, dia berpesan kepada para Chipmunk tadi, 'Play with Miles at home and be good' Tahukah kawan apa subtitle yang terbaca? 

'Mainlah bersama Miles di rumah dan JANGAN NAKAL'

Nah lho, kata 'jangan nakal' ini terjemahan dari kata apa ya? Dave berpesan BE GOOD, bukan 'don't be naughty'
Belum puas?

Theodore adalah tupai yang paling manja di antara ketiga Chipmunk. Dia kemudian berkata kepada Dave, setengah merengek, 'Dave, stay. Please!' 

Subtitlenya tertulis,  'Dave, JANGAN PERGI!'

Itu baru dua contoh yang ketemu. Saya yakin masih banyak contoh lain yang bisa digali, baik dari film ini atau film Hollywood lain.
Terbukti khan mindset orang Indonesia masih kontradiktif, dan berfokus justru pada hal yang tidak diinginkan. Jelas sekali Dave meminta Chipmunk untuk be good yang artinya jadi anak baik ya, atau baik-baik di rumah ya, kok malah diartikan sebagai JANGAN NAKAL.

Sudah jelas Theodore minta Dave untuk Stay, lha kok artinya malah JANGAN PERGI.
Sementara kita tahu bahwa sebenarnya pikiran manusia itu tidak mengenal kata negasi seperti jangan, tidak, bukan dsb. Masih gak percaya juga?

Coba kalau bisa Anda semua untuk TIDAK memikirkan gajah yang berwarna ungu. JANGAN pikirkan gajah ungu!   Apa yang muncul di pikiran Anda? Justru muncul gajah ungu khan?

Maka inilah penjelasan kenapa masih banyak ketidaksesuaian antara harapan ortu dengan kenyataan anaknya. Karena sebagai orang tua kita masih sering terjebak pada kontradiksi pikiran-tindakan ini. Karena kita masih sering menggunakan kalimat negasi ketika berkomunikasi dengan anak kita. 

'Jangan nakal Nak',  'Jangan ngompol',  'Jangan tidur terlalu malam', 'Cobalah untuk tidak mengganggu adikmu' dsb

Bahkan terkadang kontradiksi yang terjadi lebih parah lagi seperti fragmen berikut ini:
Seorang kakak  menganggu adiknya yang sedang bermain, dan sang ibu berteriak dari dapur sbb:

"Ayo, terus ganggu adikmu!"

Dan sang kakak terus mengganggu adiknya, dan kemudian sang ibu marah besar kepada sang kakak. Maka kakak jadi bingung, katanya disuruh terus mengganggu kok dimarahi ketika mengganggu adiknya.
Atau pernakah Anda mendengar atau justru mengalami kejadian semacam ini? Kondisinya kakak adik di sebuah rumah yang selalu berantem dan tidak ada yang mau mengalah. Kemudian sang ibu berteriak,

'Puas hati Mama melihat kalian berantem terus seperti ini!'

Maka mereka akan meneruskan pertikaian mereka, dan ibu makin marah dan anak-anak makin bingung.

Maka solusinya adalah:

  1. Mulailah untuk fokus pada hal yang diinginkan dan gunakan kalimat positif. 
    • 'Jadi anak baik ya Nak', 
    • 'Kalau malam pipis di kamar mandi ya pinter',  
    • 'Jagain dan temani adikmu bermain ya Sayang'

  1. Gunakan kalimat dengan makna asli, bukan konotatif. Kalau melarang ya larang (tetap menggunakan kalimat positif), kalau marah ya tunjukkan kemarahan tadi dengan elegan. Jadilah orang tua yang kongruen, yang tindakan serta ucapannya sejalan
  2. Berikan contoh yang baik antara kesesuaian pikiran-tindakan ini kepada anak kita.
Semoga bermanfaat.

Tabik

- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Monday, March 13, 2017

Strike The Iron While It Is HOT!

Tepat 30 tahun yang lalu saya meninggalkan sekolah ini, lulus dengan nilai ebtanas murni yang lumayan membanggakan orang tua yaitu rata-rata 8,5. Memang masa SMP saya lewati dengan sangat 'cupu', yang ada di pikiran saya hanya belajar, belajar dan belajar. Dengan badan yang terhitung tinggi dibanding kawan sebaya (anehnya saya merasa ini sebagai sebuah kekurangan), bahkan dilengkapi dengan wajah yang ditumbuhi jerawat di beberapa spot membuat saya menjadi siswa yang minder dan pendiam. 

Maka pelarian dari perasaan rendah diri adalah belajar sepanjang waktu tadi. Dalam pergaulanpun saya sangat membatasi diri hanya kepada kawan yang saya anggap setara dan sekufu. Saya tidak berani menyapa dan atau berkawan dengan kawan yang tenar di sekolah.

Satu-satunya motivasi saya untuk bergerak ke depan adalah sikap keras bapak saya terhadap diri saya (yang terkadang terasa tidak adil karena saya tidak merasakan hal itu diberlakukan kepada saudara saya yang lain). Saya ingat sekali ancamannya bahwa kalau sampai ada nilai mata pelajaran  yang kurang dari 7 maka beliau tidak akan mau mengambil raport saat akhir semester. Namun saya memetik hasil sikap keras itu sekarang.

Salah satu ungkapan dalam bahasa Inggris (meski bapak saya hanya lulusan SMP, namun kemampuan bahasa Inggrisnya lumayan bagus) yang sering dilontarkan bapak saya adalah: 

 'Strike The Iron While it is hot'tempalah baja itu selagi masih panas. 

Awalnya saya tak paham dengan maksud ungkapan ini. Sampai ketika saya membaca kisah para empu pembuat keris, saya baru 'ngeh' bahwa untuk membentuk keris dengan sejumlah luk-nya hanya bisa dilakukan ketika bajanya masih membara. Apa pula maksud bapak saya dengan ungkapan ini, apa beliau berharap saya menjadi empu?

Dan misteri ungkapan ini terungkap ketika pak Riyadi (guru bahasa Indonesia) sedang membahas makna tersirat dalam sebuah ungkapan bahasa Indonesia. Intinya adalah jangan pernah sia siakan masa muda kita. Manfaatkan usia muda untuk hal yang bermanfaat. Dan karena waktu itu yang saya anggap sebagai hal bermanfaat adalah belajar, maka jadilah saya seorang siswa super cupu yang gila belajar seperti penuturan saya di awal tulisan ini.
***


Setelah 30 tahun lepas dari sekolah ini, saya kembali dengan kondisi yang bisa dikatakan 180 derajat berbeda, karena sekarang saya sedang mengemban tugas untuk memberikan motivasi kepada adik-adik kelas 9 yang sebentar lagi akan menghadapi UN. Wow, saya kembali ke sekolah saya sebagai seorang motivator! Sebuah profesi yang tidak pernah terbayang di benak saja dari dulu. Sebuah profesi yang mengharuskan saya bicara di depan orang banyak dengan penuh percaya diri agar mampu memotivasi orang lain. Sebuah aktifitas yang sangat tidak mungkin saya lakukan 30 tahun yang lalu.

Selama hampir 4 jam saya mengajak para adik kelas untuk menyadari bahwa mereka adalah masterpiece yang berharga MAHAL, maka mereka perlu membuat cita-cita yang bernilai tinggi juga. Semua adik kelas sangat bersemangat mengikuti sesi motivasi ini, karena selain mereka jarang mendapatkan sesi seperti ini, saya juga menyuguhkan sebuah sesi yang memberdayakan dengan aksi-aksi hipnosis di sela-sela sesi motivasi itu. 

Sebenarnya saya adalah orang yang paling termotivasi saat itu, karena saya berdiri di ruang yang sama dengan kelas saya 30 tahun yang lalu. Bedanya adalah ruang ini sekarang terlihat lebih kokoh dengan dinding full tembok sementara dulu setengah papan. Bahkan saat sesi kontemplasi, saat saya minta adik-adik kelas untuk mengingat jasa orang tua dan para guru, saya ikut menangis haru menyadari metamorfosis yang sudah saya alami. Melihat dan mendengar adik-adik kelas menangis, bapak ibu guru juga melelehkan  airmata, ternyata mata saya juga sembab basah berlinangan.

Hiks, motivator kok cengeng. Memberi semangat kok malah larut dalam suasana emosional yang diciptakannya sendiri. Baru kali ini saya mengalami hal ini. Namun saya tidak malu, dan peristiwa ini tidak memalukan, justru memberikan pelajaran tersendiri bagi saya dan adik-adik kelas saya, bahwa seorang cupu pun mampu bermetamorfosis asal ada kemauan keras untuk selalu menempa bajanya ketika masih membara.

Terimakasih untuk semangat kalian adik-adik kelasku. Terimakasih untuk kawan-kawan alumni yang bahu membahu mewujudkan training yang dahsyat kemarin.

Terimakasih Bapak Ibu Guruku, Pak Katno, Pak Ir, Pak Aris, Pak Riyadi, Bu Arfati, Bu Arini, Bu Sum, dan tentu saja Pak Pri, serta Bapak Ibu guru lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya bangga pernah menimba ilmu di SMPN 01 Sukorejo, saya bangga menjadi murid Bapak Ibu guru semua. Mohon maaf kalau baru sekarang bisa berkontribusi ke almamater tercinta. Marilah kita senantiasa tempa baja kita selagi masih membara.


Tabik

- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 0817 903 9372

Thursday, March 09, 2017

Scaling Question


Mungkin ada di antara Anda yang baru mendengar istilah ini, mungkin juga ada yang sudah tahu istilah ini dan mungkin saja ada yang tidak tahu istilah ini namun sudah sering mempraktekkannya.

Apa itu Scalling Question?
Scalling Question adalah sebuah teknik dalam Brief Therapy yang berguna untuk mengukur intensitas sebuah situasi. Biasanya angka yang digunakan sebagai acuan adalah rentang antara 1-10. Acuan angka ini akan memudahkah terapis dan klien itu sendiri untuk mengetahui current situation dan target desired situation-nya.

Contoh: Seorang terapis ingin mengetahui situasi nervous yang dihadapi klien jika harus berbicara di depan umum. Angka 1 mewakili kondisi agak nervous sementara angka 10 mewakili kondisi sangat nervous, maka terapis akan menanyakan di angka berapa kondisi si klien ketika harus berbicara di depan umum. Berapapun jawaban klien, sang terapis bisa ikut membayangkan kondisi yang dihadapi seorang klien.

- "Rentang angka 1-10, dimana 1 agak nervous dan 10 sangat nervous , ada di angka berapa perasaan Anda kalau diminta bicara di depan umum?"
+ "Sepuluh..!" (Ini menunjukkan current situation. Yang artinya situasi yang dihadapi klien lumayan berat)
- "Wow, lumayan juga ya. Kira-kira kita perlu turun sampai angka berapa agar Anda bisa tampil di depan umum dengan tenang?
+ "Dua.. " (ini merupakan desired situation, yang ditentukan oleh klien sendiri. Sebagai terapis Anda tidak boleh memaksakan desired situation ini)

Ketika klien sudah memiliki sebuah target maka tugas kita adalah membantu mereka mencapai targetnya tadi. Dan kita bisa menggunakan beberapa teknik lagi, di antaranya adalah Coping Question sbb:
- "Apa saja yang sudah Anda lakukan untuk membuat Anda lebih PD?"
- "Apakah masih ada rencana yang belum Anda lakukan agar lebih PD?"

Penjelasan detail mengenai Coping Question akan saya tuliskan dalam artikel tersendiri.
Coba bayangkan kalau sebagai terapis Anda bertanya kepada klien, "Se-nervous apa Anda kalau diminta bicara di depan orang banyak?" Dan klien Anda menjawab, "Pokoknya nervous banget deh! " atau "Sedeng sih", atau "Situ tebak aja ndiri, khan situ terapisnya!"
Apa nggak pusing Anda mengira-iranya? Bisa-bisa begitu klien Anda pulang, justru Anda yang perlu diterapi, hehehe.
***

Teknik ini juga ampuh digunakan dalam sesi coaching, parenting bahkan selling.

Coaching
- "Menurut Anda, skala 1-10, 1 tidak kompak, 10 sangat kompak,  kinerja team Anda ada di angka berapa?"
+ "Emm 4 kali ya?"
- "Baik, angka 4. Menurut Anda lagi pada angka berapa tim Anda bakal menjadi juara?"
+ "10,  bahkan kalau perlu 11!"
- "Apa yang sudah Anda lakukan bla bla bla"

Parenting
- "Nak, menurut kamu agar kamu bisa lulus UN perlu memiliki semangat sebesar apa? Anggap saja angkanya adalah 1 sampai 10?"
+ "Ya tentu 10 lah Pah"
- "Lha menurut kamu sekarang angka semangatmu sudah di angka 10 apa belum?"
+ "Hehehe belum Pah, paling di angka 5"
- "Waduh, gak lulus dong itu"
+ "Aku mau angka 10 Pah, biar lulus"
- "Sudah tahu caranya? Bla bla bla"

Selling
- "Menurut Anda mobil ini menarik nggak?"
+ "Menarik.. "
- "Anda minat untuk membeli?"
+ "Emm gimana ya?"
- "Kalau dalam skala 1-10, minat Anda ada di angka berapa?"
+ "Mmm antara 5-6 lah"
- "Menurut Anda orang akan membeli sebuah mobil kalau keminatannya minimal ada di angka berapa?"
+ "Mungkin di atas 8 kali ya?"
- "Baik, apa yang bisa saya lakukan agar angka Anda naik ke angka 9? Bla bla bla" (Anda tidak minta prospek untuk membeli, hanya ingin membantu menaikkan minatnya. Dikombinasikan dengan covert selling maka pada akhirnya prospek akan membeli produk Anda)
***

Dengan kreativitas Anda sebenarnya teknik ini bisa bermanfaat untuk semua lini kehidupan.

Jika artikel ini berguna untuk Anda, silakan ditebar sesuka Anda

Tabik

- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life  Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Tuesday, March 07, 2017

Ketuk Pintu Hatinya

Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika saya masih aktif sebagai Sales Manager di sebuah perusahaan farmasi. Saat itu saya sedang up country (istilah tugas luar kota di dunia farmasi) ke Padang dalam rangka pipe lining sebuah product baru. Yang namanya memasarkan produk baru selalu memiliki tantangan tersendiri. Meskipun kita sudah merasa mengenal dekat para dokternya, namun selalu ada saja penolakan atau ketidakpercayaan mereka.
Singkat cerita malam itu saya sengaja diajak untuk mendatangi seorang dokter paling potensial di Padang yang sejauh ini masih menolak penggunaan produk baru tersebut. Pak Naim Firdausz sebagai Area Manager Sumatera Barat menjelaskan tipikal dokter lengkap dengan histori hubungan dengan perusahaan kita.

Sekitar jam setengah 12 malam, saya, Pak Naim dan seorang anak buahnya baru berhasil berjumpa dengan dokter tersebut. Setelah masuk dan sedikit berbasa basi kemudian Pak Naim memperkenalkan saya sebagai perwakilan dari Head Office. 

Seperti biasanya dokter daerah akan selalu menyambut dengan gegap gempita kedatangan orang HO, maka dengan hangat dokter itu juga menyambut kedatangan saya tengah malam itu.

Yang luar biasa adalah, sebelum saya memulai untuk menawarkan produk baru kami, dokter tersebut sudah mendahului bercerita mengenai kedatangan pasien beberapa hari sebelumnya yang menginginkan sebuah produk bagus yang didapatkannya dari Malaysia. Sambil menunjukkan kemasan obat yang dimaksud, sang dokter menanyakan apakah kami memiliki produk yang sama. Saya tersenyum simpul sambil menghela nafas panjang. Pak Naim berpandangan dengan anak buahnya penuh heran setengah takjub. Apa pasal?

Ya karena malam itu kami memang berniat menawarkan produk yang isinya sama persis dengan kemasan obat yang dipegang dokter tadi. Pucuk dicinta, ulampun tiba!  

Akhirnya tengah malam itu kami berhasil menjual 50 box produk baru kepada dokter tersebut. Sebuah prestasi luar biasa untuk daerah luar Jakarta dalam hal penjualan pertama sebuah produk baru. Apakah ini sebuah kebetulan? Tentu tidak!  Saya yakin Anda semua bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Saya yakin sampai sekarang Pak Naim juga masih heran dengan peristiwa itu.
***
Baiklah, saya akan bongkar rahasia 'kebetulan' yang terjadi tengah malam itu.  Dalam NLP ada sebuah teknik penyusunan GOAL yang disebut WFO atau Well Formed Outcome  (Hasil yang direncanakan dengan matang). WFO memiliki setidaknya 5 syarat yang memungkinkan tercapainya sebuah GOAL, yaitu:

  1. Goal perlu disusun dengan kalimat yang berstruktur grammar positif, alias absen dari kata ‘tidak’ dan ‘jangan’.
  2. Goal perlu bisa dimengerti oleh indra, makin banyak indra bisa mengerti seperti apa goal yang diharapkan, maka makin mudah pikiran untuk mendapatkannya. Jadi goal minimal bisa dihayati 3 dari 5 indra: secara Penglihatan, Pendengaran, Perabaan/Perasaan, dan lebih baik lagi Penciuman atau Pencecapan. Dengan membuat goal dimengerti indra, maka pikiran menjadi mengerti, apakah sudah tercapai, atau belum goal itu?
  3. Goal perlu mempertahankan niat baik (intensi positif) yang ada di perilaku lama (yang tadinya menghambat goal itu).
  4. Goal perlu ekologis, alias tidak melawan sistem keseimbangan internal diri sendiri dan terhadap kehidupan sekitarnya.
  5. Tentukan langkah awal. Goal yang bisa diinisiasi (diawali) dan dijaga oleh pemilik goalnya, akan lebih mudah didapatkan, dari pada goal yang (tercapai atau tidaknya) sangat digantungkan dari pihak luar.

Nah, malam itu ketika mendengar deskripsi dari tim Padang mengenai pencapaian sales produk baru mereka dan keinginan untuk menawarkan produk baru tersebut kepada dokter potensial di Padang, saya langsung membuat sebuah WFO, yang tentunya mengikuti 5 kaidah di atas. Saya langsung membuat sebuah kalimat afirmatif, 

"Saya yakin, atas ijin Allah saya mampu meyakinkan dokter Fulan agar bersedia membantu meresepkan/membeli produk 'A' malam ini dan seterusnya"

Tanpa perlu saya jelaskan, tentunya Anda semua paham bahwa kalimat afirmasi itu adalah positif secara gramatikal. Dan kami bisa membayangkan ketika produk itu diresepkan maka ada sebuah kepuasan tersendiri serta kebangaan karena berhasil memecahkan telur sebuah produk baru. Kaidah 1 dan 2 sudah terpenuhi. Kaidah 3 dan 4 pun pastinya terpenuhi karena niat baik kami sebagai marketer kesehatan adalah tersedianya preparat yang bagus dan terjangkau oleh masyarakat. Belum lagi niat baik mendapatkan insentif kalau penjualan kami mencapai target, hehehe

Dari sisi ekologis, tentu sudah sangat ekologis, karena kalau sampai target tak tercapai bisa jadi kami mendapatkan sanksi dari HO.
Sekarang tinggal lakukan langkah awal sebagai pemenuhan kaidah ke 5. Saya mengkombinasikan teknik afirmasi dan visualisasi. Ketika mengantri di depan ruang praktek dokter, inilah rahasia yang saya simpan selama ini:

  1. Baca doa ini: Robbisy-roh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wah lul 'uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. 'Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku'.
  2. Setelah menarik nafas dalam kira-kira 3 kali, saya membayangkan bahwa saya sudah berada di hadapan dokter, dan saya ketuk pintu hatinya (sambil saya menggerakkan telunjuk kanan yang ditekuk seolah sedang mengetuk pintu) sambil berkata: "Assalamu alaikum Dokter Fulan, saya Hari Dewanto dengan ikhlas saya mengetuk hati Dokter, dengan ijin Allah sudilah kiranya Dokter Fulan membantu saya untuk meresepkan produk 'A' ini untuk malam ini dan seterusnya"
  3. Ikhlaskan. Lupakan semua beban. Masuk saja ke ruang praktek dokter dengan santai dan nyaman, seolah tidak ada target yang dikejar. Datang berkunjung dengan ikhlas untuk menjalin silaturahmi. 

***
Itulah sebenarnya yang terjadi tengah malam itu sahabatku, namun Anda jangan percaya cerita saya sebelum Anda membuktikan sendiri teknik ampuh ini. Dan hebatnya teknik ketuk pintu hati ini bisa digunakan untuk hal lain diluar urusan selling skill. Ketuklah hati atasan, bawahan, pasangan, anak, siswa, guru Anda dengan teknik ini, dan buktikan hasilnya.

Kalau ada hal lain yang ingin diketahui silakan hubungi saya di nomor 08119487572

Semoga bermanfaat

Tabik

- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...