POSTINGAN POPULER

Sunday, February 12, 2017

Rahasia Pawang Hujan

Januari 2014, hujan nyaris tiap hari mengguyur bumi. Begitu pula ketika kami mengadakan meeting nasional di Komplek Candi Prambanan waktu itu. Hampir seminggu kami berada di Yogyakarta dan setiap hari pula hujan menyapa ibu pertiwi, khususnya ketika menjelang malam. Padahal acara puncak akan dilangsungkan di pelataran candi Prambanan, open air untuk melepas ribuan lampion terbang.

Pada hari H puncak acarapun hujan justru datang dari pagi dan sepanjang hari. Panitia lapangan mulai kasak kusuk untuk mencari pawang hujan. Namun salah seorang Direktur justru menghubungi saya dan berdiskusi mengenai fenomena alam yang sebenarnya sangat lumrah ini.
"Saya dengar Anda bisa menghentikan hujan?", tanya beliau to the point.
"Ah, siapa yang bilang Bu?",  saya mencoba menghindar pengakuan itu.
"Banyak kok yang cerita, kalau sedang acara jurit malam dan outbound, lebih sering lapangan kita kering meskipun musim penghujan. Bahkan ada yang pernah cerita kalau tiba-tiba bulan muncul di tengah malam, padahal sebelumnya hujan begitu deras", sambung beliau lagi
"Mungkin itu kebetulan Bu",  saya masih mencoba mengelak kebetulan-kebetulan itu
"Kebetulan itu cuma sekali. Kalau berulang ya pasti ada penjelasan yang masuk akal. Lagi pula Anda sendiri yang sering bicara di kelas training Anda, bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Sudah deh, tidak perlu menyangkal lagi kelebihan Anda tadi. Kita sedang memerlukan langit cerah malam ini agar prosesi pelepasan lampion yang akan membawa terbang visi perusahaan kita terlaksana. Saya percaya Anda mampu melakukan itu. Please", kata beliau setengah kehilangan akal sehatnya.
"Baik Bu, akan saya coba berkomunikasi dengan alam. Tapi paling lama 1 jam ya Bu. Cukup khan?"
"Ok. Deal...!"

***

Rombongan bis yang membawa peserta annual conference dari hotel menuju komplek Candi Prambanan mulai berdatangan,  saya ikut di bis terakhir. Sepanjang perjalanan menuju Prambanan,  hujan turun dengan luar biasa derasnya,  seolah meruapkan kerinduannya pada tanah, ranting dan dedaunan. Bahkan pepohonan di sepanjang komplek candi bergoyang kuat ke kiri dan ke kanan menahan cumbuan kasar sang bayu. Saat itu waktu sudah menjelang maghrib. Dari dalam bis saya mulai melakukan ritual berkomunikasi dengan alam.  Entah kebetulan atau karena semesta mendukung, namun ketika peserta mulai turun dari bis, hujan mulai mereda. Bisa dibayangkan kalau hujan masih sederas tadi, maka payungpun tak akan mampu melindungi tubuh para peserta dari semburan hujan plus angin kencang tadi. Bahkan ketika bis yang saya tumpangi mulai parkir di dekat tenda, hujan tinggallah rintik-rintiknya. Kami bisa turun menuju ke tenda tanpa payung. Masya Allah.

Selepas maghrib, rangakaian acara seremonial dimulai dengan makan malam. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas tadi. Dan sampai mendekati  jam 8 malam, hujan masih turun. Padahal prosesi pelepasan lampion akan dilakukan antara pukul 8-9 malam. Ibu Direktur yang berdiskusi dengan saya siang tadi mulai gelisah dan bertanya lagi, "Kok masih hujan Pak?" "Sabar Bu, masih ada waktu beberapa menit khan? Biarkan alam menuntaskan hajatnya dulu", jawab saya menenangkan.

Dan luar biasanya begitu MC mengumunkan bahwa acara selanjutnya adalah pelepasan lampion, hujan tiba-tiba berhenti. Seolah sudah puas menggoda ibu pertiwi seharian ini, setetespun tak ada lagi air dari langit. Semua peserta keluar dari tarub, dan mulai membentuk kelompok kecil, dimana satu kelompok beranggotakan 4 orang dan akan menerbangkan satu lampion. Seperti anak kecil mendapatkan mainan baru para peserta berlomba menaikkan lampion mereka. Ada yang langsung berhasil naik, ada yang mengambang saja dan ada yang terbakar dan jatuh. Namun semua senang dengan pengalaman baru ini. Tak terasa nyaris satu jam waktu yang diperlukan untuk menerbangkan semua lampion. Lagu We Are The Champions dari Queen mulai mengalun. MC sudah mengucapkan kata perpisahan, namun para peserta itu masih asyik menatap langit. Takjub dengan kerlap kerlip ribuan lampion yang mirip kunang di pesawahan malam hari.

Saking gaduhnya suasana malam itu, saya berkata nyaris berteriak ke Ibu Direktur tadi, "Time's Up" sambil setengah berlari menuju tarub. Agak terlambat beliau menyadari kode saya, karena masih takjub dengan cerahnya langit malam itu yang diakibatkan oleh pendar nyala lampion. Padahal mendung hitam sudah mulai berarak lagi menaungi komplek candi Prambanan. Dan benar saja, hujan mulai turun. Rintik, pelahan dan mulai membesar. Para pesertapun, termasuk Bu Direktur,  berhamburan menyelamatkan diri. Saya sudah aman berada di dalam tarub!
***

Sidang pembaca yang budiman, tentu Anda penasaran, apa benar saya bisa menghentikan hujan? Jawabannya adalah tidak benar!  Yang mampu mengatur alam ini hanyalah Allah. Namun kalau pertanyaan Anda adalah apakah cerita di atas itu nyata? Jawabannya adalah nyata. Lho kalau begitu artinya saya bisa menghentikan hujan dong? Tidak bisa. Seperti yang saya katakan kepada Ibu Direktur pada cerita di atas, saya  hanya mencoba berkomunikasi dengan alam. Seperti perintah pertama yang turun dalam Alquran, yaitu Iqro. Bacalah!  Kenalilah diri kita, kenalilah lingkungan kita, kenalilah Tuhan kita.

Maka saya mencoba menyelaraskan rasa saya dengan rasa sang alam. Ketika kita berhasil menyelaraskan hati kita dengan kondisi alam, maka atas ijin Allah, alam akan mendengarkan kebutuhan kita saat itu.
Sering kita mendengar, melihat atau bahkan menggunakan jasa pawang hujan dengan segala ritual yang aneh-aneh. Ada yang menggunakan lidi, bawang merah dan cabe merah. Ada yang memanfaatkan mangkok jago dibalik, bahkan ada pula yang perlu persembahan seperti ayam hitam atau kelinci putih yang cenderung mengarah ke syirik. Semua itu rela dilakukan demi lancarnya sebuah acara.   Lupakah Anda semua bahwa lancar atau tidaknya sebuah acara tidak tergantung pada manusia, namun pada Allah. Maka minta tolonglah hanya kepada Allah.

Sementara saya cukup menggunakan teknik SPIRITUAL. Kalau Anda mengira saya menggunakan tenaga spirit atau mahluk astral, Anda salah. Karena makna spiritual di sini adalah SEPI dari RITUAL! Ya, saya semata menggantungkan pinta saya kepada Sang Pengatur Alam. Tanpa pernak dan pernik apapun. Kalaupun ada ritualnya, semuanya saya lakukan setelah saya mendalami makna Iqro tadi, sbb:

  1. Alam sudah punya aturan main sendiri, jadi ikuti aturan mainnya. 
  2. Manusia dikaruniai kekuatan terbesar yaitu pikiran, maka manfaatkan
  3. Selaraskan pikiran kita dengan aturan alam
  4. Serahkan semua hasil kepada Allah
***
Sidang pembaca yang budiman, saya akan jelaskan satu persatu tahapan menahan hujan di atas


A. Aturan Alam
Hujan akan turun ketika tingkat kondensasi yang terjadi di awan sudah maksimal, maka ketika hal itu terjadi tidak akan ada kekuatan yang mampu menahannya. Sama yang terjadi pada pria dewasa, ketika tingkat kondensasi yang terjadi di kantung spermanya sudah maksimal, maka pagi hari juga akan terjadi hujan, hehehe. Yang bisa kita lakukan adalah menggeser gumpalan awan tadi ke daerah lain. Dan karena hukum alam tetap akan berlaku maka waktu menggeser awan tadi perlu kita batasi agar alam ini tetap ekologis.

B. Pikiran Manusia
Ketika kita berhasil mengakses gelombang pikiran tertentu (alfa dan atau theta) ternyata kita memiliki kemampuan tertentu yang luar biasa. Salah satunya adalah mampu berkomunikasi dengan alam. Bahkan penelitian membuktikan ternyata God Spot atau Titik Ketuhanan manusia juga terletak di gelombang theta. Artinya ketika berada dalam gelombang theta,  komunikasi kita dengan Tuhan sedang dalam kondisi puncak. Ibarat HP, sinyalnya sedang mentok. Dalam kondisi ini maka kemungkinan besar pinta kita akan diijabah.
Yang tidak diketahui orang banyak bahwa mengakses gelombang alfa/theta itu sangatlah mudah. Cukup Anda hening sesaat, berniat khusyuk, sambil menarik nafas pelahan kemudian keluarkan dari mulut juga pelahan. Lakukan beberapa kali maka Anda akan merasa sangat hening. Meski banyak suara di sekitar Anda, namun anehnya seolah tak terdengar oleh Anda. Hening dan nikmat. Itulah gelombang pikiran bawah sadar. Itulah gelombang pembuka komunikasi dengan alam semesta.

C. Koneksi pikiran, tubuh dan alam
Seringkali kita mendengar istilah visualisasi, namun apakah kita paham makna dan kuasanya? Ya, visualisasi adalah membayangkan sesuatu yang kita harapkan terjadi di masa yang akan datang. Pelbagai buku pemberdayaan diri menuliskan bahwa kekuatan visualisasi ini sedemikian hebatnya. Meski ada pula beberapa praktisi yang apatis dan cenderung mencemoohnya, namun saya memilih untuk percaya berdasarkan pengalaman saya.
Maka ketika ingin berkomunikasi dengan alam tadi, saya mempelajari dulu posisi awan hitam ada di sebelah mana. Kemudian tentukan peluang untuk menggeser ke arah yang masih lumayan kosong awan hitamnya. Kalau Anda nekat menggeser awan hitam ke sebuah tempat yang justru sedang pekat-pekatnya dengan rombongan awan hitam, itu sama saja Anda sedang beradu kuat dengan alam.

Kemudian saya akan melakukan visualisasi pergerakan awan hitam tadi, sembari melakukan sedikit ritual menggerakkan tangan seolah sedang menyangga sebuah bejana, dan kemudian menggeser bejana tadi ke arah lain yang sudah kita tentukan sebelumnya. Selain visualisasi pikiran, saya juga akan membisikkan perintah agar awan hitam itu bersedia bekerja sama. Untuk bergeser dalam waktu tertentu sesuai kebutuhan kita. Jangan pernah bermain-main dengan alam karena seperti saya tuliskan di atas, alam punya aturan sendiri.

D. Kekuatan Doa
Sebagai manusia kita hanyalah bisa berusaha, namun penentu semua hasil adalah Allah. Dan karena sudah memahami kekuatan gelombang teta, kita akan berdoa setelah yakin kondisi pikiran kita berada di gelombang theta. Ini doa yang biasa saya panjatkan:
  •  Al Fatihah
  • Yaa Allah, Engkau tahu hamba mempunyai hajat kali ini, yaitu...... (sebutkan hajatnya). Maka hamba mohon pindahkan hujan itu ke arah....  (sebutkan) selama.... (sebutkan).  Hamba sudah berjanji kepada seseorang agar atas IjinMu acara mereka akan lancar terang benderang. Masak Engkau rela hamba mendapat malu seandainya hujan tetap turun di daerah itu. Hanya kepada Engkau hamba mohon pertolongan, maka tolonglah hambaMu ini. 
  • Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiraabi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari. Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari, No. 1014) Aamiin


Semoga bermanfaat

Tabik
- haridewa -

No comments:

Artikel Unggulan

ENTER

Sudah hampir 2 tahun ini masyarakat Purwakarta dan sekitarnya dimanjakan oleh pertunjukan airmancur menari yang dihelat setiap malam minggu ...