POSTINGAN POPULER

Wednesday, January 25, 2017

Customer Lifetime Value (CLV)

Mungkin ada beberapa di antara Anda yang baru kali ini mendengar istilah CLV ini. Memang apa sih CLV dan apa pula kehebatannya?

Sebelum kita membahas CLV ini, ijinkan saya bercerita mengenai pengalaman saya menginap di hotel PCP Trawas pekan lalu dalam rangka pelatihan Beyond The Limit ke sebuah perusahaan furniture Gresik. Bukan suasana pelatihan yang ingin saya ceritakan melainkan suasana keakraban antara tamu dan pengelola hotel tersebut. Meski ini adalah kali pertama saya datang ke hotel tersebut namun saya bisa merasakan keakraban yang langsung dibangun oleh Pak Yono sebagai Manager dan jajaran di bawahnya. Sekali saya mengenalkan nama saya maka beliau, bell boy dan crew hotel lain termasuk chef (semua berseragam batik dan penuh keramahtamahan khas jawa) mampu menyapa saya lengkap dengan menyebutkan nama saya. Ada rasa bangga menyelinap relung hati ketika dikenali seperti itu. Serasa kayak artis gitu 😊.
Ah mungkin ini dilakukan oleh punggawa hotel itu karena posisi saya sebagai trainer saat itu memang seperti bintang yang sedang melakukan sebuah konser.

Namun tunggu dulu, ternyata perlakuan serupa ternyata juga dialami oleh beberapa tamu yang kebetulan sedang makan di restaurant hotel. Bahkan ada seorang tamu yang membawa anak sampai berbincang penuh kerinduan dengan ibu juru masak. Semua penuh ketulusan dan tanpa basa basi. Ternyata mereka memang tamu langganan di hotel tadi.

Pada waktu jam makan, meski dengan tatanan prasmanan, namun beberapa crew hotel selalu menawarkan bantuan apakah perlu tambahan air putih atau mau memesan teh. Bahkan ibu juru masak yang baik hati itu selalu sigap membawakan buah ke meja kami.   Ketika saya puji masakannya yang memang cocok di lidah jawa saya, Ibu juru masak tadi justru balik memuji saya, "Ah masakan saya biasa saja. Pak Hari merasa nikmat karena kepandaian Pak Hari bersyukur saja" Hmm sebuah pelayanan yang beyond the limit dari sebuah hotel yang sederhana di lereng gunung Penanggungan.
***

Saya jadi teringat warung tegal di belakang gedung Talavera di daerah Jakarta Selatan. Meski sederhana namun warung yang menawarkan berbagai hidangan murah meriah tadi selalu dipadati pengunjung pada waktu makan siang. Ibu warung itu juga sangat ramah dan penuh perhatian. Selain selalu tersenyum ketika melayani pelanggan, dengan suka rela dia akan membuatkan sambel dadak ketika sambel goreng persediaan warung sudah habis, meski sambel dadak sebenarnya tak tercantum pada daftar menu. Seringkali mendekati jam makan siang saya menerima sms dari Ibu warung itu, 'Mas Hari, ada pete bagus-bagus di warung'
Ya, ibu warung tadi hafal benar menu kesukaan saya. Dia bahkan menyimpan nope saya agar bisa memberi tahu keberadaan menu kesukaan saya tadi. Warungnya sederhana. Ibu penjualnya sederhana. Menunya juga sederhana, namun pelayanannya melebihi harapan saya sebagai pelanggan.
***

Ketika menjadi training manager di sebuah perusahaan farmasi beberapa tahun yang lalu, saya sempat menerapkan teknik value per call. Teknik ini sangat sederhana, karena hanya menentukan nilai rupiah setiap kunjungan ke dokter yang dilakukan oleh para medical representative (MR). Dengan membayangkan bahwa setiap kunjungan mereka akan menghasilkan sejumlah rupiah tertentu maka para MR akan komit untuk menuntaskan kewajiban kunjungan harian mereka.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku yang membahas mengenai paradigma baru dalam pelayanan pelanggan yang dulu cukup pelayanan bermutu menuju pelayanan prima (service excellence/SE). Ternyata salah satu komponen penting dalam SE adalah penentuan harga satu pelanggan. Cara menghitungnyapun sangat sederhana. Kita tinggal mendata kebiasaan pelanggan itu bertransaksi dengan perusahaan kita. Seberapa sering mereka bertransaksi dan seberapa besar. Dalam kurun waktu potensial berapa tahun pelanggan tadi bakal melakukan transaksi.

Contoh:

Seorang pelanggan warung Anda yang setiap kali makan rata-rata menghabiskan Rp 100.000.
Dalam sebulan dia bisa jajan minimal 4 kali. Umurnya sekarang 35 tahun, dengan harapan tetap jajan di tempat Anda sampai usia 70 tahun, maka berikut perhitungan harga pelanggan tadi:

Rp 100.000 x 4 x 12 = Rp 4.800.000/th
Harapan jajan : 70 th - 35 th = 35 th
Rp 4.800.000 x 35 = Rp 168.000.000, -

Wow, ternyata seorang pelanggan dengan kebiasaan sederhana itu memiliki value atau nilai yang fantastis bagi kelangsungan usaha kita. Belum lagi kalau mereka mengajak kawan atau keluarga. Bisa dua atau tiga kali lipat angkanya.

Itulah yang dimaksud dengan Customer Lifetime Value atau harga seorang pelanggan. Dengan menyadari  harga seorang pelanggan maka seluruh awak perusahaan akan serius dalam memperlakukan pelanggan tadi. Mereka akan bahu membahu memberikan pengalaman tak terlupakan kepada semua pelanggan tanpa pandang bulu sehingga kemudian tercapailah apa yang disebut dengan Delighted Customer.
***

Ternyata meski jauh dari hiruk pikuk retorika service excellence, hotel PCP dan warteg belakang Talavera tadi telah paham secara alami pentingnya seorang pelanggan bagi kelangsungan usaha mereka. Mungkin secara bawah sadar mereka telah menghitung berapa harga saya, maka mereka memperlakukan saya bak orang penting. Dan mereka berhasil karena meski sudah tidak berkantor di Talavera lagi, sesekali saya masih mampir ke warung itu. Dan tentunya kalau ada training di Trawas lagi saya akan memilih PCP lagi sebagai venuenya.

Anda boleh japri saya bila tertarik untuk memahami CLV lebih dalam lagi.

Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Trainer Service Excellence
WA 08179039372

Monday, January 23, 2017

Bahagia Itu Sederhana

Perjalanan ke Surabaya dalam rangka memberikan pelatihan kepada karyawan PT Gloster siang ini menyisakan beberapa perasaan dalam hati saya. Perasaan pertama adalah senang. Ceritanya sederhana saja meski awalnya sempat merasa kesal. Apa pasal? Ketika sampai di seat nomor 32 F, kursi dengan nomor yang tertera di kursi saya, ternyata sudah ada seorang Bapak setengah baya yang duduk di sana. Saya cek lagi nomor yang tertera di tiket saya, dan saya tidak salah. Saya tanya flight attendance dan ternyata memang pesawat ini tujuan Surabaya.

Saya sudah siap memasang taring karena kesal dengan ketidaksopanan bapak yang menempati seat saya. Seat itu adalah emergency seat yang memiliki jarak lumayan luas dengan kursi di depannya. Dan saya memang selalu memesan khusus seat saya setiap penerbangan. Jadi seat itu bukan sebuah kebetulan melainkan karena memang pesanan. 

Namun ketika saya baru mau menanyakan nomor kursi Bapak tadi, dia sudah duluan berkata, setengah memohon untuk duduk di seat saya tersebut. Alasannya sederhana, istri dan anaknya berada sebaris dengan dirinya. Sementara seat dia berada di 32 B, seat yang berada di tengah dengan jarak kursi sempit. Seat yang paling saya hindarkan. Kalau dalam kondisi biasa, saya pasti akan langsung meradang dan tidak mau mengalah. Namun ini hari Jumat, penghulunya semua hari. Ini kesempatan emas untuk berbuat baik.  Bapak tadi benar-benar memohon untuk bertukar tempat duduk dengan saya. Istri dan anaknya juga ikut meminta agar saya bersedia bertukar tempat. Saya jadi membayangkan kalau hal ini terjadi pada saya dan keluarga saya. Bisa jadi ini penerbangan pertama mereka. Atau Bapak tua ini mengidap penyakit sehingga perlu dekat dengan keluarganya dan sejuta bisikan malaikat muncul di antara kedua telinga saya sebagai alasan untuk mengikhlaskan seat pesanan saya tadi. Setelah menarik nafas sejenak, dan justru Bapak tadi mau pindah, saya katakan, 'Baik Pak, silakan Bapak tetap di kursi itu, dan saya yang akan duduk di kursi Bapak'

Meski tak berlebihan, tergurat kegembiraan pada wajah bapak tua dan keluarganya. Anehnya justru di sinilah kebahagiaan yang tanpa disangka-sangka tiba-tiba merembesi separuh kalbuku. Ah, ternyata Bahagia itu sederhana.
***

Perasaan kedua, kesal meski sebelumnya sempat senang. Apa pula pasal? Mendekati penutupan pintu pesawat,  seorang pramugari meminta penumpang di sebelah kanan saya untuk pindah ke barisan depan. Ah, akhirnya saya terbebas dari kursi himpitan. Saya kemudian pindah ke kursi yang ditinggalkan tadi. Belum sempat bernafas lega, tiba-tiba penumpang tadi kembali ke kursinya. 'Maaf Mas, saya disuruh balik ke sini oleh pramugari, karena penumpang yang punya kursi ternyata datang meski terlambat'

Hadeh, saya terjepit lagi deh!  Dan disini saya merasa KESAL. Masak dalam sekali penerbangan mesti terusir dua kali!  Yang lebih membuat kesal adalah seharusnya pramugari tadi tidak boleh memindahkan penumpang seenak udel sendiri. Tentu ada prosedur bagaimana menangani penumpang yang terlambat. Atau bagaimana mengisi kursi yang kosong. Dan sejuta bisikan setan mulai menyusupi kedua telingaku. Seharusnya, seyogyanya, sesolonya, sesurabayanya..blablabla
Halah,....

Untung saya segera tersadar bahwa semua peristiwa yang terjadi pada diri kita tidak memiliki makna apapun. Kitalah yang memberikan makna sehingga peristiwa itu menjadi menyenangkan, menyedihkan dlsb. Mungkin saja mba pramugari tadi masih baru sehingga tidak tahu prosedurnya. Atau memang seperti itulah SOPnya, karena meski pernah memberi pelatihan di institusi mereka,  namun saya memang tidak pernah tahu prosedur mereka. Dan kini miliaran bisik malaikat kembali memenuhi kedua telinga saya.

Lho, bukankah ini materi inti yang akan saya bawakan besok untuk karyawan PT Gloster. Mengenai persepsi dan prestasi.  Tentang realitas internal dan realitas eksternal. Masak saya sebagai trainer tidak bisa mempraktekkannya. Tarik nafas pelahan. Whooooosaaahhh...
Tenang. Bahagia

Yaa, ternyata bahagia itu memang sederhana

Tabik

-haridewa-
(di ketinggian jelajah 30 ribu kaki)
Professional Hypnotherapist
Happiness Coach
WA 08179039372

Monday, January 16, 2017

Berat Pah

'Berat Pah... ', selalu itu yang dikeluhkan anak saya nomor dua kalau saya minta untuk mengangkat dus  air mineral gelas dari mobil ke dalam rumah. Maka saya paling sering meminta anak bungsu saya yang akan mengatakan, 'Ah segini sih enteng Pah'.  Atau terkadang saya juga minta anak sulung saya karena kalau dia akan berkata, 'Sedeng sih Pah'

Lho kok bisa beda gitu responnya, apa dusnya berbeda ukuran? Tentu tidak!  Dusnya sama. Merknya juga sama. Yang membedakan adalah ukuran badan dan jenis kelamin anak saya. Anak saya yang pertama perempuan, kelas 3 SMA dengan tinggi 155 cm dan berat 55kg, anak kedua juga perempuan kelas 1 SMA dengan tinggi 155 cm dan berat 40 kg, sementara anak bungsu saya laki-laki kelas 6 SD dengan tinggi 160 dan berat 60 kg. Anda bisa membayangkan situasinya khan, kenapa anak kedua saya selalu keteteran ketika harus mengangkat dus air mineral tadi? Ya, responnya terhadap berat dus air mineral tadi tidak ditentukan oleh perkalian massa dan gaya tarik bumi seperti yang pernah diteorikan oleh Sir Isaac Newton, melainkan oleh sensasi beban yang menggelayuti badan mungilnya. Berbeda pula sensasi yang diterima oleh anak sulung dan anak bungsu saya.
***

Dalam NLP ada sebuah presuposisi yang berbunyi 'The Map is not the territory',  apa maksud dari peta bukanlah wilayah sebenarnya ini?  Untuk menjawab pertanyaan ini saya justru akan mengajak Anda memahami proses sebuah informasi masuk ke pikiran kita. Ibarat sebuah kamera,  maka panca indera kita merupakan lensa masuknya informasi tersebut. Kalau lensa kamera hanya mampu menangkap gambar dan suara saja maka lensa manusia lebih lengkap lagi karena akan mampu menangkap sensasi gambar (visual), suara (auditori), rasa/raba (kinestetik), bau (olfaktori) dan pengecapan (gustatori). Meskipun kita sudah memiliki lima lensa penangkap informasi yang biasa disingkat VAKOG ini, namun sensasi gambar, suara, rasa, bau dan kecap yang diterima manusia ternyata bervariasi dan senantiasa mengalami deviasi. Contoh paling gampang dan nyata, apakah Anda pernah men-setting ulang tingkat keterangan cahaya gadget Anda setelah dipinjam oleh anak Anda? Atau mengatur volumenya? Kalau pernah atau bahkan sering, itu manandakan bahwa tingkat penyerapan informasi melalui mata dan telinga Anda sudah berbeda dengan anak Anda. Gadgetnya sama, ukuran aturan cahaya dan suara sama,  namun sensasi yang Anda terima berbeda dengan anak Anda. Atau pernahkah suami atau istri Anda mengatakan bahwa minuman bikinan Anda terlalu manis atau kurang manis? Dengan takaran gula yang sama, nyatanya Anda juga mendapatkan sensasi yang berbeda dengan pasangan Anda. Itulah maksud dari Peta itu bukanlah wilayah yang sebenarnya.
***

Maka kalau tiba-tiba Anda mengeluh, 'Aduh berat sekali beban hidupku ini', itu sebenarnya memang beban hidup Anda sangatlah berat atau sensasi yang Anda terima saja yang menyiratkan beban hidup itu begitu beratnya?

Ah, tentunya Anda lebih cerdas dari saya. Saya tidak perlu menggurui Anda untuk mengetahui jawabannya bukan?

Semoga bermanfaat
Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Coach
WA 08179039372

Thursday, January 12, 2017

HTM (Hidup Tanpa Marah). Mungkinkah?

Selama ini kita mengenal akronim ini dengan Harga Tanda Masuk, namun kali ini saya mengajak Anda untuk melihatnya dari perspektif lain yaitu Hidup Tanpa Marah. HTM? Mungkinkah itu? Mungkin? Tidak mungkin? Ya, Anda berhak untuk menjawab mungkin ataupun tidak. Kalau saya sendiri akan memilih TIDAK MUNGKIN!  Lho kok?
Sebelum saya jelaskan pendapat saya tadi, saya akan mengajak Anda untuk sedikit memahami tentang emosi kita. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan emosi? Emosi adalah suatu keadaan atau peristiwa kejiwaan yang dialami manusia baik senang atau tidak senang dalam hubungannya dengan sesuatu di luar dirinya. Namun seringkali kita salah kaprah dalam memahami emosi. Berikut beberapa mitos keliru mengenai emosi:
  • Emosi itu ada yang baik ada yang jelek.
  • Emosi sama dengan MARAH. Emosi bukan kemarahan, namun marah merupakan bagian dari emosi kita. 
  • Kita terlahir tanpa emosi. Lingkungan yang membentuk emosi kita
  • Emosi itu warisan, kita lahir dengan emosi lembut atau kasar tanpa ada peluang untuk berubah

Menurut Paul Ekman, seorang pakar psikologi manusia dan micro expression dari Amerika, emosi manusia dibagi menjadi 5, yaitu: Senang yang berlawanan dengan Sedih, Cinta yang berlawanan dengan Marah, dan Takut yang berada di antara Marah dan Senang.
Dalam kehidupan kita, emosi sangatlah diperlukan karena merupakan bagian dari perangkat diri non fisik bersama dengan pikiran dan kesadaran. Emosi berfungsi sebagai pembangkit energi, sebagai alat perjuangan untuk bertahan hidup, penguat pesan atau informasi, dan sebagai penyeimbang hidup. Oleh karena itu kita tidak mungkin tanpa emosi, maka itulah alasan saya mengatakan bahwa kita tidak mungkin hidup tanpa marah. Dalam satu dan lain hal kemarahan diperlukan, sebagai penguat pesan bahwa kita serius, sebagai alat untuk survival bahkan mungkin sebagai penyeimbang hidup. Yang tidak kita perlukan adalah MARAH-MARAH.

Lho apa beda antara marah dengan marah-marah? Jelas sangat berbeda! Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa emosi memiliki fungsi untuk bertahan hidup, menguatkan pesan atau penyeimbang kehidupan. Maka kita boleh marah untuk menyatakan salah satu dari fungsi tersebut. Kita boleh marah dalam kondisi yang tepat, kepada orang yang tepat dan dalam porsi yang tepat pula. Sementara bila semua takaran tadi sudah terlewati maka akhirnya kita hanya akan marah-marah. Melihat anak buah melakukan kesalahan, Anda marah. Jaringan internet down, Anda marah. Pulang ke rumah, melihat rumah berantakan, marah lagi. Mau makan, lauknya tidak enak, marah. Mau tidur AC rusak, marah lagi. Saking seringnya marah, maka akhirnya hal ini sudah bukan menjadi sebuah emosi lagi melainkan menjadi attitude (sikap). Kalau kita ingat bahwa kita selalu punya pilihan lain selain marah, maka hidup kita akan dipenuhi rasa cinta (bukankah lawan dari marah adalah cinta? )
Kalau HTM tidak mungkin kita lakukan, mungkinkah kita Hidup Tanpa Marah-Marah (HTM2)? Sangat mungkin! Bagimana caranya? Baik, marilah kita ikuti ilustrasi berikut ini:
Saya ingin bertanya kepada Anda, kenapa ketika telepon Anda berdering kok Anda mengangkatnya? Karena deringnya yang nyaring dan merdu? Karena yang menelepon adalah orang penting? Karena tidak mau berisik? Atau karena hal lain?
Pernahkah suatu saat Anda tidak mau mengangkat telepon tersebut? Apa alasan Anda? Karena malas? Karena takut? Atau karena alasan lainnya?
Kalau jawaban pertanyaan pertama dan kedua ada dalam pilihan di atas, itu artinya Anda masih dikendalikan oleh gadget Anda. Karena kalau bagi saya ada jawaban yang sangat sederhana. Saya mengangkat atau tidak sebuah panggilan telepon karena saya MEMILIH untuk melakukan atau tidak melakukannya.
Pada dasarnya semua manusia adalah PENGENDALI untuk dirinya sendiri, maka untuk itulah kita dibekali dengan perangkat emosi dan pikiran. Ketika kita menghadapi sebuah situasi, kita memiliki kekuatan terbesar yang diberikan Allah kepada kita, yaitu kekuatan untuk MEMILIH. Kita bisa memilih untuk sedih atau senang. Kita bisa memilih marah atau cinta, semua lembali kepada diri kita sebagai CONTROL MASTER atas pikiran, emosi dan perilaku kita.
Salah satu cara paling ampuh sebelum kita melakukan sebuah pilihan adalah dengan membuat jeda atau pause sejenak. Kalau saya paling suka dengan cara menghela nafas secara pelahan sampai nafas saya habis, kemudian saya hitung 3 kali (detik), terus saya hembuskan lagi nafas tadi dengan perlahan juga. Biasanya ketika melakukan pause ini kemudian terbersit beberapa pilihan yang bisa saya ambil, yang tentunya memiliki efek yang lebih memberdayakan sendi-sendi kehidupan saya.
Ada beberapa cara ampuh lagi yang bisa dilakukan menggunakan teknik hipnosis dan/atau NLP seperti anchoring, future pacing dll. Kira-kira kalau saya bikin seminar HTM2 siapa saja  yang minat beli HTMnya ya? 

Marah? Boleh. Marah-marah? No way!
Semoga bermanfaat
Tabik
-haridewa-
Professional Hypnoterapist
Happiness Coach
08179039372

Wednesday, January 11, 2017

Eureka


_'Eureka, eureka_', teriak Archimedes ketika merasa berhasil menemukan rahasia tumpahan air dari bath up-nya. Kita semua tentu mengenal sejarah ditemukannya hukum Archimedes tersebut. Seruan yang kurang lebih sama juga disuarakan Sir Isaac Newton ketika berhasil menemukan hukum gravitasi. Kala itu Newton sedang bercengkrama di bawah sebuah pohon apel. Dan ketika angin berhembus agak kencang sebuah apel terjatuh mengenai tubuh Newton.

Persamaan dari kedua kisah di atas adalah timbul sebuah pertanyaan di benak kedua orang jenius tadi. _'Kenapa setiap aku masuk ke bath up kemudian sejumlah air meleber keluar bath up?'_,  pikir Archimedes. Dan,  ' _kenapa setiap benda yang dilempar ke atas akan terjatuh lagi ke bumi, seperti halnya buah apel tadi?'_,  tanya Newton dalam hatinya.

*Keahlian Bertanya*
Kalau kita perhatikan hampir semua proses penemuan di muka bumi ini diawali dengan rasa penasaran sang penemu, maka kemudian mereka akan menanyakannya minimal dalam hati mereka. Kemudian mereka akan mencari tahu jawabannya dengan bertanya ke sana kemari. Terlihat seolah sederhana, namun ternyata keahlian bertanya ini perlu dilatih dan diasah agar pada akhirnya kita menemukan rahasia dari alam semesta ini (baca: menemukan kebahagiaan). Bukan hanya para penemu yang membutuhkan keahlian ini, pebisnis ulungpun ternyata dituntut menguasainya. Meski sederhana namun kita mesti jeli menggunakan kata tanya ini. Salah mengatur sebuah tanya ternyata akan memberikan hasil berbeda yang mungkin tidak kita inginkan.
***

*Why*
Kata tanya mengapa/kenapa biasa digunakan untuk perumusan sebuah situasi. Atau mencari sebab terjadinya sesuatu. Namun kita tidak bisa berhenti pada kata tanya ini.

_"Kenapa aku harus mengalami kebangkrutan ini?"_
_"Mengapa dia pergi meninggalkan aku?"_
_"Kenapa bukan aku yang dipromosikan?"_

Selain perumusan sebuah situasi, apa yang Anda rasakan ketika kata tanya tersebut Anda gunakan?

*When/Where*
Kata tanya ini berguna untuk memposisikan sebuah situasi. Baik posisi secara waktu maupun tempat. Untuk menemukan rahasia alam semesta, kita juga tidak boleh berhenti pada kata tanya ini.

_"Kapan ya pemerintah akan serius berpihak pada rakyat?"_
_"Dimana ya aku harus membeli BBM murah?"_

Selain memposisikan sebuah situasi, apa yang Anda rasakan ketika kata tanya tersebut Anda gunakan?

Silakan Anda perhatikan dan rasakan pengaruh kata tanya di atas? Apakah Anda merasa nyaman? Apakah Anda merasa berdaya? Atau sebaliknya,  Anda merasa tidak nyaman karena hanya menjadi korban (sebuah situasi)?

*What & How*
Maka agar kita merasa berdaya dan kemudian berhasil menguak rahasia alam semesta ini cobalah rumus berikut ini:

*What/How + I + Verb*

_"Apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasi kebangkrutan perusahaan ini?"_
_"Bagaimana aku bisa memberikan kontribusi positif pada pemerintah agar rakyat makin sejahtera?"_
_"Apa yang bisa aku berikan kepada keluargaku agar mereka bahagia?"_
_"Apa yang harus aku lakukan agar aku dipromosikan?"_

Coba Anda buat sendiri kalimat Anda dengan rumus sederhana tadi. Berfokuslah pada kata _Saya_ dan _kata kerja positif_ setelah kata tanya *Apa* dan *Bagaimana*.

Yakinlah bahwa kita akan berhasil menguak rahasia alam semesta ini.
Semoga bermanfaat.

Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Coach
@haridewa91
08179039372

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...