POSTINGAN POPULER

Friday, December 02, 2016

Springbed vs Kapuk

Masih dalam suasana menjelang lebaran. Dan masih berada di kampung yang sama, di rumah yang telah melahirkan aku sekian puluh tahun yang lalu. Sudah hampir seminggu aku berada di rumah ini, dan anehnya setiap bangun pagi badanku terasa remuk redam. Tadinya aku berpikir mungkin ini efek sampingan dari perjalanan mudik yang meski tak begitu macet namun terasa juga penat di badan. Namun setelah nyaris seminggu dan badan masih terasa pegal di sana sini, aku jadi berpikir, something wrong with my body, mungkin ada yang salah dengan persendian tubuhku. Aku coba tanya kepada teman yang memang ahli dalam hal melemaskan otot dan persendian, nyatanya tubuhku baik-baik saja. Tak ada satupun sendi atau urat yang kejepit. Sebagai pembelajar NLP (Neuro Linguistic Programming) dan Hypnosis begitu menyadari bahwa tak ada yang salah dengan tubuhku, maka aku lanngsung mencari tahu ke pikiranku. Kalau bukan tubuhku yang salah, pastilah pikiranku yang tidak sesuai. Seperti sebuah presuposisi dalam NLP, mind and body is connected. Bahwa pikiran dan tubuh kita itu senantiasa terkoneksi. Setelah menelisik lebih jauh ke dalam pikiran dengan cara membandingkan kebiasaan tidurku dulu dan sekarang maka akhirnya tabir penyebab rasa remuk redam itu terkuak sudah.

Meskipun sudah mengalami renovasi di sana sini, namun struktur rumah orang tuaku tidak banyak berubah. Terutama dalam konsep tempat tidurnya. Dipan (tempat tidurnya) masih menggunakan kayu jati atau nangka yang memang terbukti masih kokoh meski telah usang dimakan jaman, dan kasurnya juga tetap mempertahankan kasur kapuk yang secara berkala mesti dijemur untuk membuat isinya mengembang kembali. Waktu dulu, bertahun-tahun aku hidup di rumah ini dan tidur di kasur kapuk itu dengan nyaman saja. Namun setelah aku bekerja di ibu kota  dan seiring dengan kemajuan karirku, maka dari beberapa tahun yang lalu, aku telah berhasil membeli spring bed, yang tentunya kadar keempukannya sangat jauh di atas kasur kapuk. Tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri, ternyata tubuhku sudah terbiasa dimanjakan oleh lentur lembutnya kombinasi busa dan per dalam springbed itu.
Nah, masalah muncul ketika aku pulang dan tubuhku tiba-tiba harus menerima kasur yang terasa laksana Watu Kasur di puncak gunung Sumbing. Kenapa hal ini bisa terjadi, toh dulu ketika masih tinggal di rumah ini tubuhku juga terbiasa dengan kasur ini. Apakah ini menandakan kesombongan diri karena telah merantau ke ibu kota? Sebenarnya bukan itu masalahnya kawan. Ini masalah penyelarasan antara pikiran dan tubuh. Tanpa sadar ketika berangkat tidur, pikiranku masih mendambakan empuknya springbed yang selama sekian tahun belakangan ini telah memanjakan tubuhku, sedangkan kenyataannya yang diterima tubuhku sangatlah berbeda. Jadi rasa remuk redam tubuhku itu sebenarnya bukan karena tubuh yang menerima kasur yang keras, namun karena tidak adanya keselarasan antara pikiran dan tubuh.

Begitu menyadari ‘kekeliruan’ pikiranku tadi, maka menjelang tidur aku selaraskan dulu pikiranku. Setelah memanjatkan doa kepada Sang Penguasa Malam, maka aku bujuk pikiran dan tubuhku untuk berdamai. “Wahai pikiranku, sekarang kita berada di rumah orang tuaku. Rumah dimana selama bertahun-tahun dulu kita tinggal. Dan kita baik baik saja di sini. Lupakan sejenak springbed di rumah, dan terima kasur ini dengan ikhlas. Wahai tubuhku, dulu kita terbiasa dengan kasur ini, sekarangpun kita bisa terbiasa lagi”. Sim salabim, abrakadabra, keesokan harinya rasa remuk redam itu memang sirna. Segar bugar tubuh ini menghirup udara pegunungan yang masih sangat bersih ini.
Sahabatku, tentunya ada di antara Anda yang kemudian berpikir, kenapa tidak aku belikan saja orang tuaku springbed, sehingga selain mereka juga bisa menikmati empuknya springbed itu juga kamar kami mejadi terasa lebih modern. Hehehe, jangan salah kawan, sekali lagi tanpa harus menyombongkan diri kami, orang tuaku sangat mampu kalau Cuma untuk membeli springbed, dan mengganti semua kamar di rumah mereka dengan springbed. Seperti yang telah aku tuliskan di atas, ini masalah penyelarasan pikiran dan tubuh, bukan masalah perbedaan perabot rumah. Buktinya kalau sedang berkunjung ke rumah kami, orang tuaku juga tidak akan bisa tidur di springbed atau sekedar kasur busa. Maka aku akan sediakan kasur kapuk, demi menjaga selarasnya pikiran orang tuaku dan tubuh mereka.

Berkaca pada cerita di atas, marilah bersama kita ingat, pernahkan ketika bangun pagi tubuh kita terasa pegal pegal bin remuk redam. Kalau memang pernah, cobalah diingat, masih adakah ketakselarasan antara pikiran Anda dengan kenyataan yang selama ini Anda alami. Misal, kenyataannya motor Anda Yamaha Mio, namun pikiran Anda mendambakan Kawasaki Ninja milik tetangga Anda. Atau kenyataanya gaji Anda satu juta, namun pikiran Anda selalu mengajak untuk berbelanja dua juta, dlsb. Selama Anda belum berhasil menyelaraskan pikiran dan tubuh Anda, maka rasa remuk redam itu tak kan pernah sirna. Wallahualam bisawab.  Semoga bermanfaat.

Tabik
-haridewa-
masihdikampungyangsegeraakanlebaran

No comments:

Artikel Unggulan

"Liatin Duitnye Tong!"

Moment tujuhbelasan seperti sekarang ini selalu meninggalkan kesan yang mendalam kepada kita yang mampu mensyukuri kemerdekaan bangsa ini. B...