POSTINGAN POPULER

Friday, December 02, 2016

Quantum Leap

Masih ingat kisah Sam Beckett yg diperankan oleh Scott Bacula dalam serial TV Quantum Leap? Dibantu oleh sahabatnya Al, Sam bisa melompati waktu dan berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain demi membantu menyelesaikan masalah pemilik tubuh tersebut. Setiap kali pindah tubuh, maka Sam akan berteriak, 'Oh boy'. Ingat?

Tahukah Anda bahwa setiap orang memiliki kemampuan time leap seperti Sam Beckett? Seperti yang sdh saya jelaskan pada tulisan terdahulu yang berjudul Detektif Virtual bahwa manusia mempunyai kemampuan utk melakukan Past Life Age Regression  (PALR). Quantum leap ini secara teori adalah manifestasi dari teknik kedua PALR yaitu revivification.

Dalam workshop hypnotherapy di Yogyakarta bbrp hari yang lalu ada seorang peserta yaitu Elis Julaiha yg phobia buah pepaya. Baru disuruh membayangkan pepaya saja Elis bisa langsung mual tak keruan. Kalau tak ditahan bisa jadi malah akan muntah.

Awalnya saya gunakan teknik klasik desensitization (yaitu mengatur kadar phobia dengan cara mengatur jarak pepaya dari tubuh klien).

Saya tanya Elis, berapa meter dia merasa nyaman berdekatan dg pepaya. Dia jawab 3 meter. Dan memang dari jarak 3 meter dia tidak terganggu. Ketika pelan namun pasti saya mencoba mendekat, ternyata dia hanya sanggup bertahan pada jarak 1 m 80cm. Setiap saya berusaha maju, Elis menunjukkan gejala mual parah. Terapi pertama kurang sukses.

Saya coba gunakan aplikasi NLP yaitu colapsing anchor. Inti dari teknik ini adalah menciptakan anchor phobia (dlm hal ini adl pepaya), dan anchor terapi (diwakili oleh durian, buah kesukaan Elis) yang kemudian menghantamkan anchor terapi ke anchor phobia sampai sensasi phobianya berkurang dan hilang. Ternyata tips ini kurang sukses juga. Anda mungkin bisa bayangkan apa rasa pepaya dicampur durian. Hoeks, malah membuat saya ikut mual hehehe.

Saya pikir pasti ada pencetus Elis mual setiap melihat pepaya meski dia ingin mencicipinya. Dan pasti ada masa di mana phobia itu tercetus karena menurut ceritanya sebelum SMA dia termasuk penyuka pepaya. Dia tidak ingat kapan dan kenapa mulai mual melihat pepaya.

Nah kalau begitu ini saat tepat untuk melakukan revivification. Dari ceritanya, Elis mengalamai masa SMA di tahun 1994-1996,  maka untuk mengetahui kapan dia mulai mual, saya bawa dia ke tahun 1994.

Menggunakan teknik mesin waktu berbentuk roller coaster, saya bawa Elis ke bulan Januari 1994. Saya minta dia membayangkan pepaya, dan reaksinya biasa saja. Artinya pada saat itu dia masih doyan makan pepaya. Saya lakukan terus teknik ini sampai ketika tiba di bulan Juni, dia sudah merasa mual ketika diminta membayangkan pepaya. Kesimpulannya phobia pepaya yang dialami Elis dimulai pada bulan Juni 1994. Apakah selesai sampai di sini? 

Tentu  tidak, karena kita belum tahu kapan tepatnya rasa mual itu mulai muncul dan kenapa. Maka saya bimbing Elis lebih detail lagi dengan membawanya maju sehari demi sehari di bulan Juni 1994 itu. Tanggal 1-5 Juni semua berjalan lancar, dan ketika memasuki tanggal 6 Juni 1994, Elis mulai merasa mual ketika diminta untuk membayangkan pepaya. Apakah sudah selesai permasalahan ini? Belum, karena saya belum tahu kapan waktu tepatnya dan apa penyebabnya.

Anda pasti sudah tahu apa yang akan saya lakukan. Ya, saya bimbing Elis menelusuri jam demi jam di tanggal 6 Juni 1994 itu, dan akhirnya ketahuan bahwa awal muasal dia merasa mual itu sesaat menjelang maghrib. Sekarang sudah ketemu kapannya. PR selanjutnya adalah mencari tahu kenapanya.

Setelah diberi kuasa untuk menjawab dengan verbal, akhirnya Elis mampu bercerita bahwa hari itu dia disuruh kalau tidak boleh dibilang dipaksa oleh kakaknya untuk menyuapi pepaya yang dihaluskan (seperti jus) kepada keponakannya.

Mungkin rasa kesalnya saat itu karena terpaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya menjadikan kondisi emosi yang sangat intens dibarengi dengan aroma pepaya tumbuk yang menyengat membuatnya merasa mual setiap mengingat buah pepaya di kemudian hari. Ada luka hati yang berimbas phobia di sini. Jreeng, ketemu deh kenapanya.

Akhirnya, alih-alih melakukan terapi pada phobianya, saya malah menganjurkan Elis untuk memaafkan kakaknya menggunakan teknik Forgiveness Therapy.

Aneh bin ajaib, setelah memaafkan kakaknya atas apa yang telah dilakukan sekian tahun yang lalu, Elis merasa sangat bahagia dan lega.

Ketika proses PALR selesai, dan kami mencoba memberikan sepotong pepaya, meski agak ragu namun dia menerimanya dan kemudian memasukkan potongan pepaya tadi ke mulutnya.

Semua itu terlihat seperti adegan slow motion di mata saya. Ruaaar biasa, phobia Elis akan pepaya telah sembuh. Daaan, ini saatnya saya mengatakan: SEMPURNA...

Tahukah Anda bahwa semua orang bisa menguasai ilmu ajaib ini. Silakan hubungi Hari Dewanto di nomor 08179039372.

Semakin Anda menunda, semakin Anda penasaran dg keajaiban apa lagi yang bakal terjadi. Oh boy..!

Tabik

-haridewa-

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...