POSTINGAN POPULER

Friday, December 02, 2016

Kampungku (takjadi) Hilang

Kembali ke kampung halaman tidak lagi sehening waktu waktu dulu dimana suara jangkrik masih bisa terdengar pada malam hari. Sekarang lebih sering terdengar ledakan firework yang selain harganya sangat terjangkau juga penjualannya telah merebak sampai ke pelosok desa yang paling dalam. Ketika mengikuti shalat taraweh di masjid besar desaku, jumlah shaf yang tersisa bisa dihitung dengan sebelah tangan. Beda jauh dengan jamanku kecil dulu dimana jamaahnya membludak bahkan sampai emper masjid. Seiring dengan pembangunan desa dimana banyak minimarket ataupun perbelanjaan fashion yang makin gemerlap membuat pesonanya lebih menyedot penduduk desaku untuk mampir ke sana ketimbang berjamaah taraweh di masjid.

Dalam perjalanan menuju masjid banyak kujumpai baik anak kecil ataupun orang dewasa yang duduk di pojokan toko atau trotoar depan minimarket sambil menunduk dan kedua tangannya sibuk bergumul dengan keypad smartphone mereka. Pemandangan sama yang tak lekang dari ingatanku beberapa puluh tahun yang lalu juga seperti ini, bedanya benda yang mereka tunduki adalah Al Quranul Karim yang dibaca dengan khusyuk. Memang aku telah berhasil pulang kampung, namun aku bingung sebenarnya hilang kemana kampungku itu?

Sore ini dengan menggunakan sepeda motor aku mengantarkan Mak ku berbelanja ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan persiapan lebaran yang tinggal beberapa hari lagi. Setelah semua keperluan berhasil didapatkan kamipun segera kembali menuju ke motor yang di parkir di depan sebuah toko kelontong. Menyadari bahwa ternyata yang membonceng motorku adalah orang yang dikenalnya (karena anak muda itu tidak lagi mengenalku), maka ditolaknya pemberian uang parkir yang disodorkan oleh Mak ku. Tentunya ini merupakan kesalehan anak muda terhadap orang tua yang masih dihormatinya. Namun alih-alih kesenangan karena mendapatkan tarif gratis untuk parkir motor kami sore itu, dengan tegas Mak ku mengatakan bahwa itu adalah hak anak muda itu karena sudah bersusah payah menjaga motor kami, bahkan melindungi jok motor kami dengan sepotong terpal. Maka Mak ku memaksa agar uang yang memang tak seberapa itu diterima oleh tukang parkir tersebut. Sejurus kemudian anak muda itu memberikan uang kembalian atas jasa parkir yang diberikan Mak ku, meskipun Mak ku telah memaksa untuk anak muda itu menerima semua uangnya.
Mengamati fragmen sore itu, aku hanya bisa tersenyum sambil mengucap syukur dalam hati bahwa ternyata kampungku tidak sepenuhnya hilang. Masih tersimpan kesalehan, kesopanan, kejujuran dan saling menghargai yang tinggi di sini. Bayangkan dengan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi kewajaran di ibu kota. Hanya dengan menyebut nama seorang pejabat saja, seseorang bisa mendapatkan segala dispensasi dan perlakuan istimewa dari pelbagai instansi. Berbekal sebuah surat sakti dari oknum tertentu maka orang kaya bisa berlomba-lomba mendapatkan ke-gratis-an yang layaknya diterima oleh orang tak mampu. Belum lagi ketakjujuran banyak pejabat yang menilep uang ‘kembalian’ yang seyogyanya adalah haknya rakyat banyak.

Terima kasih Mak, kau telah mengajarkan satu lagi ilmu kehidupan yang tentunya tak akan aku peroleh di dunia pendidikan formal.
Semoga bermanfaat

Tabik
haridewa
(sukorejobeberapaharimenjelanglebaran)

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...