POSTINGAN POPULER

Monday, November 28, 2016

Misteri Karung Besar

Kisah ini terjadi belasan tahun yang lalu. Saya tergelitik untuk menuliskannya sebab setiap mengingat kisah ini maka tawa saya pastilah tergelak. Nah, saya ingin berbagi gelak tawa tadi meski saya yakin akan berbeda kadarnya untuk Anda yang tidak mengalaminya sendiri.
 
Ceritanya terjadi pada perjalanan kepulangan saya dari rumah calon mertua sekitar tujuh belas tahun  yang lalu. Waktu itu saya berkunjung ke Lampung dalam rangka bersilaturahmi kepada calon mertua ketika liburan kuliah. Maklum, saya dan calon istri waktu itu memang melakukan LDR (Long Distance Relationship), karena saya masih kuliah di Jogjakarta, sementara calon istri saya tinggal di Tanjung Karang, Lampung.  Bersama seorang sahabat, saya menumpang bis ‘Giri Indah’ ekonomi jurusan Lampung-Jogja. Namanya juga bis ekonomi, maka pihak penyedia jasa tidak memberikan ‘seat number’ kepada para penumpangnya. Alhasil untuk bisa memeroleh tempat duduk yang nyaman, para penumpang harus berebut masuk ke dalam bis, dan memilih tempat duduk yang diinginkan.
 
Peristiwa yang mengundang senyum mulai terjadi di pool bus di bilangan jl. Sukarno Hatta, Bandar Lampung itu. Karena berebut masuk ke dalam bis, maka ada beberapa orang yang terpeleset dan jatuh. Salah satu penumpang yang jatuh adalah seorang bapak tua berusia sekitar tujuhpuluhan, yang meski sudah dibantu oleh anak perempuannya (seorang ibu muda dengan menggendong anak kecil), namun karena dia tidak mau melepas karung besar yang berada di pundaknya, yang entah berisi apa, sehingga dia terpeleset sampai berkali-kali. Penumpang lain yang juga berebut masuk agak geregetan dengan tingkah bapak tua tadi. Pasalnya langkah mereka memasuki bis juga menjadi terganjal karena karung besar tadi menghalangi pintu bis. Meskipun telah berebut masuk bis, namun oleh awak bis, bapak tua tadi akhirnya diminta untuk duduk pada barisan kursi paling belakang, hanya karena dia lagi-lagi tidak mau melepas karung besarnya. Dan hanya pada barisan kursi paling belakanglah tersedia ruang yang cukup untuk meletakkan karungnya tadi. Saya hanya bisa tersenyum dengan tingkah para penumpang tadi.
 
Sesaat lagi bis mau diberangkatkan. Kondektur sedang melakukan cek atas tiket penumpang. Tiba-tiba bapak tua tadi minta ijin ke kamar kecil, rupanya dia mau buang air besar. Kondektur mengijinkan, karena dia masih melakukan cek tiket. Setelah semua pengecekan selesai, akhirnya bis berangkat juga. Namun baru berjalan sekian kilometer, di daerah terminal Panjang, bapak tua tadi minta kondektur untuk mencari WC umum, karena dia merasa harus BAB lagi. Meski dengan enggan, setelah bicara dengan sopir, akhirnya bis berhenti di sebuah pompa bensin. Bis meluncur lagi menuju pelabuhan Bakauheni. Beberapa kali bis harus berhenti di pompa bensin atas permintaan bapak tua tadi.
 
Dini hari,  kami sudah berhasil menyeberangi selat Sunda dengan selamat. Bis meluncur di jalan tol Merak-Jakarta. Di tengah deru mesin bis menembus kota metropolitan, terdengar sungutan kondektur yang menolak untuk mencari WC umum lagi. Rupanya bapak tua tadi kebelet BAB lagi. Kondektur berkeras bahwa mereka tidak mungkin berhenti karena sedang berada di jalan bebas hambatan. Selain berbahaya, juga bisa kena tilang polisi. Mendengar keributan kecil tadi, beberapa penumpang, termasuk saya dan sahabat saya tadi menanyakan ada masalah apa kepada kondektur. Menyadari kondisi  ’genting ’ yang sedang terjadi, kontan kami berteriak kepada sopir, “Pirr, minggir Pir, cari WC umum, daripada kita semua mencium aroma yang tidak kita inginkan.“ Sopirpun mengalah. Namun karena tidak melihat tanda-tanda keberadan ‘rest area‘, maka bis menepi di daerah yang banyak semak-semaknya. Dengan tergesa bapak tua tadi turun dan menghilang di kerimbunan semak-semak.
 
Setelah bapak tua tadi menunaikan hajatnya dan kembali ke bis, sopir segera memacu kendaraannya demi menghindar kepergok oleh Polisi Patroli Jalan Raya dan demi mengejar waktu yang terbuang gara-gara terlalu sering berhenti. Kami terbuai lagi dalam lamunan dan tidur ayam kami masing-masing. Tak berapa lama kami dikagetkan oleh isak tangis ibu muda yang menyertai bapak tua tadi. “Ada apa Bu?“, tanya penumpang yang duduk di bangku sebelah ibu tadi. “Bapaak....!“, ucap ibu tadi lirih... Para penumpang berbisik-bisik berspekulasi, jangan-jangan terjadi apa-apa pada bapaknya. “Iya, Bapaknya kenapa?“, sambung penumpang tadi ikut cemas. “Bapak khan men... mencret“, katanya terbata-bata. “Iya, kami tahu, Bapak situ mencret, wong kami juga ikut terkena imbasnya kok“, kata penumpang tadi mulai tidak sabar, “tapi kenapa pagi-pagi situ sudah nangis?“ “Tadi waktu bapak buang air di semak-semak, ternyata celana kolornya terkena kotorannya. Terus......terus, celana itu dibuang“, masih dengan terbata-bata ibu tadi berusaha menceritakan ‘musibah‘ yang menimpa bapaknya. Dengan menahan tawa penumpang tadi mencoba menghibur,“Halah, cuma celana kolor kok ditangisi. Nanti beli lagi khan gampang! Sudah, jangan nangis lagi. Yang penting bapak situ nggak kenapa-napa to?“ “Bbu..bukan gitu Oom, mma.. masalahnya duit bapak saya duaratus ribu dijahit di kolor itu. Tadinya dia pikir disembunyikan di karungnya. Ternyata dijahit di kolornya, huaaaa huaaa”, meledaklah tangis ibu tadi meratapi kehilangan uang duaratus ribunya. (Tujuhbelas tahun lalu dengan uang duaratus ribu, kita bisa membeli emas seberat sekitar 7 gram. Dengan harga rata-rata emas sekarang sekitar 700 ribuan, maka uang ibu itu berarti setara dengan 4,9 juta. Sebuah angka yang lumayan besar bagi mereka)
 
Demi rasa solidaritas, akhirnya kami sepakat untuk ’urunan’, mengumpulkan uang untuk mengganti kehilangan keluarga tadi. Kalau tidak salah, terkumpul juga uang sebesar seratus sembilanpuluhan, yang kemudian digenapkan oleh pak sopir menjadi duaratus ribu rupiah.
 
Sampai sekarang pengalaman ini masih sering membuat saya tersenyum sendiri. Saya tidak tahu di mana ibu tadi sekarang berada dan apakah bapaknya masih hidup? Yang penting ada pelajaran berharga yang bisa saya ambil yaitu:
 
1.       Bahwa ternyata sebuah solidaritas bisa terbangun dari sebuah perjalanan
2.       Sekarang saya sadar, kenapa bapak tua tadi tidak pernah mau melepas karung besarnya, hehehe.
 
 
Dalam suasana lebaran ini, sekalian saya mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
 
Tabik,
 
haridewa
PS: Inget kisah ini gak Wid? :)

No comments:

Artikel Unggulan

ENTER

Sudah hampir 2 tahun ini masyarakat Purwakarta dan sekitarnya dimanjakan oleh pertunjukan airmancur menari yang dihelat setiap malam minggu ...