POSTINGAN POPULER

Monday, November 28, 2016

Memercik Sebuah Kebaikan Kecil

Bismillahirahman nirahiim.
Aku berlindung kepadaMu Ya Allah, dari godaan setan yang terkutuk.

Kawan, ijinkan saya menceritakan sebuah kejadian kecil yang mempunyai kesan yang dalam bagi saya sampai sekarang. Saya menceritakan kejadian ini murni untuk sharing, bukan berniat untuk riya’. Makanya saya memulai cerita ini dengan ta’awun.

Cerita ini terjadi beberapa waktu yang lalu sepulang memberikan pelatihan untuk teman-teman dari Apindo Depok di bilangan Puncak, Jawa Barat. Saya pulang selepas Ashar, dan seperti biasa di hari Sabtu, kawasan Puncak pasti tersendat, kalau tak boleh dibilang macet.

Sore itu mobil saya bergerak turun seperti siput, bahkan terkadang berhenti sebentar untuk kemudian merayap lagi. Ketika saya melongokkan kepala keluar jendela, saya melihat pemandangan yang menakjubkan. Pengemis yang berjajar rapi di sepanjang jalan, layaknya para prajurit yang sedang berjaga untuk mengamankan perjalanan sang punggawa. Hanya bedanya, sorot mata mereka bukanlah sorot mata tajam penuh waspada seorang prajurit, melainkan sorot mata sayu penuh penghibaan.

Gaya merekapun bermacam-macam. Ada yang berdiri agak terbungkuk, ada yang bersimpuh dengan tertunduk. Ada juga yang berjongkok, mungkin karena bongkok. Satu hal yang menjadi persamaan mereka adalah, tangan yang menengadah ke atas. Meminta.

Kebetulan beberapa hari sebelum acara ini, saya membaca tulisan dari seorang ustadz asal Surabaya -saya lupa namanya- tentang adab bersedekah. Ustadz tadi mengajarkan bahwa sesuai ajaran Nabi Muhammad saw, janganlah kita menolak kehadiran para pengemis, karena sesungguhnya mereka adalah salah satu dari pintu rejeki kita. Maka sambutlah kehadiran tiap pengemis dengan suka cita. Dengan muka ceria.

Kemudian Ustadz tadi memberikan tips ampuh bersedekah, sehingga pintu rejeki kita benar-benar akan dibuka olehNya. Apabila kita sedang berkendara, dan kita terhenti di lampu merah, atau tersendat seperti yang sedang saya alami waktu itu maka berikut hal terbaik yang bisa kita lakukan:

1. Langkah pertama adalah bukalah kaca mobil kita selebar mungkin. Biarkan mereka mendatangi kita, dan sapalah mereka dengan senyum.

2. Kemudian carilah uang kertas (bukan koin), yang paling bagus kondisinya (tidak harus yang paling besar nominalnya. Kalau Anda ikhlas dengan yang nominal besar dan kondisi bagus, itu akan sangat bagus sekali).

3. Lipat uang kertas tadi menjadi tiga bagian sehingga sekarang uang Anda menjadi tebal dan keras.

4. Sekarang pegang dan perlakukan uang tadi, seperti Anda sedang memegang kartu nama Anda (bagi yang pernah mengikuti training kepribadian pasti tahu caranya, yaitu memegang dengan menggunakan kedua belah tangan. Satu tangan di setiap sisinya).

5. Sodorkan uang tadi dengan takzim, seperti ketika Anda menyodorkan kartu nama kepada rekanan Anda. Jangan lupa, ekspresi wajah Anda juga harus sama seperti ketika menyodorkan sebuah kartu nama kepada klien Anda.

6. Kemudian sempurnakan ritual ini dengan sepatah dua patah kata seperti, : ’Pak/Bu, ini saya ada rejeki lebih, semoga bermanfaat.’

Sebentar, kalau lampu belum hijau, atau kondisi jalan masih tersendat, jangan buru-buru menutup kaca mobil Anda. Anda akan takjub dengan apa yang terjadi kemudian. Biasanya, mereka akan langsung menempelkan uang itu ke dahi mereka, sambil tak habis-habisnya mengucapkan terima kasih. Dan mereka akan mewujudkan terima kasihnya dengan doa yang panjang sekali untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki, bahkan keharmonisan keluarga Anda. Tulus. Bahkan kadang sambil berurai air mata.
***

Saya berpikir, inilah saatnya saya mempraktekkan saran dari Ustadz Surabaya tadi. Saya coba ikuti semua ritual yang dia ajarkan. Dan Subhanallah, saya betul-betul takjub. Saya merasa belum pernah ada orang yang mendoakan saya, di depan saya, seekspresif ini. Uang ditempelkan ke dahinya sambil tersembur ribuan kata terima kasih. Mulutnya tak henti berkomat-kamit memanjatkan doanya untuk saya, sambil berurai air mata.

‘Semoga Bapak tambah sukses. Semoga rejekinya makin lancar. Semoga mendapatkan keluarga sakinah mawahdah warrohmah’, sepenggal-sepenggal saya masih berhasil mendengar doanya disela-sela bisingnya suara lalu lintas Puncak sore itu. Padahal uang yang saya berikan hanyalah lembaran limaribuan.

Aneh, saya menikmati kondisi seperti ini.
Maka ketika mobil berhasil melaju, meski kemudian tersendat lagi, saya ulangi ritual bersedekah tadi kepada pengemis selanjutnya. Dan luar biasanya, tanggapan dari pengemis itupun nyaris sama dengan pengemis sebelumnya.

Maka, tambah nikmatlah perasaan ini. Sepanjang perjalanan turun itu, kira-kira sudah ada 5 pengemis yang saya berikan sedekah, ketika tanpa sadar saya memperhatikan kaca spion, dan ketakjuban saya bertambah-tambah ketika saya melihat ada beberapa mobil di belakang saya mencoba melakukan apa yang saya lakukan. Mungkin mereka tidak persis sama melakukan ritualnya, terutama dalam memilih uang kertas dan melipatnya. Namun saya dapat melihat, mereka juga membuka kaca mobilnya, dan mengulurkan sesuatu menggunakan kedua belah tangannya.

Mungkin mereka meniru apa yang bisa mereka lihat dari apa yang saya lakukan. Subhanallah, hati ini memekik bahagia. Belum selesai saya menikmati ritual doa-doa para dhuafa tadi, saya merasakan kenikmatan lain melihat beberapa orang juga bersedekah. Siapa bilang hanya orang yang menerimalah yang merasakan kebahagiaan? Ternyata dengan memberipun kita bisa merasakan rasa bahagia itu.

Benar kata Nabi kita, bahwa tangan di atas itu lebih utama daripada tangan di bawah. Saya, yang awalnya hanya berniat mempraktekkan saran Ustadz Surabaya tadi, dan berpikir ini adalah sebuah kebaikan kecil, ternyata malah berhasil memercikkan api semangat bersedekah dari umat Allah yang lain.
Sambil terus melaju ketika jalan sudah mulai terbuka, saya acungkan jempol saya ke arah para dermawan di belakang saya tadi. Dan rupanya mereka melihatnya, dan membalas salam jempol saya.

Tiba-tiba terdengar sirine dari belakang saya, disusul munculnya mobil patrol polisi yang menandakan arus searah ke Jakarta telah diberlakukan. Kami yang sempat tersendat beberapa waktu tadi langsung berlomba mengikuti mobil patroli tadi untuk cepat-cepat memacu kendaraan menuju ke rumah.

Alhamdullillah, ketersendatan waktu itu benar-benar membawa hikmah. Ternyata benar kata Aa Gym, untuk merubah dunia, tidak perlu kita memaksakan diri melakukan hal yang di luar jangkauan kita.
Cukup 3M.
Mulai dari yang kecil.
Mulai dari diri sendiri, dan
Mulai sekarang juga.

Wallahualam bishawab.

Tabik

-haridewa-
25 February 2011.

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...