POSTINGAN POPULER

Monday, November 28, 2016

Kunci Hidup Bahagia

Seorang gadis bertanya pada ibunya, "Bu, bagaimana sih caranya membahagiakan orang?"
Ibunya menjawab, "Nanti saya akan ceritakan. Sekarang, kamu harus melakukan sesuatu untuk ibu lebih dulu. Kamu lihat kakekmu di kursi roda sana?"
"Ya, "kata gadis itu.
"Dekati dan tanyakan bagaimana penyakit asmanya hari ini."
 
Si gadis mendatangi sang kakek yang sedang mandi matahari di kebun, "Kakek," bagaimana penyakit asma kakek hari ini?"
 
"Oh, sedikit memburuk, cucuku," sahut si kakek. "Selalu berubah memburuk, apalagi karena hujan deras yang turun semalaman. Kakek jadi sulit tidur dan napas semakin sesak saja rasanya." Rasa kesakitan terpancar diwajahnya.
Si gadis kembali lagi pada ibunya."Kakek mengatakan memburuk dan nampaknya ia menderita. Apakah ibu mau menceritakan padaku caranya membahagiakan orang sekarang?"
 
"Sebentar lagi sayang, ibu janji,"ibunya berkata."Sekarang dekati kakek lagi dan tanyakan apakah hal yang paling lucu yang pernah kamu lakukan ketika kamu kecil dulu."
Si gadis mendekati kakeknya lagi."Kek," ia memulai,"apakah hal yang paling lucu yang pernah aku lakukan ketika kecil dulu, Kek?"
 
Si kakek mengangkat mukanya."Oh," ia tersenyum, "banyak sekali. Kakek tidak ingat semuanya. Tapi kakek pernah terpingkal-pingkal ketika kamu bermain dengan teman-temanmu di malam Lebaran, karena kamu menumpahkan isi bedak di seluruh penjuru rumah dan menganggap itu salju. Kakek masih ingat - karena kakek tidak perlu membersihkannya." Si kakek mengarahkan pandangannya ke depan, menerawang dan wajahnya berseri-seri.
"Suatu waktu ketika kakek membawa kamu jalan-jalan, sepanjang jalan kamu bernyanyi sebuah lagu yang baru saja kamu dapat di sekolah. Sangat keras. Kita berpapasan dengan seseorang, orang itu memandang dengan muka tidak senang. Ia meminta kakek untuk menghentikan nyanyianmu karena dia pikir terlalu keras. Kamu menatap orang itu dan menjawab,"Kalau kamu ngga bisa nyanyi jangan ngiri dong dan kalau kamu tidak ingin dengar nyanyianku tutup saja kupingmu. Repot amat!" Dan kamu sengaja bernyanyi semakin keras. Orang itu tersedak dan pergi ngeloyor.
 
Si gadis kembali lagi pada ibunya," Ibu dengar apa yang dikatakan kakek?" ia bertanya.
 
"Ya," ibunya menyahut."Kamu membuat kakek bahagia hanya dengan mengubah sudut pandangnya."
 
"Cukup satu kalimat," kata ibunya,"dapat membuat orang bahagia, nak."
 
 
Sumber: R.H. Wiwoho, "Reframing: Kunci Hidup Bahagia
24 Jam", Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Memercik Sebuah Kebaikan Kecil

Bismillahirahman nirahiim.
Aku berlindung kepadaMu Ya Allah, dari godaan setan yang terkutuk.

Kawan, ijinkan saya menceritakan sebuah kejadian kecil yang mempunyai kesan yang dalam bagi saya sampai sekarang. Saya menceritakan kejadian ini murni untuk sharing, bukan berniat untuk riya’. Makanya saya memulai cerita ini dengan ta’awun.

Cerita ini terjadi beberapa waktu yang lalu sepulang memberikan pelatihan untuk teman-teman dari Apindo Depok di bilangan Puncak, Jawa Barat. Saya pulang selepas Ashar, dan seperti biasa di hari Sabtu, kawasan Puncak pasti tersendat, kalau tak boleh dibilang macet.

Sore itu mobil saya bergerak turun seperti siput, bahkan terkadang berhenti sebentar untuk kemudian merayap lagi. Ketika saya melongokkan kepala keluar jendela, saya melihat pemandangan yang menakjubkan. Pengemis yang berjajar rapi di sepanjang jalan, layaknya para prajurit yang sedang berjaga untuk mengamankan perjalanan sang punggawa. Hanya bedanya, sorot mata mereka bukanlah sorot mata tajam penuh waspada seorang prajurit, melainkan sorot mata sayu penuh penghibaan.

Gaya merekapun bermacam-macam. Ada yang berdiri agak terbungkuk, ada yang bersimpuh dengan tertunduk. Ada juga yang berjongkok, mungkin karena bongkok. Satu hal yang menjadi persamaan mereka adalah, tangan yang menengadah ke atas. Meminta.

Kebetulan beberapa hari sebelum acara ini, saya membaca tulisan dari seorang ustadz asal Surabaya -saya lupa namanya- tentang adab bersedekah. Ustadz tadi mengajarkan bahwa sesuai ajaran Nabi Muhammad saw, janganlah kita menolak kehadiran para pengemis, karena sesungguhnya mereka adalah salah satu dari pintu rejeki kita. Maka sambutlah kehadiran tiap pengemis dengan suka cita. Dengan muka ceria.

Kemudian Ustadz tadi memberikan tips ampuh bersedekah, sehingga pintu rejeki kita benar-benar akan dibuka olehNya. Apabila kita sedang berkendara, dan kita terhenti di lampu merah, atau tersendat seperti yang sedang saya alami waktu itu maka berikut hal terbaik yang bisa kita lakukan:

1. Langkah pertama adalah bukalah kaca mobil kita selebar mungkin. Biarkan mereka mendatangi kita, dan sapalah mereka dengan senyum.

2. Kemudian carilah uang kertas (bukan koin), yang paling bagus kondisinya (tidak harus yang paling besar nominalnya. Kalau Anda ikhlas dengan yang nominal besar dan kondisi bagus, itu akan sangat bagus sekali).

3. Lipat uang kertas tadi menjadi tiga bagian sehingga sekarang uang Anda menjadi tebal dan keras.

4. Sekarang pegang dan perlakukan uang tadi, seperti Anda sedang memegang kartu nama Anda (bagi yang pernah mengikuti training kepribadian pasti tahu caranya, yaitu memegang dengan menggunakan kedua belah tangan. Satu tangan di setiap sisinya).

5. Sodorkan uang tadi dengan takzim, seperti ketika Anda menyodorkan kartu nama kepada rekanan Anda. Jangan lupa, ekspresi wajah Anda juga harus sama seperti ketika menyodorkan sebuah kartu nama kepada klien Anda.

6. Kemudian sempurnakan ritual ini dengan sepatah dua patah kata seperti, : ’Pak/Bu, ini saya ada rejeki lebih, semoga bermanfaat.’

Sebentar, kalau lampu belum hijau, atau kondisi jalan masih tersendat, jangan buru-buru menutup kaca mobil Anda. Anda akan takjub dengan apa yang terjadi kemudian. Biasanya, mereka akan langsung menempelkan uang itu ke dahi mereka, sambil tak habis-habisnya mengucapkan terima kasih. Dan mereka akan mewujudkan terima kasihnya dengan doa yang panjang sekali untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki, bahkan keharmonisan keluarga Anda. Tulus. Bahkan kadang sambil berurai air mata.
***

Saya berpikir, inilah saatnya saya mempraktekkan saran dari Ustadz Surabaya tadi. Saya coba ikuti semua ritual yang dia ajarkan. Dan Subhanallah, saya betul-betul takjub. Saya merasa belum pernah ada orang yang mendoakan saya, di depan saya, seekspresif ini. Uang ditempelkan ke dahinya sambil tersembur ribuan kata terima kasih. Mulutnya tak henti berkomat-kamit memanjatkan doanya untuk saya, sambil berurai air mata.

‘Semoga Bapak tambah sukses. Semoga rejekinya makin lancar. Semoga mendapatkan keluarga sakinah mawahdah warrohmah’, sepenggal-sepenggal saya masih berhasil mendengar doanya disela-sela bisingnya suara lalu lintas Puncak sore itu. Padahal uang yang saya berikan hanyalah lembaran limaribuan.

Aneh, saya menikmati kondisi seperti ini.
Maka ketika mobil berhasil melaju, meski kemudian tersendat lagi, saya ulangi ritual bersedekah tadi kepada pengemis selanjutnya. Dan luar biasanya, tanggapan dari pengemis itupun nyaris sama dengan pengemis sebelumnya.

Maka, tambah nikmatlah perasaan ini. Sepanjang perjalanan turun itu, kira-kira sudah ada 5 pengemis yang saya berikan sedekah, ketika tanpa sadar saya memperhatikan kaca spion, dan ketakjuban saya bertambah-tambah ketika saya melihat ada beberapa mobil di belakang saya mencoba melakukan apa yang saya lakukan. Mungkin mereka tidak persis sama melakukan ritualnya, terutama dalam memilih uang kertas dan melipatnya. Namun saya dapat melihat, mereka juga membuka kaca mobilnya, dan mengulurkan sesuatu menggunakan kedua belah tangannya.

Mungkin mereka meniru apa yang bisa mereka lihat dari apa yang saya lakukan. Subhanallah, hati ini memekik bahagia. Belum selesai saya menikmati ritual doa-doa para dhuafa tadi, saya merasakan kenikmatan lain melihat beberapa orang juga bersedekah. Siapa bilang hanya orang yang menerimalah yang merasakan kebahagiaan? Ternyata dengan memberipun kita bisa merasakan rasa bahagia itu.

Benar kata Nabi kita, bahwa tangan di atas itu lebih utama daripada tangan di bawah. Saya, yang awalnya hanya berniat mempraktekkan saran Ustadz Surabaya tadi, dan berpikir ini adalah sebuah kebaikan kecil, ternyata malah berhasil memercikkan api semangat bersedekah dari umat Allah yang lain.
Sambil terus melaju ketika jalan sudah mulai terbuka, saya acungkan jempol saya ke arah para dermawan di belakang saya tadi. Dan rupanya mereka melihatnya, dan membalas salam jempol saya.

Tiba-tiba terdengar sirine dari belakang saya, disusul munculnya mobil patrol polisi yang menandakan arus searah ke Jakarta telah diberlakukan. Kami yang sempat tersendat beberapa waktu tadi langsung berlomba mengikuti mobil patroli tadi untuk cepat-cepat memacu kendaraan menuju ke rumah.

Alhamdullillah, ketersendatan waktu itu benar-benar membawa hikmah. Ternyata benar kata Aa Gym, untuk merubah dunia, tidak perlu kita memaksakan diri melakukan hal yang di luar jangkauan kita.
Cukup 3M.
Mulai dari yang kecil.
Mulai dari diri sendiri, dan
Mulai sekarang juga.

Wallahualam bishawab.

Tabik

-haridewa-
25 February 2011.

Takdir

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah tausiah, saya mendapatkan sebuah cerita yang sangat berkesan dalam hati saya sampai sekarang. Saya akan mencoba menuliskannya kembali untuk Anda semua.
Tersebutlah ada seorang mahasiswa yang baru pulang ke tanah air dengan membawa gelar cumlaude, setelah sekian lama menuntut ilmu di luar negeri. Sesampainya di rumah, meskipun sudah berpendidikan tinggi, namun dalam benak mahasiswa tadi masih berkelebat beberapa pertanyaan yang sangat menganggu keimanannya. Ia sudah bertanya kepada orang tuanya, tapi mereka tidak mampu menjawab. Kemudian ia meminta orang tuanya untuk mencarikan seseorang, siapa saja yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya tersebut.
Akhirnya orang tua mahasiswa tersebut merekomendasikan seorang Ustadz untuk menepis keraguannya selama ini. Setelah bertemu dengan orang yang dimaksud, terjadilah percakapan berikut ini.
“Pak Ustadz yang terhormat, bisakah Ustadz menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering membuat iman saya goyah dan juga membuat hati saya resah?” tanya mahasiswa itu penuh harap.
“Insya Allah, dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan kamu.” jawab Ustadz.
“Ustadz yakin? Padahal banyak Profesor, Dosen dan orang pintar  tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
“Saya akan coba menjawab semampu saya.” tandas Ustadz meyakinkan.
Selanjutnya, mahasiswa itu mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
1.Kalau memang Tuhan itu ada, mana bukti wujudnya?
2.Apa yang dimaksud dengan takdir itu?
3.Kalau setan diciptakan dari api kenapa dia dimasukkan ke neraka yang juga dibuat dari api? Tentu tidak akan menyakitkan untuk setan, karena mereka memiliki unsur yang sama yaitu Api
“Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?”
Tiba-tiba Ustadz tersebut menampar pipi mahasiswa itu dengan sekerasnya. Dia tersentak dan kaget.
“Kenapa Ustadz marah kepada saya?” tanya mahasiswa tersebut sambil menahan kesakitan.
“Saya tidak marah. tamparan keras itu adalah jawaban saya terhadap 3 pertanyaan yang kamu ajukan.” jawab Ustadz.
“Saya tidak mengerti, Ustadz?” kata mahasiswa itu  dengan mimik keheranan.
“Bagaimana rasanya tamparan saya?” Ustadz bertanya.
“Sakit…!” ujarnya.
“Jadi kamu percaya bahwa sakit itu ada?”
Mahasiswa itu mengangguk tanda percaya.
“Buktikan wujud sakit itu pada saya!”
“Ngg …. ti..tiddak bisa, ustadz”, jawab  mahasiswa itu tergagap
“Nah, itulah jawaban pertama. Kita percaya akan adanya Tuhan, tapi tidak mampu melihat wujud-Nya.” terang Ustadz.
“Apakah tadi malam  kamu bermimpi akan ditampar oleh saya?” Ustadz bertanya lagi.
“Tidak.” jawab mahasiswa.
“Pernahkah terpikir dalam benakmu, bahwa  kamu bakal menerima satu tamparan dari saya?”
“Tidak.”
“Itulah yang dinamakan Takdir.” jawab Ustadz singkat tapi padat.
“Dibuat dari apa telapak tangan yang saya gunakan untuk menampar pipimu?” ustadz bertanya lagi.
“Kulit” jawab sang mahasiswa.
“Pipi kamu dibuat dari apa?”
“Kulit.”
“Bagaimana rasanya tamparan saya?”
“Sakit.”
“Itulah jawaban ketiga. Walaupun setan terbuat dari api dan neraka juga terbuat dari api. Ketika Tuhan berkehendak maka neraka akan menjadi tempat yang sangat menyakitkan buat setan.” jelas Ustadz menutup percakapan.
Saudaraku, semoga catatan kecil ini mampu memberi pencerahan kepada kita semua, bahwa eksistensi Tuhan itu tidak akan bisa kita lihat. Kita hanya bisa merasakan keberadaan-Nya, tanpa mampu melihat dengan mata kepala sendiri. Maka marilah kita syukuri nikmat yang bisa kita rasakan, karena begitu melimpahnya eksistensi Tuhan yang bisa kita rasakan, tanpa harus merusak pikiran kita karena menginginkan melihat wujud Tuhan kita.
Konon, Nabi Musa saja ketika meminta Tuhannya untuk menampakkan wujud aslinya, dia tidak mampu melihatNya karena begitu silaunya cahaya wajah Tuhan. Nabi Musa memalingkan wajahnya karena tidak sanggup menatap. Apalagi kita yang hanya manusia biasa??? Wallahualam bissawab

Jakarta, 31 August 2012

Carrier Path

Bagaimana Cara Menjinakkan Gajah?

Gajah merupakan hewan besar dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Meskipun tak pernah disebut sebagai raja hutan, namun tak ada seekor hewanpun yang berani bertarung melawannya. Namun meski demikian penduduk Thailand mempunyai cara yang sederhana untuk mengalahkan gajah.

Mula-mula, mereka membuat perangkap dengan  merancang rangkaian rantai yang dililitkan pada sebuah pohon besar. Rantainya berukuran segengaman tangan laki-laki dewasa. Pohonnya tinggi dan kokoh, sehingga jika masuk perangkap, sang gajah tidak akan mampu memutuskan rantai dan merobohkan pohon. Perangkap itu dibuat sedemikian rupa hingga bila sang gajah melawati tempat tersebut, maka kakinya akan terikat dan gajah tidak bisa bergerak kemana-mana.

Singkat cerita, pada suatu hari terperangkaplah seekor gajah besar. Kaki belakangnya tersangkut dan terikat rantai pada pohon besar. Sang gajah hanya bisa berteriak dan berusaha lepas. Tapi, semua usahanya itu nihil. Setiap kali berusaha berlari, gajah tadi pasti terjatuh. Setelah gajah tadi kelelahan karena berusaha melarikan diri, maka sang pawang akan mendatanginya dan memberinya makan. Demikian kejadian ini berlangsung dari hari ke hari.

Setelah kurang lebih dua minggu, dan gajah tadi sudah tidak melakukan perlawanan lagi, maka pawang gajah akan melepas rantai dan menggantinya dengan tali kecil yang terbuat dari serat kulit kayu. Apa yang terjadi kemudian? Akankah gajah tadi memutuskan tali kecil yang mengikat kakinya? Tidak!

Kawan, ternyata gajah tadi dengan manis diam saja sambil menunggu sang pawang  datang membawakannya makanan. Meskipun secara daya, seharusnya gajah tadi mampu memutuskan tali kecil yang mengikat kakinya, namun pengalaman buruk terjatuh selama sekian hari telah membelenggu pikirannya dan membuat gajah tadi memilih untuk diam manis menunggu mendapatkan jatah makannya.

Sahabatku, terkadang hidup kita layaknya gajah tadi. Meski kita mampu melakukan hal-hal luar biasa, namun kita memilih duduk manis tanpa daya. Bukannya kita tidak mampu melakukan hal yang hebat, kita hanya tidak mau melakukannya. Pikiran kita sudah terbelenggu sejak awal kita ingin memulai sebuah action. Bahkan ada yang merasa bahwa dia dilahirkan memang dengan ‘balung kere’ (tulang miskin). Setiap hari dia hanya mengeluh bahwa balungnya adalah balung kere. Bahkan ketika dilakukan rotngen pun pada tulang-tulangnya terdapat tulisan ‘kere’ hehehe.
***

Hidup ini Pilihan
Segala kejadian yang terjadi pada diri kita dalam kehidupan  sehari-hari secara praktis bisa dibagi menjadi dua kelompok besar :

1. Manusia Dipaksa
Dalam hal ini semua kejadian yang menimpa manusia memang benar-benar dipaksakan harus terjadi kepadanya. Kita tidak mampu mengontrolnya. Tidak ada pilihan lagi yang bisa diambil olehnya. Dalam konteks ini, sebenarnya kejadiannya masih bisa dikelompokkan menjadi dua lagi:

A. Berhubungan dengan hukum alam
Kejadian seperti kelahiran kita, siapa orang tua kita, mejadi laki-laki atau perempuan, bahkan kapan kita mati sudah tertulis dengan jelas pada skenario Allah. Tidak ada daya dan upaya lagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah sunatullah ini.

B. Tidak berhubungan dengan hukum alam
Kejadian seperti kecelakaan pesawat, mobil, kapal, musibah bencana alam seperti gunung meletus, banjir dll merupakan kejadian lain yang juga tidak bisa kita hindarkan, karena sudah dipilihkan oleh-Nya.

Bisa dikatakan karena kita sudah tidak mempunyai pilihan lagi untuk kejadian-kejadian di atas, maka kita dibebaskan dari tanggung jawab atas hasil yang diakibatkannya.

2. Manusia Bebas Berbuat
Hidup ini penuh pilihan. Meskipun Allah sudah menentukan takdir masing-masing manusia, namun saya sangat meyakini bahwa takdir Allah itu bukanlah sebuah garis linear yang hanya menuju satu kondisi tertentu. Allah telah menciptakan kita sebagai sebaik-baiknya ciptaan, maka tentu dilengkapi dengan hak sukses dan bahagia. Langkah-langkah kitalah yang akan menentukan garis akhir seperti apa yang akan kita dapatkan.

Kita dapat melakukan kontrol sepenuhnya atas nasib kita sendiri. Seperti yang telah saya tuliskan di atas bahwa Allah telah menuliskan takdir kita di lauhul mahfudz, namun pertanyaannya adalah tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ditulis Allah tadi. Berbekal pada asumsi inilah, maka tugas kitalah untuk memperjuangkan setiap sendi kehidupan kita sehingga kita benar-benar akan menjadi sebaik-baiknya ciptaan Allah. Sebuah masterpiece. Karena nasib kita tidaklah akan pernah berubah kalau kita tidak merasa bertanggung jawab untuk memperbaikinya.

Dalam konteks ini, karena kita sudah diberi pilihan untuk menentukan nasib kita sendiri, tentunya ada konsekuensi yang akan kita terima atas pilihan kita tadi. Konsekuensi tadi bisa berupa kebahagiaan hidup karena kita telah memilih jalan yang tepat, baik dan benar untuk kita, atau sebaliknya kita justru hanya mendapatkan kesengsaraan karena telah salah memilih langkah.
***

Prinsip Jack Welch
Siapa yang tidak mengenal Jack Welch, sang CEO GE yang pernah digelari sebagai CEO of the century karena gebrakan-gebrakannya dalam menjalankan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alva Edison ini. Dalam mengelola GE, Jakck Welch dikenal sangat bertangan dingin. Dia mempersiapkan suksesornya dengan serius dan seksama.

Berikut adalah beberapa prinsip Welch:

1. Tentukanlah nasibmu sendiri atau orang lain yang akan menentukannya

Kita percaya dan yakin bahwa untuk tetap sukses dan maju dalam dunia kerja kita, kitalah yang harus mendesain dan mengarahkan perjalanan “roket karier” kita sendiri. We are the master of our own career, bukan perusahaan, bukan bos kita, ataupun HRD. Kitalah yang mesti menentukan. Dalam hal ini nilai kompetitif kita harus dipacu sejak sekarang, sejak dari awal. Banyak orang merasa terperangkap dalam dunia kerja dan merasa dirinya terbatas. Lantas muncullah angan-angan dan berandai-andai bisa ke luar dan menjalankan bisnisnya sendiri. Mereka melihat sisi menariknya memiliki bisnis sendiri. Bisa memiliki penghasilan tak terbatas, jika kita bekerja keras dan berhasil, maka hasilnyapun akan dinikmati sendiri, lantas memiliki waktu luang yang tak terbatas. Itulah sisi mengasyikkan yang selalu diimpikan orang. Namun, mereka lupa sisi tantangan maupun kesulitannya.

Pemikiran seperti itu adalah SALAH!, karena kita tidak harus menunggu keluar dari pekerjaan kita di kantor untuk merasa sungguh-sungguh bekerja. Jika kita tidak bisa belajar menjadi karyawan yang baik di perusahaan kita saat ini bekerja, maka kitapun tidak akan bisa mengelola bisnis kita sendiri. Pada dasarnya, prinsip bekerja bagi orang lain maupun menjalankan bisnis sendiri memerlukan mentalitas yang kurang lebih mirip, hanya lahan tempat berkarya yang berbeda.

2. Berubahlah sebelum kita dipaksa untuk berubah

Perubahan, satu hal yang pasti terjadi dalam kehidupan kita. Dalam seluruh aspek. Mereka yang tidak siap dengan perubahan, akan menanggung akibatnya tergilas oleh perubahan itu. Saya sudah merasakan dan melihatnya.

Kita sangat ingin berubah, saya ingin berubah, Andapun juga ingin berubah. Tapi kenapa begitu sulit? Menghilangkan kebiasaan menunda-nunda, memulai olahraga, berhenti merokok, mulai berinvestasi, berganti pekerjaan, hidup lebih jujur, lebih sabar. Kenapa semua begitu sulit…

Kita pernah merasakan keberhasilan dan kegagalan dalam merubah diri kita. Pertanyaan saya, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari yang telah berhasil kita raih? Dan bagaimana agar perubahan itu langgeng dan berhasil…

Kesimpulan saya sebagai berikut kenapa perubahan selalu gagal..

A. Kita ingin berubah sekaligus dalam banyak hal!

Secara logika, mudah sekali merencanakan perubahan secara dramatis dalam segala banyak hal. Kesehatan, keuangan, waktu, kesuksesan. Namun pada kenyataannya yang saya alami, yang kita bisa lakukan adalah melakukan perubahan satu-persatu. Mana yang ingin kita ubah terlebih dahulu. Saya tidak tahu dengan Anda, namun dari pengalaman saya, perubahan memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Seperti prinsip dalam memanen padi, kita harus melakukan segala langkah satu-persatu, mulai dari menanam, merawat, memupuki sampai akhhirnya kita akan memanen hasil perubahan yang kita lakukan.

B. Kita ingin berubah dalam bobot yang lebih besar

Ambil contoh misal berolahraga. Saya ingin merubah pola hidup saya dengan melakukan jogging di pagi hari setiap 3x seminggu selama 1 jam masing-masing hari. Jelas, ini adalah batu sandungan besar jika saya sebelumnya tidak pernah berolahraga sama sekali. Atau saya memutuskan untuk berhenti total merokok. Perubahan hanya berhasil jika dilakukan sedikit demi sedikit. Kita bisa memulainya dengan melakukan jogging 5 menit, menabung hanya 100.000/bulan atau perubahan apapun dengan sedikit demi sedikit.

C. Memberi banyak peluang untuk gagal

Mencoba diet? Tapi kulkas Anda dipenuhi makanan yang akan menggagalkan niat diet Anda. Mencoba hemat? Tapi dalam waktu senggang Anda habiskan pergi ke mall atau pusat perbelanjaan.

Demikianlah pengalaman saya, namun satu hal pasti dari pengalaman saya, kita bisa melawan ketiga penghambat perubahan di atas. Ada satu prinsip ideal yang saya pelajari dalam kehidupan saya. Yaitu prinsip KOMITMEN atau KEPUTUSAN SEJATI.

Beda antara orang yang ‘menginginkan’ berubah dengan ‘berkomitmen’ untuk berubah. Kita harus mendesak diri kita untuk menciptakan perasaan ‘SEHARUSNYA’. Lalu setelah kita memutuskan akan berubah, kita harus memegang kuat-kuat komitmen tersebut. Suka atau tidak, enak atau tidak, kita akan bertahan. Kita yang harus menjadi pusat perubahan itu sendiri, jangan mengharapkan orang lain untuk merubah kita, lalu kita yakinkan bahwa kita harus berubah dan terakhir, jalani perubahan kita dengan konsisten. KONSISTENSI adalah kuncinya..

3. Jangan berpikir untuk memulai sebuah kompetisi kalau kita tidak mempunyai keandalan ilmu tertentu

Jack Welch sangat piawai dalam mengaplikasikan prinsip yang satu ini. Konsepnya sih sangat sederhana saja, jika kita tidak bisa menjadi yang pertama atau yang terbaik, maka lebih baik beralih lahan pekerjaan. Jangan membuang-buang waktu, enegi dan dana hanya untuk menjadi nomor dua!
***

Career Path
Dalam menjalani hidup, kita memerlukan sebuah tujuan yang jelas. Banyak istilah mengenai tujuan hidup ini. Ada yang menyebutnya vision, atau goal setting. Sementara beberapa pihak mengenal tujuan ini sebagai career path, atau bahkan sebuah proposal hidup. Apapun namanya, intinya sama saja, yaitu sebuah tujuan jelas yang memungkinan kita menjalani kehidupan kita dengan lebih berdaya. Kenapa sebuah career path menjadi sangat penting? Menurut saya ada beberapa hal:

- Dengan menentukan career path kita sendiri, maka kita menjadi lebih mudah merasa BERSYUKUR, karena kita mempunyai sebuah tujuan hidup yang jelas. Kita tahu sekarang berada di mana dan yakin akan menuju kemana dan dengan cara apa menuju ke sana.

- Career path yang jelas menghindarkan kita dari kebiasaan MENGELUH karena kita sadar bahwa kita mempunyai sebuah kekuatan terbesar manusia, yaitu kekuatan MEMILIH.

- Kalau kita memiliki sebuah tujuan hidup yang jelas maka kita akan mampu berfikir lebih jernih, karena :
- Kita bisa lebih berfokus pada melakukan TINDAKAN, dari sekedar berpanjang angan-angan
- Kita mampu membedakan mana hal yang MAMPU kita lakukan dengan yang TIDAK MAMPU kita lakukan, sehingga tidak ada kesalahan dalam berdoa. Seringkali kita merasa bahwa suatu hal berada di luar kemampuan kita, padahal sebenarnya kita hanya TIDAK MAU.
- Kita menjadi lebih RESPONSIVE. Makna responsive di sini adalah able to choose the response, atau kemampuan kita memilih tindakan yang akan kita ambil ketika kita menghadapi sebuah kondisi tertentu.
- Kita hanya akan melakukan hal-hal yang kita anggap PENTING.

Saudaraku, itulah kira-kira pentingnya sebuah career path. Jangan berkecil hati, kalau sekiranya Anda belum terbiasa membuatnya, belum terlambat kok, buatlah sekarang juga. Kita tahu bahwa Tuhan sudah menentukan takdir kita masing-masing, pertanyaannya adalah, sudahkah kita merebut nasib kita tadi dengan baik dan benar?

Semoga bermanfaat

Tabik

-haridewa-
hariterakhirditalavera

Be A Plenary Leader

Belakangan ini banyak sekali pelatihan berbasis Leadership atau kepemimpinan. Berbagai lembaga pelatihan seakan berlomba mengulik materi satu ini untuk kemudian menawarkan dengan pelbagai kelebihannya. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan pemimpin itu?

Beberapa hari yang lalu saya membuat status di facebook bahwa pemimpin adalah seorang yang mempunyai  tujuan hidup yang jelas , mampu mengikuti arah tersebut dengan pasti dan mampu menunjukkan arah tadi kepada orang lain. 

Ya, sebagai seorang pemimpin memang seyogyanya kita sudah memiliki sebuah visi yang jelas, dan mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mengikuti arah tujuan tadi. Tidak selesai hanya sampai di sini, seseorang hanya layak disebut sebagai pemimpin ketika dia sudah pula sanggup menunjukkan arah tadi kepada orang lain.
***

Say = Do
Berikut ini sebuah cerita menarik mengenai Mahatma Gandhi. Pada suatu hari seorang ibu mendatangi Gandhi sambil membawa anak perempuannya yang sangat doyan menguyah permen. Kepada Gandhi, sang ibu memohon bantuan untuk menasehati anaknya agar berhenti melakukan kebiasaan buruknya tadi. Setelah mendengarkan dengan seksama masalah sang ibu, Gandhi menyuruh ibu dan anak itu pulang, dan meminta untuk datang kembali seminggu kemudian.

Seminggu berlalu, maka kembalilah ibu dan anak tadi ke kediaman Mahatma Gandhi. Sesampainya di sana, segera Gandhi menasehati anak perempuan tadi. “ Nak, berhentilah mengunyah permen, karena itu tidak baik untuk kesehatan gigimu, dan turutilah nasehat ibumu, karena dia pasti tahu yang terbaik untukmu”. Sang ibu tercenung mendengar nasehat tadi. Hanya sebuah nasehat kecil dan tentunya bisa juga dilakukan oleh orang kebanyakan. Tak perlu seorang Gandhi untuk memberikan nasehat sepele seperti itu. Karena penasaran dan kurang puas, maka sang ibu bertanya, “Kalau hanya sebuah nasehat sepele seperti ini, kenapa Anda menyuruh saya pulang seminggu yang lalu dan meminta datang kembali hari ini?”

Dengan tenang Gandhi menjawab, “karena seminggu yang lalu saya juga masih menguyah permen!”

Mahatma Gandhi sangatlah paham bahwa  sebuah proses perubahan hanya akan bisa terjadi melalui tiga tahapan yaitu:
1. Meneladankan
2. Menganjurkan, baru
3. Mewajibkan.

Maka untuk menasehati seorang anak tentang akibat buruk mengunyah permen terhadap kesehatan gigipun, dia harus pula berhenti mengunyah permen.               
***

Banyak orang merasa menjadi seorang pemimpin pada saat sebuah tanda jabatan disematkan di dada mereka dan mereka dilantik oleh pejabat di atasnya. Namun kenyataannya mereka hanya memimpin menggunakan sebuah buku yang namanya buku peraturan. Orang-orang ini hanya akan tanda tangan dan menyetujui sebuah agenda kegiatan ketika rule-nya tertulis dengan gamblang pada buku itu. Kata orang, mereka adalah orang yang jujur dan taat perintah. Tak heran jika nyaris tak ada kesalahan yang ditimpakan kepada kelompok ini. Kenapa? Karena mereka adalah orang yang benar-benar taat aturan.

Kelompok macam ini jumlahnya lumayan banyak, dan tentu saja benar bahwa mereka ini telah disebut pemimpin, namun yang membedakan kelompok ini dengan kelompok lain adalah tipenya, karena untuk menjadi pemimpin paripurna dibutuhkan lebih dari sekedar aturan, namun juga terobosan dan respek.
***

Lima Tingkatan Pemimpin
John Maxwell, seorang pakar leadership  memilah tipikal pemimpin menjadi  5 tingkatan yang dikenal dengan 5P, yaitu Position, Permission, Production, People Development dan Personhood.  Tiap tipe pemimpin ini berkorelasi langsung dengan hasil nyata tindakan yang mereka lakukan yang disebut Maxwell sebagai 5 R, yaitu Rights, Relationship, Results, Reproduction dan Respect

Contoh pemimpin di atas merupakan pemimpin level 1, mereka dituruti semata-mata hanya karena otoritasnya (Position). Mereka duduk di posisi tersebut karena mereka memegang hak tertulis (Rights). Orang-orang mengikutinya karena sebuah keharusan. Meski seolah-olah organisasi berjalan dengan mulus namun kabar buruknya adalah semakin lama pemimpin level 1 ini berkuasa, semakin mundur pula sebuah organisasi. Organisasi akan ditinggalkan karyawan-karyawan kelas satunya yang menyukai terobosan dan sangat laku di pasaran. Sementara itu moral kerja akan merosot drastis, dan image sebagai organisasi yang disegani tak lagi terdengar, malah sebaliknya.

Pemimpin semacam itu seharusnya segera memperbaiki diri agar mereka bisa menapak ke level selanjutnya, yang disebut Permission (sedikit di atas otoritas). Pemimpin ini tidak melulu mengacu pada peraturan tertulis, melainkan mulai menghargai orang-orang yang melakukan terobosan sebagai warna yang harus diterima. Orang-orangpun senang dan menerima kepemimpinannya bukan lagi semata-mata karena rights, melainkan Relationship. Orang-orang mengikuti pemimpin level 2 ini karena mereka menghendaki. Namun ternyata pemimpin level 2 ini juga mempunyai jebakan yang mematikan, karena ketika sekedar menggantungkan pada relationship saja, dan anak buahnya sudah merasa senang, maka lambat laun dia akan menjadi seorang pemimpin yang populis.

Pemimpin yang populis lebih mengedepankan hubungan baiknya dengan anak buahnya sementara tugas pokoknya justru cenderung terabaikan.

Oleh karenanya seorang pemimpin harus segera menaikkan levelnya ke tingkat 3, yaitu maju dengan kompetensi dan memberikan hasil yang dapat dilihat secara kasat mata. Maxwell menyebutnya sebagai Production, dan orang-orang di bawahnya akan mengikuti kepemimpinannya karena sebuah Results, yaitu hasil nyata yang tampak pada kesejahteraan mereka dan kemajuan organisasi. Pemimpinnya pun senang karena tugas-tugas yang menantang dapat diselesaikan dengan mudah oleh timnya yang penuh dedikasi. Mereka bekerja karena sebuah momentum.

Biasanya level ketiga ini beti alias beda tipis dengan level di atasnya. Mudah sekali bagi mereka untuk segera naik tingkat. Kuncinya hanya satu yaitu pada kemauan untuk berbagi. Kenapa tidak sulit? Karena hasilnya sudah ada dan bukti-bukti achievement-nya sudah sangat jelas. P ke-empat ini disebut People Development dan hasilnya diberi nama Reproduction. Pemimpin level 4 adalah tipe pemimpin yang lumayan sulit ditemukan, karena mereka tidak hanya memikirkan nasibnya sendiri, namun juga nasib organisasinya. Mereka justru tidak rela ketika sepeninggal mereka, organisasinya akan mengalami kemunduran. Bagi pemimpin level ini kesuksesannya sebagai pemimpin justru diukur dari keberhasilannya menyiapkan suksesornya.

Maka kalau mereka tidak bisa memilih penggantinya sendiri, mereka akan memperkuat manajer di bawahnya agar siapapun yang terpilih menjadi penggantinya merupakan manajer yang handal. Hanya dengan cara inilah roda organisasi akan terus bergerak ke depan.

Tentu tidak mudah mendeteksi pemimpin level ini selain dari apa yang telah mereka lakukan untuk mengembangkan lini di bawahnya. Biasanya kita baru bisa menyebut seseorang berada pada level ini ketika mereka sudah pensiun. Pada waktu mereka meninggalkan kursi mereka, maka kita baru bisa menyaksikan apakah orang-orang yang dihasilkan mampu meneruskan kemajuan oraganisasi atau tidak. Tentu saja maju mundurnya organisasi paska kepemimpinan mereka sangat ditentukan oleh pemimpin berikutnya, masalahnya kita tidak bisa membedakan dengan jelas siapa yang membuat suksesor ini maju atau mundur. Mentornya, atau mentee-nya?

Pemimpin paripurna atau level 5 adalah pemimpin yang mengedepankan Personhood atau kepribadiannya yang teguh dan tegas. John Maxwell menyebutnya sebagai pemimpin yang mempunyai professional will dan strategic humility. Kepemimpinan ini dikenal juga sebagai spiritual leader yang ditunjukkan dari perilaku yang merupakan cerminan dari pergulatan bathin dalam dirinya (inner voice). Pemimpin level ini tidak menunjukkan kebengisan melainkan ketulusan hati.

Maka hasilnyapun sangatlah powerful yaitu respek yang mendalam dari para pengikutnya (Respects).

Orang baik seperti Gandhi saja ternyata juga dicaci maki dan diancam pelbagai pembunuhan, namun satu hal yang jelas, dia diikuti  oleh banyak orang karena kepribadiannya dan apa yang ia suarakan. Alih-alih takut, orang-orang patuh karena respek.

 Tabik

-haridewa-

Batam 8 Januari 2013

 

Musafir

Seorang musafir muda tersesat di padang pasir, berhari-hari tidak makan
dan minum. Sedemikian kehausan sehingga berjalan terseok-seok. Sepatu dan pakaiannya sudah rusak, rambutnya kusut masai dan berantakan tertiup angin. Hampir putus asa, akhirnya bertemu dengan musafir perempuan yang naik kuda
dan membawa dua kantung besar air.

Dimintanya air barang beberapa teguk pada perempuan itu, namun
perempuan itu tak mau memberikan, malah ujarnya “Aku sendiri perlu air ini untuk perjalanan jauhku, jika kau mau kuberikan kamu topi,” seraya mengambil topi lain yang ada di tasnya. Musafir muda ini menolak pemberian topi, dan bersikeras meminta air.

Demikian pula perempuan ini tidak bersedia memberi air dan hanya mau memberi topi. Akhirnya musafir muda ini marah dan pergi.

Dua ratus meter kemudian ia berjalan terseok-seok, akhirnya bertemu
dengan musafir laki-laki tua yang naik keledai dengan membawa dua kantung
besar air juga. Dimintanya air barang beberapa teguk pada laki-laki tua itu, namun laki-laki tua itu tak mau memberikan, seraya berujar, “Aku sendiri juga perlu air ini untuk perjalanan yang masih jauh, jika kau mau kuberikan kamu sepatu,” katanya sambil mengambil sepatu lain yang ada di tasnya.

Musafir muda ini menolak pemberian sepatu itu, dan bersikeras meminta air. Namun laki-laki tua ini tidak bersedia memberi air dan hanya mau memberi sepatu. Akhirnya musafir muda ini tambah marah dan pergi.

Selang lima ratus meter dari situ, ia tiba di sebuah oasis besar yang airnya
sangat jernih dan teduh. Dengan bergegas ia menuju tepi air untuk mengambil minum. Namun tiba-tiba telah berdiri di depannya dua orang tentara kerajaan yang menjaga oasis itu, sambil berkata “Dilarang keras mengambil air ini, kecuali kamu
memakai topi dan sepatu!”.
***

Sahabatku, kejadia serupa musafir tadi mungkin sering kita alami. Kita ngotot berdoa dengan harapan ini dan itu. Namun kenyataannya Allah memberi kita hasil yang tidak sesuai dengan doa kita. Alih-alih bersyukur, kita justru menggerutu dan tidak mau menerima hasil tadi.

Namun di kemudian hari kita baru menyesal ketika hal-hal yang telah diberikan Allah itu ternyata merupakan anasir dari ultimate goal yang pernah kita panjatkan kepadaNya.

Bukankah Allah pernah berfirman:
"Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Maka cobalah untuk selalu mengambil kesempatan pertama yang muncul di hadapan Anda, sejelek apapun kesempatan itu menurut Anda

Tabik
-haridewa-

Misteri Karung Besar

Kisah ini terjadi belasan tahun yang lalu. Saya tergelitik untuk menuliskannya sebab setiap mengingat kisah ini maka tawa saya pastilah tergelak. Nah, saya ingin berbagi gelak tawa tadi meski saya yakin akan berbeda kadarnya untuk Anda yang tidak mengalaminya sendiri.
 
Ceritanya terjadi pada perjalanan kepulangan saya dari rumah calon mertua sekitar tujuh belas tahun  yang lalu. Waktu itu saya berkunjung ke Lampung dalam rangka bersilaturahmi kepada calon mertua ketika liburan kuliah. Maklum, saya dan calon istri waktu itu memang melakukan LDR (Long Distance Relationship), karena saya masih kuliah di Jogjakarta, sementara calon istri saya tinggal di Tanjung Karang, Lampung.  Bersama seorang sahabat, saya menumpang bis ‘Giri Indah’ ekonomi jurusan Lampung-Jogja. Namanya juga bis ekonomi, maka pihak penyedia jasa tidak memberikan ‘seat number’ kepada para penumpangnya. Alhasil untuk bisa memeroleh tempat duduk yang nyaman, para penumpang harus berebut masuk ke dalam bis, dan memilih tempat duduk yang diinginkan.
 
Peristiwa yang mengundang senyum mulai terjadi di pool bus di bilangan jl. Sukarno Hatta, Bandar Lampung itu. Karena berebut masuk ke dalam bis, maka ada beberapa orang yang terpeleset dan jatuh. Salah satu penumpang yang jatuh adalah seorang bapak tua berusia sekitar tujuhpuluhan, yang meski sudah dibantu oleh anak perempuannya (seorang ibu muda dengan menggendong anak kecil), namun karena dia tidak mau melepas karung besar yang berada di pundaknya, yang entah berisi apa, sehingga dia terpeleset sampai berkali-kali. Penumpang lain yang juga berebut masuk agak geregetan dengan tingkah bapak tua tadi. Pasalnya langkah mereka memasuki bis juga menjadi terganjal karena karung besar tadi menghalangi pintu bis. Meskipun telah berebut masuk bis, namun oleh awak bis, bapak tua tadi akhirnya diminta untuk duduk pada barisan kursi paling belakang, hanya karena dia lagi-lagi tidak mau melepas karung besarnya. Dan hanya pada barisan kursi paling belakanglah tersedia ruang yang cukup untuk meletakkan karungnya tadi. Saya hanya bisa tersenyum dengan tingkah para penumpang tadi.
 
Sesaat lagi bis mau diberangkatkan. Kondektur sedang melakukan cek atas tiket penumpang. Tiba-tiba bapak tua tadi minta ijin ke kamar kecil, rupanya dia mau buang air besar. Kondektur mengijinkan, karena dia masih melakukan cek tiket. Setelah semua pengecekan selesai, akhirnya bis berangkat juga. Namun baru berjalan sekian kilometer, di daerah terminal Panjang, bapak tua tadi minta kondektur untuk mencari WC umum, karena dia merasa harus BAB lagi. Meski dengan enggan, setelah bicara dengan sopir, akhirnya bis berhenti di sebuah pompa bensin. Bis meluncur lagi menuju pelabuhan Bakauheni. Beberapa kali bis harus berhenti di pompa bensin atas permintaan bapak tua tadi.
 
Dini hari,  kami sudah berhasil menyeberangi selat Sunda dengan selamat. Bis meluncur di jalan tol Merak-Jakarta. Di tengah deru mesin bis menembus kota metropolitan, terdengar sungutan kondektur yang menolak untuk mencari WC umum lagi. Rupanya bapak tua tadi kebelet BAB lagi. Kondektur berkeras bahwa mereka tidak mungkin berhenti karena sedang berada di jalan bebas hambatan. Selain berbahaya, juga bisa kena tilang polisi. Mendengar keributan kecil tadi, beberapa penumpang, termasuk saya dan sahabat saya tadi menanyakan ada masalah apa kepada kondektur. Menyadari kondisi  ’genting ’ yang sedang terjadi, kontan kami berteriak kepada sopir, “Pirr, minggir Pir, cari WC umum, daripada kita semua mencium aroma yang tidak kita inginkan.“ Sopirpun mengalah. Namun karena tidak melihat tanda-tanda keberadan ‘rest area‘, maka bis menepi di daerah yang banyak semak-semaknya. Dengan tergesa bapak tua tadi turun dan menghilang di kerimbunan semak-semak.
 
Setelah bapak tua tadi menunaikan hajatnya dan kembali ke bis, sopir segera memacu kendaraannya demi menghindar kepergok oleh Polisi Patroli Jalan Raya dan demi mengejar waktu yang terbuang gara-gara terlalu sering berhenti. Kami terbuai lagi dalam lamunan dan tidur ayam kami masing-masing. Tak berapa lama kami dikagetkan oleh isak tangis ibu muda yang menyertai bapak tua tadi. “Ada apa Bu?“, tanya penumpang yang duduk di bangku sebelah ibu tadi. “Bapaak....!“, ucap ibu tadi lirih... Para penumpang berbisik-bisik berspekulasi, jangan-jangan terjadi apa-apa pada bapaknya. “Iya, Bapaknya kenapa?“, sambung penumpang tadi ikut cemas. “Bapak khan men... mencret“, katanya terbata-bata. “Iya, kami tahu, Bapak situ mencret, wong kami juga ikut terkena imbasnya kok“, kata penumpang tadi mulai tidak sabar, “tapi kenapa pagi-pagi situ sudah nangis?“ “Tadi waktu bapak buang air di semak-semak, ternyata celana kolornya terkena kotorannya. Terus......terus, celana itu dibuang“, masih dengan terbata-bata ibu tadi berusaha menceritakan ‘musibah‘ yang menimpa bapaknya. Dengan menahan tawa penumpang tadi mencoba menghibur,“Halah, cuma celana kolor kok ditangisi. Nanti beli lagi khan gampang! Sudah, jangan nangis lagi. Yang penting bapak situ nggak kenapa-napa to?“ “Bbu..bukan gitu Oom, mma.. masalahnya duit bapak saya duaratus ribu dijahit di kolor itu. Tadinya dia pikir disembunyikan di karungnya. Ternyata dijahit di kolornya, huaaaa huaaa”, meledaklah tangis ibu tadi meratapi kehilangan uang duaratus ribunya. (Tujuhbelas tahun lalu dengan uang duaratus ribu, kita bisa membeli emas seberat sekitar 7 gram. Dengan harga rata-rata emas sekarang sekitar 700 ribuan, maka uang ibu itu berarti setara dengan 4,9 juta. Sebuah angka yang lumayan besar bagi mereka)
 
Demi rasa solidaritas, akhirnya kami sepakat untuk ’urunan’, mengumpulkan uang untuk mengganti kehilangan keluarga tadi. Kalau tidak salah, terkumpul juga uang sebesar seratus sembilanpuluhan, yang kemudian digenapkan oleh pak sopir menjadi duaratus ribu rupiah.
 
Sampai sekarang pengalaman ini masih sering membuat saya tersenyum sendiri. Saya tidak tahu di mana ibu tadi sekarang berada dan apakah bapaknya masih hidup? Yang penting ada pelajaran berharga yang bisa saya ambil yaitu:
 
1.       Bahwa ternyata sebuah solidaritas bisa terbangun dari sebuah perjalanan
2.       Sekarang saya sadar, kenapa bapak tua tadi tidak pernah mau melepas karung besarnya, hehehe.
 
 
Dalam suasana lebaran ini, sekalian saya mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
 
Tabik,
 
haridewa
PS: Inget kisah ini gak Wid? :)

Istighfarlah

Saya mendapat kisah ini dari seorang teman. Menurut saya ini kisah yg sangat bagus, maka sy ingin berbagi kepada Anda semua....

Fragmen 1
Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, ‘Istighfarlah engkau kepada Allah.’ Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah, mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata, ‘Doakanlah saya agar dikaruniai anak.’ Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah…mintalah ampunan kepada Allah.’Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering. Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah…mohonlah ampun kepada Allah.’

Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya, ‘Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’ Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, ‘Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya),

“Maka, Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, -seseungguhnya DIA  adalah Maha Pengampun-, niscaya DIA akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh [71]: 10-12)

Fragmen 2
Dikisahkan bahwa, sekali waktu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bepergian untuk suatu keperluan sampai kemalaman di sebuah kampung. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, beliaupun mampir ke sebuah masjid kecil untuk shalat sekaligus berniat bermalam di sana. Seusai shalat dan ketika hendak merebahkan tubuh tua beliau di masjid kecil tersebut guna melepaskan sedikit kepenatan malam itu, tiba-tiba sang penjaga masjid datang dan melarang beliau tidur di dalamnya. Sang penjaga tidak mengetahui bahwa, yang dihadapinya adalah seorang ulama besar. Sementara Imam Ahmad juga tidak ingin memperkenalkan diri kepadanya. Beliau langsung keluar dan berpindah ke teras masjid dengan niat beristirahat di sana. Namun sang penjaga tetap saja mengusir beliau secara kasar dan bahkan sampai menarik beliau ke jalanan.

Tapi takdir Allah, tepat saat Imam Ahmad sedang kebingungan di jalan itu, melintaslah seseorang yang ternyata berprofesi sebagai pembuat dan penjual roti. Akhirnya dia menawari dan mengajak beliau untuk menginap di tempatnya, juga tanpa tahu bahwa, tamunya ini adalah Imam Ahmad bin Hambal.

Ketika sampai di rumahnya, sang lelaki baik hati itupun segera mempersiapkan tempat bermalam untuk Imam Ahmad dan mempersilahkan beliau agar langsung istirahat. Sedangkan dia sendiri justru mulai bekerja dengan menyiapkan bahan-bahan pembuatan roti yang akan dijualnya esok hari.

Ternyata Imam Ahmad tidak langsung tidur, melainkan malah memperhatikan segala gerak gerik sang pembuat roti yang menjamu beliau. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.
Imam Ahmad merasa penasaran lalu bertanya: Sejak kapan kamu selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?
Ia menjawab: Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.

Sang Imam melanjutkan pertanyaan beliau: Lalu apakah kamu bisa merasakan adanya hasil dan manfaat tertentu dari kebiasaan istighfarmu ini?
“Ya, tentu saja”, jawab sang tukang roti dengan cepat dan penuh keyakinan.
“Apa itu, kalau boleh tahu?”, tanya Imam Ahmad lagi.

Iapun menjelaskan seraya bertutur: “Sejak merutinkan bacaan doa istighfar ini, saya merasa tidak ada satu doapun yang saya panjatkan untuk kebutuhan saya selama ini, melainkan selalu Allah kabulkan, kecuali satu doa saja yang masih belum terijabahi sampai saat ini.”

Sang Imam semakin penasaran dan bertanya: “Apa gerangan doa yang satu itu?”
Si lelaki tukang roti nan saleh inipun melanjutkan jawabannya dan berkata: “Ya, sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hambal…”
Mendengar jawaban dan penjelasan terakhir ini, Imam Ahmad terhenyak dan langsung bangkit serta bertakbir: “Allahu Akbar! Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa, Allah telah mengabulkan doamu..”

Disini gantian si pembuat roti yang kaget dan penasaran: “Apa yang tuan  katakan ? Doaku telah dikabulkan ? Bagaimana caranya ?  Dimana saya bisa menemui Sang Imam panutan saya itu? “

Selanjutnya Imam Ahmad menjawab dengan tenang: “Ya. Benar, Allah telah mengijabahi doamu. Ternyata semua yang aku alami hari ini, mulai dari kemalaman di kampungmu ini, diusir sang penjaga masjid, bertemu dengan kamu di jalanan, sampai menginap di rumahmu sekarang ini, rupanya itu semua hanya merupakan cara Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Ya, orang yang sangat ingin kamu temui selama ini telah ada di rumahmu, dan bahkan di depanmu sekarang. Ketahuilah wahai lelaki saleh, aku adalah Ahmad bin Hambal…!

Dan tentu setiap kita sudah bisa membayangkan, apa yang mungkin terjadi dan dilakukan oleh sang tukang roti saleh tersebut setelah itu…!

Saya himbau sahabat2ku utk tidak mempercayai kisah ini sebelum mempraktekkan sendiri. Istighfarlah dalam setiap kesempatam kawan, maka kau akan mendapat banyak kemudahan.

Rahimahumallahu rahmatan wasi’ah…!

haridewa
-ditengahlautselatsunda-

Aku Punya Allah

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11
 
 
 
“Aku punya Allah. Dia pasti akan menolongku”. Mungkin seringkali Anda mendengar statement seperti itu terucap dari kolega, teman atau keluarga Anda. Atau bahkan mungkin statement tersebut justru meluncur dari mulut Anda sendiri. Apa yang Anda rasakan ketika mendengar seseorang mengucap kalimat tersebut? Serasa orang tersebut begitu religiuskah? Atau seolah orang yang telah ‘berhasil’ burucap seperti itu adalah orang yang telah kaffah ibadahnya. Telah sempurna dalam melakukan semua usaha dan tinggal menunggu Allah menentukan nasibnya. Kalau memang seperti itu sikap dan perilaku orang yang berucap statement tersebut, maka alangkah mulia mental spiritual orang tadi.
 
Namun pernahkah Anda menjumpai orang yang sekedar berucap, tanpa terlihat sebuah usaha dalam kesehariannya. Mereka ini rajin berdoa dan mengatasnamakan Tuhannya namun tanpa mereka sadari mereka ternyata tidak melakukan usaha demi pencapaian doanya itu. Banyak sekali contoh yang bisa kita dapatkan. Mungkin Anda mempunyai teman yang kelihatan selalu optimis namun kehidupannya belumlah seoptimis sikapnya. Dari bibirnya sering terlafalkan dzikir namun kinerjanya malas-malasan, datang ke kantor terlambat, sering bermain games di komputernya dlsb. Kala ditegur atasannya atau ditanya oleh teman kantor maka dia akan mengemukakan statemen andalannya, “Aku punya Allah. Dia pasti akan menolongku”.
 
Pagi ini kebetulan saya mendapatkan sebuah email ‘pencerahan’ dari seorang kolega kantor yang mengutip sebuah artikel Jaya Suprana sbb: “Hidup itu seperti huruf i, tugas kita membuat garis dan tugas yang Maha Kuasa membuat titik di atasnya. Buatlah garis sebanyak-banyaknya karena kita tidak tahu mana yang akan diberi titik oleh-Nya. Jangan sampai Dia memberi titik sementara kita belum membuat garis.”
 
Pengusaha Jamu yang juga pendiri MURI [Museum Rekor-Dunia Indonesia] ini melanjutkan, “Huruf i itu juga bermakna, hidup harus punya 5i.” Artinya, kata Jaya Suprana, manusia harus punya idealisme atau sesuatu yang diperjuangkan.
 
“Kedua, jadilah manusia yang inovatif, punya ide dan gagasan yang ditawarkan kepada masyarakat. Selain itu, manusia juga harus punya inisiatif, tak boleh menunggu tetapi harus proaktif,” tambahnya.
 
Kemudian Jaya Suprana melanjutkan, i yang keempat adalah implementasi. “Percuma kita punya ide, gagasan dan inovasi bila tidak diimplementasikan. Dan percayalah, apabila kita melakukan 4i tersebut maka i yang kelima adalah insya Allah kita berhasil.”
 
Saya sangat setuju dengan prinsip 5i nya Jaya Suprana ini, karena memang Allah akan menolong kita setelah kita berusaha menolong diri kita dulu. Sebuah scenario lain yang mungkin pernah Anda Alami, atau pernah anda dengar. Ada seseorang atau sekelompok orang yang mulutnya sangat ‘tajam’, dia bisa mengkritik orang lain dengan sangat pedas. Mungkin apa yang dikatakannya kadangkala ada benarnya, namun cara penyampaiannya selalu merendahkan. Seolah hanya dialah pemegang kebenaran dunia ini. Alasannya selalu amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan memerangi kejahatan). Karena merasa benar, maka Allah pasti akan menolong mereka. Mereka lupa bahwa amar ma’ruf haruslah bil ma’ruf juga (menegakkan kebenaran dengan cara yang benar), karena justru bil ma’ruf inilah sebuah inisiatif yang harus dilakukan agar Allah senantiasa menolong kita. Karena meski kita merasa punya Allah, kenyataannya Allah tidak akan serta merta menolong kita. Sebuah contoh lain lagi, ketika kita berhadapan dengan preman. Meski kita merasa benar dan punya Allah, namun lisan kita adalah senjata yang telah diberikan Allah untuk mengucapkan kata-kata yang mampu melunakkan hati para preman ini, bukan sebaliknya malah berkata sesumbar dan menantang para preman tadi yang memungkinkan mereka melukai kita. Allah tidak akan serta merta menurunkan malaikatnya untuk menolong kita, karena kita sudah dipersenjatai dengan akal budi yang memungkinkan kehalusan tutur kata kita dalam menghadapi para preman tadi.
 
Mungkin Anda pernah mendengar cerita di bawah ini:
 
Pada suatu hari terjadi banjir besar, ada seorang korban yang selama ini hidupnya sangat taat beragama, iman yang luar biasa, tekun berdoa. Terkena banjir inipun dia berdoa terus mohon pertolongan Allah. Para tetangganya mulai mengungsi dan mengajak dia tetapi dia tidak mau karena dia pikir Allah akan menolongnya. Kemudian datang sekelompok pemuda kampung itu menggunakan kayu yang diikat sebagai perahu, mengajaknya untuk mengungsi, dia pun tidak mau ikut karena dia sangat yakin Allah akan menolongnya. Sampai akhirnya datang tim SAR menawarkan bantuan,  dia juga tidak mau ditolong. Akhirnya orang yang taat beribadah inipun meninggal karena tenggelam.
 
 
 
Singkat kata di akhirat dia bertemu  Tuhan dan dia langsung protes : " Tuhan kenapa Engkau tidak menolongku, padahal aku sudah minta tolong padaMu ?" Dengan tersenyum Tuhan menjawab "Lho ... kan sudah Aku kirim pertolongan, apalagi sampai tiga kali "
 
Wallahualam bissawab
 
-haridewa-

Aku Menikmati Pagiku di Jalan Bebas Hambatan

Aku menikmati pagiku di jalan bebas hambatan.  Awalnya perubahan ini terasa sangatlah menantang (karena aku sudah menghapus kata berat dari kamus kehidupanku), karena biasanya aku keluar rumah selalu bersamaan dengan mengantar anak-anakku ke sekolah mereka menjelang pukul tujuh. Saat itu tentunya mentari telah dengan gagah menyinarkan kilaunya. Sementara kini, lampu besar mobilku masih harus kunyalakan demi terlihatnya jalan raya di depanku. Atau minimal agar kendaraan lain mampu menyadari keberadaan mobilku sehingga kami akan terhindar dari kecelakaan yang tentunya tidak kami inginkan.

Karena tuntutan kehidupan yang kian hari semakin mengedepankan besaran angka rupiah, maka aku memutuskan meninggalkan pekerjaan di kantor lama yang sudah lima belas tahun aku geluti. Aku kemudian berpindah ke kantor baru yang notabene lokasinya lebih jauh dan terletak di pusat kemacetan kota Jakarta. Konsekuensi logis dari keputusanku tadi tidaklah mudah. Aku harus berangkat lebih pagi, yang artinya aku juga harus mengatur ulang alarm tubuhku agar selalu bangun lebih pagi lagi. Begitu lepas dari salam shalat subuhku, sementara orang lain bisa kembali ke peraduannya, aku langsung memacu kendaraanku menuju jalan bebas hambatan tadi.

Aku sadar bahwa hidup ini merupakan kumpulan dari pilihan-pilihan. Namun aku juga lebih sadar lagi bahwa nasibku tidak akan berubah kalau aku tidak merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki kehidupanku  tadi. Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa rejeki itu ada di tangan Tuhan. Seratus persen aku setuju dengan ungkapan ini. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan akan mengantarkan rejeki itu, atau kita yang harus menjemputnya? Tuhan memang sudah memberikan porsi tiap insan di dunia ini dan Dia juga sudah berjanji bahwa tidak akan tertukar jatah antara satu insan dengan insan lainnya. Namun tentunya Tuhan tidak akan dengan mudah memberikan begitu saja rejeki itu, tanpa kita proaktif menjemputnya.

Dalam menjalani kehidupan ini ada dua hal penting yang harus kita pahami untuk mencapai kesuksesan kita. Dua hal tadi adalah kesabaran dan rasa kebersyukuran. Selama ini dua hal tadi sering disalahpahami hanya bisa digunakan oleh para ulama, ustadz, pastur, pedanda dan para praktisi ruhawi saja. Bahwa untuk mencapai titik tertinggi kemuliaan mereka, maka mereka perlu selalu bersabar dan bersyukur. Namun bagi para praktisi bisnis, dua hal ini dirasa tidak cocok. ‘Masak dalam bisnis kok harus sabar dan syukur?’ Yang ada ya harus profit, profit dan profit lagi. Sikat segala kesempatan mumpung masih ada waktu! Orang sabar masuk kubur, kata mereka. Kalau sudah dapat profit seratus ya harus segera mencari dua ratus. Mana ada syukurnya !

Sabar dulu sahabatku yang berbahagia, tak perlu emosi Anda terpancing dengan statement saya di atas. Mari kita telaah satu per satu komponen penting yang bisa menghantarkan kita pada kesuksesan kita.

Sabar
Selama ini kita memaknai sabar sebagai sebuah kepasrahan nan ketakberdayaan, duduk diam tak berbuat apa-apa sembari menunggu keajaiban datang. Sabar yang saya maksud di sini adalah sabar dalam bentuk aktif, bukan pasif. Sabar adalah kombinasi rasa syukur, optimisme dan kegigihan. Rasa syukur akan membuat manusia mampu mengambil hikmah dari kejadian buruk yang menimpanya. Optimisme akan membuat orang yang tertimpa musibah atau hal buruk tidak kehilangan harapan dan kegigihan akan membuatnya terus berjuang memperbaiki keadaan. Jadi setelah kita melakukan semua hal terbaik yang bisa kita lakukan, setelah kita menembus batasan tertinggi potensi kita barulah kita berserah kepada Allah.

Sabar merupakan komponen wajib dalam membentuk karakter manusia. Karakter tidak bisa dibentuk dengan cepat dan mudah, harus melalui proses panjang yang seringkali tidak mudah. Nabi saw. Bersabda : Barang siapa ditimpa musibah lalu membaca: Inna lillahi wa inna ilahi raaji’un seperti yang diperintahkan Allah, dan berdoa : Ya Allah berilah pahala bagiku, dalam musibah ini, dan gantilah yang lebih baik, maka Allah memberinya (yang lebih baik). Karena ternyata SABAR adalah Saya Ahli Bersyukur Atas Rahmat-Nya.

Syukur
Kata syukur diambil dari kata syakara, syukuran, wa syukuran, dan wa syukuran yang berarti berterima kasih kepada-Nya. Bila disebut kata asy-syukru, maka artinya ucapan terimakasih, syukranlaka artinya berterimakasih bagimu, asy-syukru artinya berterimakasih, asy-syakir artinya yang banyak berterima kasih. Syukur menurut para ulama adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya di mana rasa senang, lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.

Menurut Arvan Pradiansyah, dalam syukur terdapat dua unsur yaitu menerima (accepting) dan mengeksplor (exploring). Mengucapkan terimakasih, merasa lega dan senang serta menyebut nikmat yang telah kita terima merupakan indikasi dari unsur accepting tadi. Namun ternyata belumlah lengkap ungkapan syukur kita tadi ketika kita belum melakukan ekplorasi atas nikmat yang telah kita terima tadi. Mari kita ikuti ilustrasi berikut ini. Suatu hari tiba-tiba Anda mendapatkan hadiah berupa smartphone dari bos Anda. Tentunya Anda akan menerima hadiah tersebut dengan wajah berseri-seri, tak lupa dari mulut Anda meluncur  bertubi-tubi ucapan terima kasih. Sebuah reaksi yang sangat wajar bukan? Dan tentunya wajah bos Anda juga tak kalah sumringahnya menyadari kegembiraan Anda menerima (accepting) hadiah tersebut. Waktupun terus berjalan, dengan antusias Anda sudah menggunakan smartphone hadiah tadi untuk melakukan telephon dan sms. Sampai Anda sadari bahwa raut bos Anda selalu kelihatan masygul kalau berbicara dengan Anda. Tahukah Anda apa penyebabnya? Ya, dia merasa telah salah menghadiahi sebuah smartphone kepada Anda yang hanya Anda gunakan untuk telephon dan sms. Anda tidak melakukan eksplorasi fungsi lain benda canggih tersebut. Padahal masih banyak fungsi lain dari sebuah smartphone selain untuk bertelephon dan ber sms-ria. Anda bisa menjelajah internet misalnya. Atau melakukan chatting, bahkan videocall. Karena menganggap Anda belum bersyukur, bisa saja bos Anda mengambil lagi hadiah tersebut dan diberikannya kepada orang lain yang menurutnya akan mengeksplorasi fungsinya.

Pembaca yang budiman, sebagai ciptaan Allah paling sempurna,  kita telah dikarunia pelbagai potensi untuk menghadapi segala macam tantangan hidup. Kita hanya akan dikatakan bersyukur setelah kita melewati tahapan menerima dan mengeksplor tadi. Oleh karena itu kita perlu ngulik segala sumber daya yang ada dalam diri kita dan mengembalikannya kepada alam semesta ini dalam bentuk manfaat yang sebesar-besarnya. Maka jadilah rahmatan lil alamin, rahmat untuk alam beserta segala isinya. Karena bila kita lalai, bisa saja Allah  mengambil semua potensi kita dan memberikannya kepada orang lain. Ya, karena SYUKUR adalah Saya Yakin Usaha Kita Urusan Rabb.

Nah, pilihan yang telah aku ambil seperti ceritaku pada awal tulisan ini merupakan bagian dari caraku mengungkapkan rasa sabar dan syukurku. Aku tidak mau duduk diam berpangku tangan saja, dan aku mencoba mengoptimalkan segala potensi yang telah Allah karuniakan kepadaku. Aku ingin mencapai kesuksesan dan aku ingin menjadi rahmatan lil alamiin. Dan ternyata aku memang menikmati pagiku di jalan bebas hambatan.

Semoga bermanfaat

Tabik

-haridewa-

Afirmasi atau Konfirmasi

Seringkali kita mendengar  yel-yel atau teriakan pemacu semangat dalam seminar-seminar pengembangan diri, atau mungkin ketika perusahaan kita melakukan annual meeting. Dimulai dari yang sederhana, “Semangat pagi! Yes, we can! We are the best, Yes, we are the champion…” hingga yang heboh dan berupa nyanyian. Sebagian orang melakukan yel itu dengan penuh semangat, namun sebagian lainnya melakukannya dengan apa adanya. Sebenarnya bermanfaat atau tidak sih yel-yel seperti itu bagi kita? Pertanyaan ini mungkin seringkali mengganggu pikiran kita.
Kita lupakan sejenak pertanyaan tersebut, dan marilah kita tengok sejenak sejarah perjuangan bangsa kita. Pada jaman perang kemerdekaan, kita mengenal teriakan perang semacam yel-yel  seperti “Merdeka..!”, “Allahu Akbar!” yang tentunya menjadi pemicu semangat para pejuang demi mencapai kemerdekaan bangsa ini. Dari ilustrasi ini, kita bisa melihat fungsi dari yel semacam ini.
Dalam sebuah pelatihan, ketika saya mengajak para peserta untuk meneriakkan yel, Yes We Are The Champhion, tiba-tiba ada seorang peserta yang bertanya, “Pak, apakah afirmasi seperti ini akan ada manfaatnya?” Sejenak saya tersentak dengan pertanyaan tadi, namun bukan trainer namanya kalau tidak bisa langsung menjawab pertanyaan seperti itu. Sebelum menjawab tanya dari peserta tadi, saya justru balik bertanya, “siapakah Anda sebenarnya?”. Agak gelagapan juga peserta tadi mendapat pertanyaan balik dari saya. “Saya tidak mengerti pertanyaan Bapak..” “Baiklah, coba Anda perhatikan film berikut..” Sejurus kemudian saya mulai memutarkan film tentang perjalanan spermatozoa menuju sel ovum. Dari sekian juta spermatozoa yang berebut menuju sel telur tadi, ternyata hanya satu yang berhasil membuahi ouvum tadi. “Nah, Anda sudah mengerti sekarang, siapa diri Anda?” “Ya Pak, saya adalah sang pemenang” “ Kenapa?” “ Karena hanya saya, yang berhasil membuahi sel telur seperti terlihat dalam film tadi..” “ Bagus, akhirnya Anda mengerti!”
Kemudian saya jelaskan, bahwa kita ini sudah terlahir sebagai pemenang, so yel yang tadi diteriakkan bukanlah sebuah afirmasi melainkan konfirmasi. Loh, apa pula beda di antara keduanya. Menurut Kamus  Besar Bahasa Indonesia:
Konfirmasi: penegasan; pengesahan; pembenaran  
Afirmasi: penetapan yang positif; peneguhan atau  pernyataan atau pengakuan yang sungguh-sungguh (di bawah ancaman hukum) oleh orang yang menolak melakukan sumpah.
Karena sedari lahir kita memanglah seorang pemenang, maka teriakan Yes We Are The Champion merupakan sebuah penegasan dan pengesahan atas status pemenang itu tadi. Maka dari itu, saya sebut yel tadi sebagai sebuah KONFIRMASI. Sementara afirmasi barulah merupakan sebuah penetapan tujuan yang positif, sebuah goal setting. Bukan berarti sebuah afirmasi tidak penting, karena untuk mencapai tujuan kita juga memerlukan sebuah goal setting. Namun bagi saya pribadi, konfirmasi mempunyai nuansa positif yang lebih kuat dan energi yang luar biasa dalam mencapai dream kita.
Hari ini 42 tahun yang lalu saya dilahirkan dari keluarga yang tidak bisa dibilang kaya, namun tidak juga kekurangan. Berbagai ucapan selamat datang dari keluarga, kolega, sahabat dan handai tolan.   Semuanya mendoakan kebahagiaan dan kesuksesan saya. Maka dengan tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda semua untuk doa yang tentunya langsung saya KONFIRMASI, karena kebahagiaan dan kesuksesan memang sudah terbawa bersama kelahiran saya 42 tahun yang lalu.
 
-haridewa-
5 Maret 2014
Bertambah satu, berkurang satu jualah

Kisah Seekor Sapi

Seorang guru yang bijaksana dan berpengalaman ingin mengajarkan muridnya tentang rahasia hidup bahagia dan sejahtera. Untuk mengajarkan ilmu ini, ia memutuskan mengajak muridnya melakukan perjalanan ke salah satu desa yang sangat miskin didaerahnya. Kemiskinan sudah sangat parah dan tampaknya penduduk daerah itu sudah pasrah akan nasib mereka.

Guru itu lalu meminta muridnya untuk mencari rumah termiskin diperkampungan miskin itu. Rumah itu akan menjadi penginapan mereka malam ini. Setelah berjalan, melihat, dan bertanya kepada kepala desa, akhirnya mereka menemukan gubuk reyot yang sudah hampir rubuh.

Bangunan itu sudah hampir roboh, terletak diujung jalan pinggir desa. Berupa bangunan semi permanen yang dipancangkan sekenanya menggunakan bamboo, jerami, dan gedek. Pemiliknya, begitu mendengar ada orang yang datang, menyambut guru dan murid itu dengan hangat.

Dia bahkan mempersilahkan dua orang musafir itu untuk menginap dirumahnya yang sempit dan penuh sesak. Karena ada 8 orang yang tinggal dalam gubuk reyot berisi Ayah, Ibu, empat orang anak, serta kakek nenek didalamnya. Tidak ada harta berharga yang ada dirumah ini. Bahkan mereka tidak memiliki kursi untuk menerima tamu. Semua kegiatan dilakukan secara lesehan beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan.

Sapi

Namun, ketika guru dan murid itu melihat pekarangan belakang rumah, mereka menemukan sebuah fakta unik. Tentang kenyataan bahwa keluarga miskin ini memiliki seekor sapi. Tak ada yang special dengan binatang itu, tetapi kehidupan dan aktivitas harian keluarga tersebut selalu berhubungan dengan sang sapi.

“Jangan lupa cari rumput. Beri sapi itu makan”

“Perah susunya”

“Ikat erat-erat sapinya, kalau sudah malam masukkan ia kekandang. Jangan lupa dikunci”

Bisa dibilang, sapi memainkan peranan penting dalam keluarga tersebut, walaupun susu sapi yang dihasilkan sang sapi tidak banyak dan hampir tidak cukup untuk menghidupi mereka. Sang sapi adalah satu-satunya hal yang mampu menjaga keluarga tersebut dari kemiskinan kronis bin akut. Bahkan sapi itu mampu menaikkan sedikit gengsi mereka diantara keluarga miskin yang lain.

Dirumah yang lebih pantas disebut kandang sapi inilah guru dan murid itu bermalam. Sang murid masih bertanya-tanya dan penasaran tentang pelajaran yang akan ia terima dari gurunya. Setelah makan malam, tak lupa sang guru berpesan kepada tuan rumah jika mereka akan melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali dan tidak akan membangunkan mereka.

Membangunkan Sapi

Pagi-pagi sekali sebelum shubuh sang guru sudah membangunkan muridnya. Belum ada satupun anggota keluarga miskin itu yang bangun.

“Sudah tiba saatnya kamu belajar tentang pelajaran yang membawa kita ketempat yang buruk ini”.

Selama kunjungan singkat itu, mereka telah menyaksikan kehidupan yang sangat memprihatinkan, tetapi anak muda tersebut masih belum mengerti penyebab kehidupan yang menyedihkan dari keluarga itu. Bagaimana mereka membiarkan diri mereka jatuh ketitik ini? Apa yang menahan mereka disini?

“Ikutilah aku. Mari kita pergi”.

Sang guru berjalan mengendap-ngendap keluar rumah. Menutup pintu. Lalu berputar kearah pekarangan belakang rumah. Ia lalu merusak pintu kandang sapi, dan masuk kekandang sempit tempat penyimpanan harta satu-satunya keluarga miskin yang malang ini.

Setelah dekat, tiba-tiba sang guru mengeluarkan pisau dari balik bajunya dan dalam sekali tebas menggorok leher sapi yang sedang berbaring dikandang. Leher sapi langsung putus tanpa sempat mengeluarkan lenguhan keras. Darah membasahi baju sang Guru. Ketika ia keluar kandang, muridnya sangat kaget.

“A…Apa yang kau lakukan Guru!!!” bisik sang murid agar tidak membangunkan keluarga miskin ini. “Bagaimana mungkin kau membunuh binatang malang ini? Satu-satunya harta keluarga yang telah menyediakan tempat bermalam bagi kita. Pelajaran macam apa ini? Mereka akan menjadi seperti apa dimasa depan?”

Cecaran pertanyaan terus dilemparkan oleh sang murid. Guru tua itu hanya tersenyum dan mengajak muridnya meninggalkan desa seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Kejadian ini telah mengguncang psikologis sang murid. Ia mulai membayangkan nasib keluarga itu yang mati mengenaskan dalam keadaan kelaparan karena tidak memiliki sapi yang menghidupi mereka lagi. Dalam bulan-bulan berikutnya ia sering terganggu oleh pikiran itu. Bahkan ia menyesal karena tidak mencegah sang guru melakukan pekerjaan gila itu. Tapi mengingat baktinya sebagai murid, ia pasrah dan tidak bertanya macam-macam lagi.

Setahun Kemudian

Satu tahun kemudian sang guru mengajaknya mendatangi perkampungan miskin itu lagi. Sang murid masih belum mampu mengambil pelajaran meski kejadian pembunuhan sapi itu sudah berlangsung selama setahun. Setelah berjalan berhari-hari, bertambah syoklah sang murid menyaksikan gubuk reyot itu sudah tidak ada lagi. Berganti menjadi rumah permanen bergaya minimalis.

Anak muda ini takut jika kematian sapi telah memaksa keluarga miskin tadi untuk pergi meninggalkan desa. Digantikan oleh keluarga mapan yang membeli tanah mereka. Untuk membuktikan kebenaran dugaannya, ia mengetuk rumah tersebut.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang ramah muncul. Awalnya, ia tidak mengenali laki-laki tersebut. Tapi setelah berbincang agak lama ia semakin yakin jika laki-laki didepannya adalah laki-laki yang menjamu mereka setahun yang lalu! Dengan gaya pakaian modis terbaru. Setelah berbasa-basi, sang guru lalu bertanya tentang nasib baik apa yang menimpa keluarga ini?

Karena sang kepala keluarga menganggap murid dan guru ini sebagai orang baik, mereka yakin jika ada orang lain yang sengaja datang dan membunuh sapi kebanggaan mereka. Lalu dengan bersemangat, ia mulai mengisahkan cerita yang akan mengubah hidup sang murid.

“Harus saya akui, reaksi pertama kami adalah benar-benar putus asa dan pedih. Dalam jangka waktu lama, susu sapi itu adalah sumber penghidupan keluarga kami. Sapi adalah pusat keberadaan kami, dan terus terang, memilikinya memberi kami rasa aman serta rasa hormat dari tetangga kami.

Tak lama setelah hari tragis itu, kami sadar jika tidak melakukan sesuatu, kami akan mati kelaparan. Jadi, kami membersihkan kebun dibelakang rumah dan menanam sayuran dari benih pinjaman kepala desa. Begitulah kami bertahan hidup, dengan mengambil hasil kebun dan menanam sayuran. Tak lama, kami sadar jika kebun kecil itu menghasilkan lebih banyak makanan dari yang kami butuhkan.

Kami menjualnya ke pasar. Dari uang itu kami membeli benih lebih banyak, menanam lebih banyak, dan menghasilkan panen lebih banyak. Lalu beginilah. Sekarang kami sudah membeli lebih banyak lahan untuk ditanami, mengembangkan produk olahan pertanian, dan mampu membangun rumah sederhana ini. Kini kami tahu ada harapan untuk kehidupan baru. Seolah-olah hilangnya sapi membuka mata kami terhadap kehidupan baru yang lebih baik.”

Tentang Sapi

Setelah berbincang cukup lama, murid dan guru memohon pamit. Ditengah jalan, sang guru membuka pelajarannya.

“Sekarang, apakah kamu mengerti? Sapi yang dulu mereka anggap harta paling berharga ternyata borgol yang mengikat mereka pada kehidupan miskin dan tanggung. Mereka dihibur dengan pikiran bahwa sapi itu akan menjaga mereka dari kemiskinan. Dengan kata lain, sapi itu, yang dianggap berkat oleh tetangga yang lain memberi mereka perasaan bahwa mereka tidak hidup dalam kemiskinan absolut, walaupun kenyataannya mereka hidup dalam penderitaan.

Ketika kamu mempunyai pekerjaan yang tidak kamu senangi, pekerjaan yang bahkan tidak memungkingkan dirimu memenuhi kebutuhan dasar dan tidak memberi kepuasan pribadi, keputusan untuk berhenti dan mencari pekerjaan lebih baik sangat mudah dibuat. Namun, ketika pekerjaan yang tidak kamu senangi memungkingkanmu membayar utang-utangmu, bertahan hidup, dan bahkan menikmati sedikit kenyamanan, sangat mudah untuk terjebak dalam kepuasan paling tidak memiliki sesuatu. Toh, menurutmu, banyak orang berlomba-lomba memiliki pekerjaan seperti itu. Seperti sapi, sikap ini akan terus menahanmu. Menciptakan ilusi tentang zona aman yang takkan pernah ada.”

Sang murid terpaku pada alam pikirannya sendiri. Sambil terus berjalan, sang guru kembali meneruskan:

“Kita semua punya sapi dalam kehidupan. Kita memanggul beban berat dari keyakinan2 yang salah, alasan, ketakutan, dan pembenaran kita. Banyak orang yang keras kepala dan berpegang pada alasan untuk tidak menjalani kehidupan yang selalu mereka impikan. Mereka mengarang alasan yang hampir meyakinkan untuk menjelaskannya kepada orang lain, kemudian terus hidup dalam kegalauan batin ketika menyadari bahwa penjelasan itu, walaupun meyakinkan bagi orang lain, sama sekali tidak berguna bagi mereka.”

Nah, pertanyaannya: Apa “Sapi” yang ada dibelakang rumah kita?

**

Disarikan dari Once Upon a Cow karya Camilo Cruz. Gramedia. 2008.

Nelayan yang Puas

Sahabatku, saya akan berbagi cerita menarik yang saya dapat dari sebuah blog motivasi. Semoga bermanfaat.
 
Nelayan Yang Puas
 
 
 
Usahawan kaya dari kota terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring bermalas-malasan di samping perahunya, sambil mengisap rokok.
 
‘Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?’ tanya usahawan itu.
‘Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini,’ jawab nelayan.
‘Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?’ tanya usahawan
‘Untuk apa?’ nelayan balas bertanya.
‘Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak,’ jawabnya.  ‘Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal … bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.’
 
‘Selanjutnya aku mesti berbuat apa?’ tanya si nelayan.
 
‘Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup,’ kata si usahawan.
 
‘Menurut pendapat Anda, sekarang Ini aku sedang berbuat apa?’ kata si nelayan puas.
 
Moral of story:
 
“Lebih bijaksana menjaga kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada memupuk uang” .

Sebuah Isyarat

Selamat pagi sahabat. Saya mendapatkan cerita ini dari sebuah milis yang mendapatkan juga dari sebuah blog. Menurut saya, kisah ini sangat menarik dan dalam sekali maknanya maka saya perlu share di catatan ini. Let's cekidot.
 
***
Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak usia tiga tahun sedang menyimak sebuah suara. "Ting…ting…ting! Ting…ting…ting!" Pikiran dan matanya menerawang ke isi rumah. Tapi, tak satu pun yang pas jadi jawaban.
 
"Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" suara sang ibu menangkap kebingungan anaknya. "Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. "Itulah isyarat. Tukang bakso cuma ingin bilang, ‘Aku ada di sekitar sini!" jawab si ibu lembut.
 
Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan. "Teeet…teeet….teeet!"
 
Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi, anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!
 
"Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun cuma ingin mengatakan, ‘Aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. "Kok ibu tahu?" kilah si anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.
"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu. Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!" ucap si ibu penuh perhatian. 
 
Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Tuhan buat makhluk yang bernama manusia.
 
Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara. Cukup dengan berdehem ‘ehm’ misalnya, orang pun paham kalau di ruang yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.
 
Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat. Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.
 
Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun kau menjauh!"
 
Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson pedagang sate ayam. 
 Find the happiness in YOU!
 
-haridewa-

Siang atau Malam

Seorang pemuda melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Singkat cerita dia berhasil melalui semua tes tulis dengan baik. Tinggal satu lagi tes wawancara dengan GM yang harus dia lalui. Sebelum wawancara GM memberikan pilihan kepada pemuda tadi untuk diberikan 10 pertanyaan mudah atau satu pertanyaan sulit. 'Pikirkanlah baik-baik sebelum memutuskan', kata GM itu lagi. Setelah berpikir dengan matang, akhirnya pemuda tadi menjawab, 'Satu pertanyaan sulit Pak'.
'Baiklah, Anda sudah memutuskan. Menurut Anda manakah yang lebih dulu muncul, malam atau siang?' Tanya GM tadi sejurus kemudian. Pemuda tadi merasa tegang karena keberhasilannya masuk perusahaan tadi sangat tergantung dari jawabannya. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia menjawab, 'Siang muncul lebih dulu Pak'. Dengan segera GM tadi menukas, 'Bagaimana bisa?' Pemuda tadi menjawab, 'Maaf Pak, bukankah Bapak sudah berjanji untuk tidak memberi pertanyaan sulit lain?' GM tadi tersenyum mendengar jawaban cerdas sang pemuda dan akhirnya pemuda tadi diterima menjadi karyawan di perusahaan itu.
Saudaraku, terkadang kita berpikir terlalu rumit sehingga melupakan bahwa banyak masalah rumit justru bisa diselesaikan dengan sebuah solusi sederhana. Dalam kesederhanaan terdapat kreatifitas.  Maka usahakanlah agar kita bisa  KISS alias Keep It Simple, Stupid!

Tabik
-haridewa-

The Power of FOCUS

Semua orang di dunia ini ingin sukses namun tidak semua dari mereka mau memperjuangkannya. Semua orang ingin sehat namun jarang dari mereka yang rajin berolahraga. Katanya mau kaya, namun kok suka memboroskan uang? Maunya makan enak terus tapi ingin tubuh tetap langsing! Inginnya jadi orang pintar, tapi tak mau rajin belajar. Paradigma kontradiktif tersebut sudah jamak kita temui dalam keseharian kita. Ketika tidak mampu mengendalikan diri, biasanya orang akan mencari kambing hitam. Kasihan khan orang yang menjadi kambing hitam tadi, sudah jadi kambing, berwarna hitam pula! Sebenarnya masalah di atas tidak perlu terjadi ketika kita tahu solusinya. Dan solusinya sebenarnya juga sangatlah sederhana saja kok. FOKUS! Sesederhana itukah? Ya, sederhana saja. Cukup dengan melakukan fokus pada hal yang ingin kita dapatkan, maka sim salabim, semua akan terwujud sesuai dengan keinginan kita (tentunya dengan seijin Tuhan juga).
 
Buktinya apa? Loh, kok malah nanya saya! Lihat saja lagi keluar sana. Nyatanya banyak orang sukses khan? Tak sedikit pula orang yang kaya, sehat, langsing dan juga pintar. Kalau Anda merasa diri Anda masih belum sukses, saya yakin itu bukan karena Anda tidak mau memperjuangkannya. Anda pasti sudah bekerja keras, nine to five, membanting tulang. Namun coba cek lagi apakah fokus Anda sudah tepat? Kalau Anda juga belum mejadi orang kaya, pasti juga bukan karena Anda terlalu boros. Hanya saja mungkin fokus pengeluaran Anda yang masih kurang tepat. Atau ketika Anda tidak pernah berolah raga, sehingga badan terasa tidak sehat, saya yakin sebenarnya Anda sangat ingin, tapi karena fokus Anda salah, maka olahraga belum Anda anggap penting.
 
Tahukah Anda betapa dahsyatnya kekuatan fokus itu? Kita analogikan saja dengan sinar matahari yang memancarkan jutaan kilowat dari sumbernya di atas sana, namun dengan aman kita tetap bisa berjemur di bawah sinarnya. Kenapa? Karena meskipun memiliki energi yang sedemikian besar namun sinar matahari tersebar dengan merata ke seluruh jagad raya ini. Bandingkan dengan sinar laser, yang sejatinya hanya berkekuatan puluhan watt saja, namun sinarnya mampu memotong baja, kristal dll. Sinar laser yang merupakan kependekan dari light amplification by stimulated emission of radiation (sinar yang diperkuat oleh perangsangan pancaran radiasi) menjadi powerful karena difokuskannya sinar beberapa watt tadi melalui medan radiasi. Kejadian ini juga bisa dilihat ketika kita menggunakan kaca pembesar di bawah sinar matahari untuk membakar kertas. Apa yang memfokuskan tidak perlu kita bahas, namun proses fokus ini yang perlu pelajari bersama.
 
Dari ilustrasi di atas dapat diketahui bahwa fokus adalah sebuah mekanisme pemusatan energi menuju ke suatu obyek. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang namanya fokus tidak bisa mendua. Fokus hanya bisa pada satu tujuan. Jadi kata kuncinya adalah :DipusatkanSatu tujuan
Maka efeknya menjadi luar biasa. Berikut ada sebuah contoh lagi yang juga sangat luar biasa. Kali ini kita tidak sedang membicarakan sinar, namun konsentrasi seseorang. Ceritanya minggu kemarin di kantor saya diselenggarakan training induksi untuk karyawan baru. Selama satu minggu karyawan baru tersebut digodog dengan pelbagai ilmu, dari nilai-nilai perusahaan, selling skill, medical knowledgesampai product knowledge. Namanya juga karyawan baru, maka rasa ingin tahu mereka masih sangat besar. Di antara karyawan baru tadi ada seorang trainee yang sangat gaul, suka bertanya aneh-aneh dan SKSD (sok kenal sok dekat) kepada semua orang, termasuk kepada para trainer. Suatu saat saya sedang menjelaskan mengenai  kekuatan bawah sadar yang memiliki porsi 88% dibandingkan alam sadar, dia bertanya akan kebenaran teori tersebut. Mendengar pesimismenya, tiba-tiba keisengan saya muncul. Maka saya tantang dia untuk membuktikannya. Dia bersedia asal tidak menggunakan hipnosis (dibawa ke kondisi tidur). Singkat cerita saya ciptakan imaginasi di pikirannya bahwa dirinya saya ikat menggunakan tali imajiner, sehingga dia akan terkunci di tempat duduknya selama training berlangsung. Dia merasa sangat kaget ketika apa yang saya katakan menjadi kenyataan di pikirannya. Tiba-tiba saja dia tidak bisa berdiri, apalagi meninggalkan kursinya. Dia bertanya apa yang terjadi pada dirinya? Apakah saya melakukan teluh? Saya jawab, bahwa itulah bukti bahwa kekuatan bawah sadar sedang menguasainya.
 
Sesi setelah saya adalah product knowledge yang dibawakan oleh seorang dokter. Sebelum saya meninggalkan ruangan, saya berpesan kepada karyawan baru tadi, kalau mau duduk dengan nyaman, maka dia harus fokus mendengarkan semua materi yang akan disampaikan dokter tadi. Sebaliknya, kalau dia meleng sedikit saja, maka kakinya akan kaku, dan badannya terkunci lagi di kursinya. Dua jam berlalu, dan saya diberitahu oleh dokter tadi bahwa hasil tes terbaik dalam sesiproduct knowledge tadi diraih oleh karyawan yang saya ‘isengin’ tadi. Bahkan dokter tadi takjub, karena selama dia mengajar, belum pernah ada trainee yang mampu mengulangi semua materinya dengan sempurna A-Z hanya dalam sekali mendengar seperti yang dilakukan karyawan baru tersebut.
 
Well, apa yang sebenarnya terjadi dengan trainee tadi? Simpel saja, itulah kekuatan fokus. Dalam dunia hipnosis hal seperti itu disebut dengan trance. Seperti kita ketahui bahwa pikiran kita terbagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Nah, kondisi trance terjadi saat kita berhasil mengakses subconscious mind kita. Lalu apakah conscious dansubconscious mind tadi terpisah? Sebenarnya tidak. Saya akan memberikan sedikit ilustrasi sederhana mengenai hal ini.
 
Ketika suatu saat Anda berada di ruang gelap, kemudian Anda menyalakan senter, maka di depan Anda akan muncul sebuah bidang (biasanya berbentuk lingkaran) terang, sementara bagian di luar bidang tadi tetap gelap. Kita andaikan saja seluruh ruangan tadi adalah pikiran kita. Nah, bagian terang tadi adalah subconscious mindkita, sementara bagian lain yang gelap pada saat itu adalah conscious mind kita.
Dengan kata lain, kondisi trance sebenarnya justru kondisi dengan konsentrasi sangat tinggi. Ingat, pada saat kita menyalakan senter, perhatian kita pastilah terpusat pada lingkaran cahaya tadi. So, apapun yang berada dalam lingkaran itu dengan mudah akan kita lihat, tanpa memerhatikan lagi benda lain yang berada dalam kegelapan. Jadi ketika saya mengatakan bahwa dia harus fokus kepada materi yang diberikan dokter tadi dengan ancaman kaki merasa kaku kala meleng, sebenarnya adalah sebuah proses pengalihan trance, dari ketidaknyamanan (kaki kaku) menuju penyerapan 100% materi training. Hasilnya sangat luar biasa, sampai pengajarnya saja takjub!
Saya tahu, Anda pasti akan bertanya, bisakah tanpa diancam, trainee tadi akan menyerap 100% materi trainingnya? Tentu saja bisa! Yang perlu dilakukan adalah membuat dia trance secara sukarela. Bagaimana caranya? Nah, jawabannya adalah hipnosis! Hipnosis adalah cara paling sederhana untuk mencapai fokus.
 
Maka, ketika Anda ingin sukses, kaya, sehat, langsing dan pintar, hipnosislah diri Anda sendiri....!
 
Tabik
-haridewa-
April 20, 2015

Sudah Nggak Malu

Berikut cerita  tentang kawan kuliah saya yang masih suka mengompol. Cerita ini terjadi beberapa waktu yang lalu ketika saya masih kuliah di kota Jogjakarta. Meskipun sudah dewasa namun dia mengaku masih sering pipis sambil tidur. Sudah bermacam cara dilakukannya untuk mengatasi masalah yang memalukan ini. Suatu hari dia curhat bahwa dia merasa sangat terganggu dengan kelainannya ini. ‘Bro, aku benar-banar tersiksa dengan penyakitku ini. Malu banget tahu gak? Apalagi calon mertua sudah menanyakan keseriusanku terhadap anak gadisnya. Malu khan, kalau sampai ketahuan aku masih ngompol!. Masak sudah mau nikah kok masih ngompol. Apa kata dunia?’, keluhnya. Dalam hati sebenarnya aku merasa kasihan sekalgus geli. Apa jadinya kalau malam pertama terjadi insiden ‘ngompol’ tadi. Bisa gempar rumah mempelai wanita. Apalagi menurut pengakuan teman saya tadi, pacarnya juga tidak tahu kebiasaan buruk ini.
Kebetulan beberapa waktu sebelumnya, saya pernah mendengar tentang paranormal yang sedang naik daun yang membuka praktek di bagian selatan kota Jogja. Maka saya sarankan kawan saya tadi untuk mencoba peruntungannya berobat ke paranormal tadi. Singkat cerita beberapa hari kemudian saya bertemu dia lagi di bis kota dalam perjalanan ke kampus.
 
Saya                       : ‘Gimana Bro, sudah berobat ke paranormal yang aku sarankan?’
Kawan saya        : ‘Sudah dong’
Saya                       : ‘Syukurlah kalau begitu. Berhasil dong?’
Kawan saya        : ‘Berhasil lah. Apa kamu nggak lihat aku sudah ceria begini?
Saya                       : ‘Beneran nih. Sudah nggak ngompol lagi?’
Kawan saya        : ‘Ooo kalau itu masih...’
Saya                       : ‘Lah kok...!’
Kawan saya        : ‘Tapi aku sudah nggak malu lagi...!’
Hahahahaha.
***
Anda boleh saja menertawakan kisah kawan saya tadi. Kita semua tahu bahwa seharusnya yang diobati adalah akar masalahnya bukan sekedar ‘symptom’ atau gejala bawaannya. Namun seringkali kita tidak berhasil menemukan akar sebuah masalah, atau malas mencarinya sehingga akhirnya cuma menangani gejala bawaannya.
 
Dalam kasus terapi, menemukan akar masalah menjadi hal yang sangat krusial dan penting untuk dilakukan, karena banyak kasus yang tak terselesaikan ketika kita gagal menemukan akar masalah tadi. Ibarat memadamkan kebakaran maka kita mesti mencari sumber apinya, bukan sekedar menghalau asap yang terlihat sangat mengganggu itu. Dalam pengalaman saya, beberapa kasus penyakit maag atau migrain yang sudah diperiksa menggunakan pengobatan modern maupun alternatif dan hasilnya nihil ternyata berhasil diterapi menggunakan aplikasi hipnosis ketika akhirnya diketahui bahwa penyakit itu adalah bawaan dari sebuah dendam di dasar hatinya yang paling dalam. Kasus-kasus tersebut biasanya terjadi di masa lalu klien, dan karena intensitas sakit hatinya yang sangat kronis maka tanpa sadar (unconsciously) hal ini memicu asam lambung dan atau titik migrain di kepalanya. Untuk menangani kasus seperti ini biasanya saya gunakan past life age regression. Klien akan saya bawa kembali ke masa lalu dimana insiden yang telah membuat sakit hatinya itu muncul, untuk kemudian meminta dia memaafkan tokoh yang telah menyakiti hatinya. Perlu dilakukan edukasi sebelum meminta klien memaafkan orang yang telah menyakitinya, karena banyak orang yang tidak mau memaafkan pihak yang dianggapnya telah menghancurkan hidupnya. Biasanya saya mengibaratkan kalau klien tersebut tidak mau memaafkan pihak yang telah menyakitinya, itu sama saja bahwa mereka akan selalu menggendong pihak tersebut. Tentu saja masih dalam kondisi trance, klien bisa kita minta untuk membayangkan betapa beratnya menggendong orang yang bisa jadi ukuran tubuhnya lebih besar dari mereka. Biasanya teknik ini kemudian membuahkan hasil. Klien tadi mau memaafkan, dan ajaibnya begitu dia disadarkan dari trancenya, penyakit maag atau migrainnya sudah hilang. Itulah hebatnya teknik forgiveness therapy.
 
Di lain waktu ada klien seorang laki-laki pengusaha yang mengaku selalu gagal ketika memulai bisnis kulinernya. Semua daya upaya telah dia lakukan, bahkan berbagai pelatihan wirausaha kuliner juga telah dia ikuti, namun tetap saja usaha kulinernya tidak pernah berkembang, kalau tidak mau dikatakan bangkrut. Menggunakan teknik yang sama yaitu past life age regression, akhirnya saya berhasil menemukan akar masalahnya. Ternyata ketika anak-anak, pengusaha ini suka bermain ‘pasaran’ (bermain masak-masakan) bersama kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika sedang asyik bermain pasaran, ayahnya pulang dan ketika melihat anak laki-lakinya ‘pasaran’, sang ayah langsung murka. Sambil melempar semua peralatan mainnya sang ayah mengatakan bahwa ‘pasaran’ bukanlah mainan anak laki. Anak laki seharusnya lebih jantan, bermain perang-perangan atau mobil-mobilan. Banyak kata kasar yang keluar dari mulut sang ayah saat itu. Bapak pengusaha (yang masih kecil) ini sangat ketakutan, dan hanya bisa menangis untuk kemudian lari menghambur ke pelukan ibunya. Tanpa disadari rupanya kemarahan sang ayah telah menjadi belief dalam pikiran pengusaha tadi, bahwa laki-laki tidak boleh main masak-masakan (yang oleh bawah sadarnya dibaca sebagai tidak boleh berbisnis kuliner). Setelah diterapi akar masalahnya tadi dengan menghadirkan figur ayahnya lagi (karena ayahnya sudah meninggal dunia) yang kemudian secara imajiner mengatakan bahwa anaknya boleh bermain pasaran dlsb, maka anehnya beberapa bulan kemudian pengusaha tadi menceritakan bahwa usaha kulinernya pelahan namun pasti sudah mengalami peningkatan.  
Sepertinya memang beberapa cerita di atas terdengar tidak masuk akal dan sangat aneh. Apa hubungan alam bawah sadar dengan alam semesta ini? Masak sih, hanya dengan memberikan maaf secara imajiner mampu mengibati penyakit? Apa benar hanya dengan mendengar pesan orangtua yang telah meninggal secara imajiner juga mampu meningkatkan sebuah bisnis? Aneh ketika Anda tidak memahami kekuatan bawah sadar kita yang memiliki porsi 88%, dibandingkan dengan pikiran sadar yang hanya 12%.
 
Bila Anda sudah membaca buku fenomenal karya Rhonda Byrne yaitu The Secret, maka tentu Anda akan lebih mengerti mengenai kekuatan pikiran Anda. Pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi.  Ketika Anda memikirkan suatu hal, pikiran-pikiran itu dipancarkan ke semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirim keluar akan kembali ke sumbernya, Anda.
 
Anda seperti sebuah menara penyiaran, yang memancarkan frekuensi dengan pikiran-pikiran Anda. Jika Anda ingin mengubah sesuatu dalam hidup Anda, ubahlah frekuensi dengan mengubah pikiran Anda.
 
Pikiran yang  Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai kenyataan dalam hidup Anda. Pikiran Anda akan menjadi sesuatu.  Alhamdullillah ya..., seperti itu, lalu.....
 
-haridewa-
28042915

Jangan Takut Ditolak

Waktu bergulir begitu cepat. Detik berganti menit. Hari berubah minggu. Bulan pun berganti tahun. Biarlah semua terbenam bersama Matahari terakhir tahun 2014 & sambutlah Fajar pertama tahun 2015 dengan Semangat Baru dan mari kita songsong:
 
1 tahun Kebahagiaan,
12 bulan Kedamaian,
365 hari Kegembiraan,
8.760 jam Kasih Sayang,
525.600 menit Cinta,
31.536.000 detik Persahabatan........
 
Selamat Tahun Baru 2015, semoga tahun baru ini membawa keyakinan baru, kedewasaan baru untuk kita mencapai ambisi baru yang tentunya lebih menantang lagi.
 
Mengawali tahun baru 2015 ini, saya ingin sedikit sharing tentang ilmu yang saya dapat dari pakar happiness Indonesia, Arvan Pradiansyah, yaitu tentang PENOLAKAN. Saya dapatkan pemahaman baru mengenai PENOLAKAN ini di program Smart Happiness yang dipancarkan oleh radio Smart FM setiap Jumat pagi pukul 07.00 – 08.00. Karena saya yakin bahwa dalam pekerjaan kita, seringkali kita mendapatkan penolakan, maka saya merasa perlu untuk berbagi pemahaman baru ini kepada Anda semua.
 
Sahabatku, saat ditolak seringkali kita merasa dunia ini  hancur, kita jadi merasa tak berguna lagi, atau sebaliknya kita menjadi mendendam buta, menyalahkan si penolak, menyalahkan atasan, menyalahkan keadaan dan runyamnya akhirnya menyalahkan Tuhan! Padahal hanya dengan merubah sedikit sudut pandang, kita bisa merasa berbeda ketika menghadapi sebuah penolakan. Kita boleh bangga dengan sebuah penolakan, karena itu artinya kita sudah pernah mencoba. Coba bayangkan ketika Anda mendamba seorang wanita cantik atau pria ganteng, dan Anda hanya diam saja tanpa berani mengatakannya? Tentu Anda akan merasa penasaran tak berkesudahan. Dengan menyatakannya, dan meski kemudian ditolak, maka lunas semua penasaran yang pernah ada. Betul tidak? (he he kayak Aa Gym saja ya?). Dari sudut pandang lain, ditolak itu merupakan perintah kepada diri kita untuk memperbaiki diri.
 
Nah, menghadapi tahun baru ini,marilah kita lihat beberapa cara pandang baru ketika ditolak :
 Penolakan itu bersifat sementara, artinya apa? Jangan berhenti ketika ditolak. Karena penolakan merupakan perintah untuk kita memperbaiki diri, maka segera perbaiki diri kita, kualitasnya, kuantitasnya dll, dan segera beraksi lagi. Sifat sementara sebuah penolakan akan berubah menjadi permanen, hanya ketika kita BERHENTI MENCOBA!Pikirkan bahwa pihak yang menolak kita adalah pihak rugi, dengan catatan bahwa kualitas (produk) kita memang bagus dan layak diterima. Tapi kalau kualitas kita memang belum bagus, kembali ke pemahamam bahwa penolakan adalah perintah memperbaiki diri.Dengan ditolak membuat kita menjadi lebih bersabar, lebih memikirkan keinginan orang lain. Dengan ditolak kita juga jadi lebih bersyukur. Hal ini membuat kita menjadi lebih hebat karena kita sudah belajar dari penolakan. Penolakan hanya proses dari pendewasaan.Orang yang menolak kita memang sudah melihat manfaat yang kita tawarkan, tetapi belum sesuai dengan harga yang kita berikan. Kenapa ditolak ? Karena orang belum melihat manfaat kita. Supaya bisa diterima kita harus mampu berkomunikasi dengan baik. Kita harus berorientasi pada orang lain, dengan cara memahami konteks tantangan yang dihadapi orang lain. Semua orang yang berhasil sekarang, adalah orang yang dulunya ditolak dan terus berusaha agar diterima.
 
Sahabatku, sebelum terkenal grup band legendaris The Beatless saja berulangkali mengalami penolakan. Pengarang terkaya di dunia JK Rowling juga berulangkali ditolak sebelum akhirnya berhasil menerbitkan novel fenomenal Harry Potter. Prinsipnya adalah ketika tidak melakukan apa-apa kita tidak akan tahu apakah ditolak atau diterima. Yang terpenting adalah mencoba. Harus diingat bahwa semakin sering ditolak, maka semakin dekat dengan keberhasilan. Jadi tunggu apalagi kawan? Segera kejar resolusi tahun baru Anda sekarang juga....
 
tabik
-haridewa-
awaltahunduaribulimabelas

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...