POSTINGAN POPULER

Tuesday, October 04, 2016

Parts Therapy

Rabu kemarin saya berjumpa kawan lama di Kampus UGM. Setelah bertukar kabar sejenak, ngobrol keluarga dan kerjaan, entah siapa yang mulai, cerita bergeser pada fenomena dunia kerja kekinian. Dimana banyak sekali pencari kerja namun sangat sulit mendapatkan karyawan yang berdedikasi. Generasi sekarang itu sulit ditebak maunya. Hanya karena tempat kerja yang bergengsi mereka rela pindah meski penghasilan terpaksa turun. Namun ada juga beberapa kawan yang betah kerja di satu tempat tanpa mau pindah karena merasa nyaman. Meski sebenarnya mereka dibayar di bawah kompetensi mereka. Meski seringkali mereka diperlakukan dengan semena mena. Mereka ini telah terjebak pada comfort zone mereka.
***
Salah satu adik tingkat yang ikut ngobrol waktu itu termasuk sebagian dari mereka yang terjebak di zona nyaman. Berikut petikan obrolan saya dengan dia (sebut saja Bunga)

Saya (S): 'Apa kabar dik Bunga'
Bunga (B): 'Baik Mas Dewo'
S: 'Sudah lama kerja di Kampus?'
B: 'Sekitar 3 tahunan lah. Sejak lulus kuliah saja'
S: 'Enak ya kerja di sini?'
B: 'Yaa gimana ya. Enak sih. Saya kerja di lingkungan yang sudah saya kenal. Saya kerja di kota saya sendiri. Meski dari sisi penghasilan saya kalah dibanding teman yang kerja di luar sana namun saya merasa nyaman saja'
S: 'Bagus dong kalau begitu. Pernah ada masalah gak di sini?'
B: 'Justru itu Mas. Saya sedang merasa galau nih'
S: 'Galau seperti apa tepatnya?'
B: 'Sudah hampir 3 tahun saya bekerja, namun nyaris belum ada kepastian status kerja saya. Apalagi baru-baru ini terjadi pergeseran karyawan besar-besaran tanpa memikirkan kompetensi kami. I think I deserve to get more than this'
S: 'Lha kalau seperti itu situasinya kenapa gak pindah saja?'
B: 'Itu dia masalahnya Mas. Saya sudah terlanjur nyaman dengan lingkungan kerja di sini'

S: 'Ooo jadi meski kamu merasa layak mendapatkan perlakuan lebih baik bahkan penghasilan lebih baik, namun kamu juga merasa sudah nyaman di sini? Sehingga kamu malas untuk mencari peruntungan baru di luar sana?'
B: 'Begitulah situasinya Mas'
S: 'Baiklah kalau begitu. Saya punya cerita tentang seorang ayah yang memiliki anak kembar, sebut saja Dona dan Doni. Dia sayang kepada kedua anaknya. Kerja ayah ini jualan pisang di pasar. Suatu hari ketika mentari sudah mulai beranjak dari peraduan,  sang ayah masih terlena di kasurnya. Dona membangunkan sang ayah untuk mengajak segera pergi ke pasar. Tentu Dona punya niat baik, yaitu agar ayahnya mendapatkan uang. Lain dengan Dona, si kecil Doni justru memeluk erat ayahnya. Doni tak mengijinkan ayahnya pergi ke pasar. Tentu Doni juga punya niat baik, yaitu agar ayahnya bisa berisitirahat lebih dan tetap merasa nyaman berada di kasur mereka. Sang ayah bimbang. Kalau dia turuti Dona, tentu dia akan mengecewakan Doni, begitu juga sebaliknya. Tak kurang akal sang ayah bertanya kepada Doni.
Doni suka minum susu khan?
Suka, jawab Doni.
Doni mau dibeliin mainan?
Mau, jawab Doni.
Doni mau ayam goreng?
Mau, jawab Doni.
Bagus, kata sang ayah. Doni tahu gak beli susu pakai apa?
Duit, jawab Doni.
Beli mainan pakai apa?
Duit.
Beli ayam?
Duit juga, jawab Doni polos.
Doni tahu bagaimana cara ayah dapat duit?
Tahu, jawab Doni.
Bagaimana?, tanya ayah.
Jualan pisang, jawab Doni.
Bagus. Dimana Ayah jualan pisang?
Di pasar, jawab Doni.
Anak pinter. Bisakah ayah dapat duit untuk beli susu, mainan dan ayam goreng kalau ayah tidak ke pasar?
Tidak, jawab Doni.
Kalau begitu, boleh Ayah ke pasar?
Boleh, jawab Doni’

Tiba-tiba Bunga berteriak kepada kawan saya yang merupakan karyawan senior di UGM, ‘Bang, find me another job!’
***
Apa yang sebenarnya terjadi pada Bunga? Pada awal percakapan dia menyatakan bahwa dirinya sudah merasa nyaman bekerja di kampus ini, namun kenapa setelah ngobrol selama 10 menitan kok tiba-tiba dia jadi ingin pindah kerja?

Teknik yang saya gunakan ketika ngobrol dengan Bunga tadi dinamakan Parts Therapy. Ketika kita menyadari bahwa di dalam diri kita terdapat dua atau lebih belief (baca: kepentingan) yang bertentangan maka tugas kita adalah mendamaikan kedua belief tadi dengan cara mengedukasi salah satu belief yang kiranya bakal merugikan kehidupan kita di kemudian hari. Kita tidak boleh membela salah satu belief dan menyalahkan belief satu lagi.

Kalaupun kita bisa memihak pada salah satu belief, maka justru akan muncul rasa terbuang dari belief yang satunya. Ketika kedua belief sudah bisa berdamai dan sepakat mendukung masa depan kita maka terapi ini dianggap berhasil.
***

Tertarik untuk mengenal tehnik luar biasa lainnya? Hubungi Hari Dewanto di nomor 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...