POSTINGAN POPULER

Thursday, July 23, 2015

Rasane Ngomah lan Ngangeni

Sekalian mudik lebaran tahun ini,  saya mengantar anak sulung yang ingin kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Dan untuk mendapatkan suasana kampus maka kami berencana untuk menginap di penginapan kampus tersebut sehingga pagi hari kami dapat berjalan kaki di bilangan bulaksumur. 

Kebetulan saat itu masih ada beberapa kamar kosong maka saya langsung memesan sebuah kamar  di lantai 1. Namun ketika kami (berlima) mau memasuki kamar,  pihak wisma mengatakan bahwa satu kamar hanya bisa ditempati oleh maksimal 3 orang. Itu sudah peraturan dari pihak manajemen. Saya sempat protes dengan aturan itu,  karena saya merasa satu kamar sudah cukup untuk kami berlima. Dan ketika saya bertanya kenapa kami tidak boleh masuk berlima sementara tempatnya muat. Jawaban dari resepsionis sangat sederhana: karena itu sudah peraturan,  kalau mau berlima silakan pesan extra bed! 

Kemudian saya  tunjukkan sebuah tulisan yang tertempel dinding lobi yang merupakan slogan mereka yaitu: Rasane ngomah lan Ngangeni  (Serasa berada di rumah dan selalu ingin kembali). "Kalau begitu apa arti slogan itu? Bukankah kalau di rumah kita terbiasa beramai-ramai  dalam satu kamar. Bukankah yang membuat kita kangen itu perlakuan yang kita dapatkan dengan baik? " Dengan sederhana lagi resepsionis menjawab bahwa slogan itu tidak ada hubungannya dengan peraturan sekamar maksimal bertiga. Kalau tidak puas dengan pelayanan di sini silakan hubungi nomor yang tertulis di dinding lobi. Lagi-lagi mereka berlindung di balik peraturan.

Meski saya kecewa namun saya tidak ingin menyalahkan resepsionis yang 'hanya' menjalankan peraturan tadi. Yang saya sesalkan adalah ketidakpahaman mereka mengatasi komplain pelanggan. Apakah mereka tidak pernah mendapatkan training service excellence? Kalau begitu slogan yang tertempel di dinding lobi itu hanya menjadi WOW alias word of wall. Tak ada makna sama sekali. Apalagi menjadi nilai pelayanan yang diyakini oleh karyawannya. Saya sempat berkata kepada resepsionis  untuk melepas saja slogan itu!  Alhasil kami membatalkan pesanan kamar di wisma tersebut.

Seharian itu kami melanjutkan jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Yogyakarta sampai akhirnya ketika sudah kelelahan kami kemudian mencari tempat untuk beristirahat. Kebetulan kami sedang berada di bilangan Pawirotaman, salah satu daerah di Yogyakarta yang memang terkenal dengan homestay-nya. Entah kenapa saya kok menghentikan mobil di depan penginapan yang bernama Sunarko House. Begitu masuk,  saya disambut oleh seorang ibu yang sudah cukup usia yang langsung menyapa saya dengan keramahan luar biasa khas Jawa. Bu Narko,  begitu beliau menyebut dirinya kepada saya kemudian menunjukkan sebuah kamar yang tersisa,  sambil mengatakan silakan dipikir dulu karena beginilah keadaan wisma Ibu. Kamar itu lebih luas dari kamar di wisma yang siang tadi nyaris saya pesan. Tempat tidurnya juga lebih luas, dengan kebersihan yang tak juga kalah dengan wisma sebelumnya. Ketika saya tanya mengenai breakfast apakah akan ada over charge karena kami berlima,  Bu Narko cuma tersenyum, "Nggak usah dipikirin, besok saya minta mbaknya untuk nambah". Bagaimana dengan waktu check out. "Mau sampai sore juga boleh", kata Bu Narko lagi. Dan ketika saya tanya harganya ternyata lebih murah!

Mungkin karena masih suasana lebaran maka di ruang TV banyak makanan yang boleh kami makan dengan free. Bahkan malam itu Bu Narko tidak meributkan mengenai pembayaran atau identitas dlsb,  karena tahu bahwa kami kelelahan,  Beliau langsung menyilakan kami untuk beristirahat. Malam itu kami tidur dengan nyenyak,  serasa di rumah sendiri.
Meski dikelola secara sederhana dan tak ada slogan yang terpampang di dinding kecuali foto keluarga dan foto beberapa artis yang telah menjadi pelanggan Sunarko House namun kami merasa at home dan ingin mengulangi pengalaman menginap di sana. 

Inilah yang sebenarnya : Rasane Ngomah lan Ngangeni!  Terima kasih Bu Narko... 

Lebaran dan Ponsel


Satu bulan sudah kita menahan diri dari segala emosi negatif,  perbuatan tercela dan segala dosa. Selama itu pula senantiasa kita melakukan amalan-amalan positif yang diperintahkan Allah. Seperti dikatakan dalam Al Quran bahwa telah diwajibkan kepada kita untuk berpuasa di bulan ramadhan agar kita bertaqwa. Bukankah arti taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Nya.
Namun seringkali yang tidak disadari oleh umat Islam justru makna dari bulan suci ini sendiri. Kita hanya menerima gegap gempita rutinitas bulan ramadhan sebagai ibadah musiman,  tanpa paham bahwa satu bulan penuh itu sebenarnya merupakan recharge atas ketaqwaan kita untuk 11 bulan yang lain. Ibarat ponsel,  ketika indikator batere menunjukkan parameter minimal maka kita akan segera me-recharge batere tersebut. Nah ketika indikator batere telah menunjukkan parameter maksimal maka kita bisa melepas kabel charger untuk kemudian bisa melakukan aktivitas ponsel kita sepuasnya sampai tiba pada indikator minimal lagi. Masa recharge selama beberapa menit tersebut mampu menjalankan fungsi ponsel sampai beberapa jam atau bahkan hari.
Dengan analogi ponsel ini maka seyogyanya semua umat muslim ketika bulan puasa mampu menahan diri untuk menghindari semua larangan Allah dan senantiasa melakukan perintah Nya,  maka pada 11 bulan selanjutnya juga masih tetap mampu bertaqwa. Istilah kerennya adalah mampu ISTIQOMAH. Ketika kita mampu menjalankan shalat tarawih di bulan ramadhan semestinya kita juga akan mampu melakukan shalat tahajud pada 11 bulan selanjutnya. Ketika kita rajin mengaji Al Quran sehabis tarawih afdolnya kita juga akan mampu bertilawah pada 11 bulan lainnya. Intinya ketika kita berhasil menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Nya pada bulan ramadhan maka kita tetap akan istiqomah pada 11 bulan selanjutnya.
Bagaimana kalau ternyata kita justru kembali pada kebiasaan lama yang berbau jahiliyah begitu selesai menjalankan shalat Iedul Fitri? Kita justru merasa bebas dan melampiaskan segala hal yang tidak bisa dilakukan di bulan ramadhan?
Jawabannya sederhana saja. Mari kita bayangkan bahwa ponsel kita sudah error. Sudah sowag. Ketika indikator batere menunjukkan parameter minimal maka  kita akan menge-charge sampai full. Namun begitu kabel charger dilepas dan kita ingin menggunakan ponsel tersebut tiba-tiba indikator batere langsung drop minimal lagi. Sebagai pemilik ponsel kira-kira apa yang hendak Anda lakukan? Paling lem biru khan? Lempar terus beli baru!
Saya hanya takut membayangkan kalau diri kita tidak bisa istiqomah itu artinya diri kita ibarat ponsel sowag tadi. Kalau sampai 'Pemilik' kita melakukan lem biru,  bisa apa kita?  Aaah males ngebayanginnya! Nggak tahu kalau Anda???

Tabik
-haridewa-
Lebaranharipertama

Lebaran dulu dan kini


Allahu Akbar Allahu Akbar Wallila Ilham
Tanpa  terasa ujian ramadhan telah genap satu bulan. Takbir, tahmid, tahlil telah berkumandang. Memecah keheningan malam, mengantar rasa syukur pada-Nya.
Esok pagi menyambut hari yang fitri, hari lebaran 1436 H

L-ive is go on,
E-verything reborn again,
B-ut
A-ll of the sin &
R-egret still inside in me,
A-nd I wanna say
N-othing but taqobbalallahu minna waminkum

Ada rasa gembira karena telah memenangkan pertempuran sebulan penuh. Namun ada jua kesedihan karena belum tentu bisa bertemu lagi dengan bulan penuh rahmat itu.

Setiap kali lebaran tiba selain takbir yang berkumandang tanpa kenal lelah,  juga ucapan saling memaafkan kepada sanak saudara, kerabat, tetangga serta handai tolan. Meski dalam Islam sendiri tidak ada perintah khusu mengenai hal ini namun budaya timur kita telah turun temurun mengajarkan saling memaafkan di hari nan fitri ini.

Dan seiring dengan perkembangan jaman serta teknologi komunikasi maka terjadi pergeseran dalam pengamalan budaya ini. Jika dulu setiap lebaran tiba maka kita akan saling mengunjungi dan kemudian bersalaman untuk saling meminta maaf atau memaafkan. Untuk keluarga atau handai tolan yang jauh lokasinya maka kita akan saling berkirim kartu lebaran baik melalui pos atau cara pengiriman lainnya. Sejak awal ramadhan biasanya kita telah berburu kartu lebaran atau membuat sendiri agar lebih terasa personal. Kemudian kita akan merancang kata-kata yang bagus atau minimal pantas dan sesuai dengan penerima kartu tersebut. Kita akan menandatangani kartu itu satu persatu dengan penuh perasaan. Rasa puas tergambar pada diri kita ketika kartu tersebut telah sampai ke tujuan. Menggunakan sebuah kartu lebaran,  meskipun kita tidak hadir saat lebaran namun syahdunya masih bisa terasa.

Lain dulu lain pula sekarang. Tidak ada lagi perburuan kartu lebaran atau pembuatan sendiri. Semua mengikuti budaya praktis dan ekonomis. Dengan adanya gadget di hampir semua tangan masyarakat kita maka ucapan lebaran menjadi sangat simpel dan seperti kehilangan ruhnya. Menjelang lebaran seperti sekarang ini setiap kita tentunya telah siap dengan salam lebaran di gadget masing masing. Tak peduli lagi tetangga, saudara atau handai tolan yang jauh,  semua menjadi sasaran salam lebaran nan canggih ini. Mulai dari SMS,  BBM,  whats app, Kakao Talk,  we chat dan seabrek nama lainnya akan mengalami peak traffic selama beberapa hari ini. Parahnya lagi semua salam lebaran itu terbang lalu lalang dalam format BC alias Broadcast. Tak ada personalisasi nama atau tandatangan pengirimannya. Semua tinggal copy and paste. Sangat simpel dan tanpa ruh. Only single finger needed.

Pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah sebenarnya salam lebaran ini ditujukan kepada saya atau gadget saya sih? Bila ada salam lebaran masuk ke BBM saya dalam warna maroon (yang artinya adalah BC)  biasanya akan saya cuekin saja. Karena saya beranggapan bahwa salam lebaran itu bukan untuk saya melainkan untuk gadget saya. Jika warnanya hitam meskipun tanpa ada nama saya di sana maka saya akan menjawabnya lengkap dengan ucapan terima kasih dan menuliskan nama pengirim. Saya sendiri selalu berhati-hati dalam hal ini. Saya masih mencoba menuliskan nama pengirim dan nama saya sesuai dengan panggilan yang biasa dilakukan orang tersebut kepada saya.

Maaf Kawan, bukan bermaksud sombong atau sok kalau saya membuat tulisan ini. Saya hanya ingin mengembalikan budaya salam lebaran yang penuh dengan ruh dan kesyahduan yang saya rasakan ketika saya kecil. Masih ada waktu kok untuk tetap menjaga kesyahduan itu dengan cara:
1.  Tetap  memberikan personalisasi (tuliskan nama penerima) dalam salam lebaran digital kita.
2.  Usahakan untuk melakukan cek n ricek nama penerima sebelum menekan tombol send. Jangan sampai nama di redaksi bapak A namun terkirim ke ibu B.
3. Kalau mengcopy salam lebaran dari orang lain,  pastikan Anda sudah mengganti dengan nama Anda.
4. Pastikan juga mengganti tahun lebaran nya dengan 1436 H

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...