POSTINGAN POPULER

Monday, June 02, 2008

TERANG




Dalam perjalanan ke kantor tadi pagi, kudengar lagu dari Glenn Fredly,

Jadilah terang jangan ditempat yang terang
Jadilah terang di tempat yang gelap
Jadilah jawaban jangan hanya kau diam
Jadilah jawaban diluar rumahmu


Ini bukan kali pertama aku mendengar lagu tersebut, tapi anehnya kali ini, tadi pagi aku merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengarnya. Tiba tiba saja menyeruak sebuah keinginan kuat dalam hati ini. Keinginan untuk menjadi si terang. Keinginan untuk berbagi. Tiba tiba aku merasa lagu itu menjadi begitu powerful. Bahkan sangat intimidatif dalam memaksa diriku untuk berbuat sesuatu.
Sangat sederhana memang rangkaian katanya. Bahkan nyaris tanpa nuansa keindahan linguis. Namun kekuatan maknanya sangatlah jelas. Lagu tersebut mengajak kita semua untuk bertindak. Melakukan sebuah langkah nyata yang berguna untuk sesama. Take action! Menebar rahmat.


BBM naik? So what gitu loh! Apa yang bisa kita lakukan untuk mengeremnya? Toh, dengan berbekal semua data yang kadang tidak masuk akal itu, pemerintah sudah mengumumkannya. Apakah kita akan ikut terprovokasi dengan melakukan demonstrasi yang kadang cenderung menambah kesengsaraan rakyat? Dalam salah satu bukunya Stephen R Covey mengajarkan sebuah teori yang bernama Prinsip 90:10. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Kemacetan di jalan, pesawat delay, BBM naik, dll. Janganlah kejadian-kejadian tersebut membuat hidup kita menjadi tidak karuan, amburadul. Jadikanlah kejadian-kejadian tersebut hanya 10 % pengaruhnya dalam kehidupan kita. Menurut Covey, yang penting adalah cara kita bereaksi terhadap hal-hal tidak menyenangkan seperti itu. Sharenya 90%. Ketika kita mengalami kemacetan di jalan raya, tidak perlu berteriak-teriak marah, atau menekan klakson berkali-kali. Semua ini hanya akan menguras energi dan emosi. Cobalah dengarkan lagu di radio, kalau perlu request lagu Terang di atas. Dan jadilah jawaban, jangan hanya kau diam. Mengantrilah dengan tertib, ikuti rambu lalu lintas yang ada. Dus, ketika pesawat kita delay. Tidak perlu marah marah kepada petugas tiket, mereka tidak bisa mengendalikan keterlambatan pesawat anda. Gunakan waktu anda untuk mempelajari situasi bandara dengan lengkap, membaca buku yang anda bawa, atau sekedar berkenalan dengan penumpang lain. Atau bisa juga anda mendengarkan lagu Terang di atas. Maka mensikapi harga BBM yang melambung 30% inipun, resep di atas masih bisa kita gunakan. Dengarkan saja lagu itu. Resapilah makna yang terkandung di dalamnya. Dan cobalah menjadi si terang.

Oooooo… jadilah jawaban
Oooooo… jadilah terang


Nah, anda sudah bisa tenang? Sudah mencoba untuk menjadi si terang? Barulah lakukan tindakan berikutnya. Dengan hati yang terang maka kita akan semakin mudah dalam mengatasi masalah keuangan kita. Menurut Kiyosaki, untuk mendapatkan Financial Freedom maka income kita at least harus tiga kali expense. Mungkinkah kita mengurangi expense kita, apalagi di tengan kenaikan harga BBM sekarang ini? Imposible! Jadi satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan income kita.

Jadilah garam jangan ditengah lautan
Jadilah harapan jangan hanya berharap
Jadilah jawaban jangan hanya ucapan
Jadilah jawaban jangan tambahkan beban


Dalam tempo satu minggu pasca kenaikan BBM ini, banyak sudah reaksi masyarakat yang terjadi. Mulai dari mahasiswa yang memblokade jalan, SPBU, tokoh masyarakat yang sesumbar mau membagikan Rp 18,000 trilyun kekayaannya untuk masyarakat, sampai kenekatan seorang motivator dalam membuang uang Rp 100 juta dari sebuah pesawat. Bermanfaatkah semua itu? Gara-gara blokade mahasiswa itu maka jalanan menjadi macet, masyarakat kesulitan membeli bensin. Bapak dari Tasik tadi juga malah menambah daftar bahan tertawaan di saat yang tidak tepat. Sementara ulah Pak Tung? Kenapa harus ditebar dari pesawat sih? Bukankah bisa dibagikan dengan lebih manusiawi? Tapi mendidikkah BLT (bantuan langsung tunai) semacam itu?

Jadi sembari mendengarkan lagu Terang tersebut, marilah kita pikirkan cara-cara yang lebih elegan dalam me-leverage income kita. Bagi kita yang masih menjadi karyawan, mulailah untuk menjalankan bisnis. Mulai saja dari yang kecil, yang penting take action. Bagi usahawan, marilah untuk mulai memikirkan sisi religi dalam berbisnis. Jangan asal meraup untung, tapi mulailah untuk bermental menebar berkah. Kikis kedzaliman kita kepada pelanggan, suplier ataupun partner kita. Jadilah terang.

Kedamaian yang kita inginkan
Hanya ada bila hati kita bersama



No comments:

Artikel Unggulan

"Liatin Duitnye Tong!"

Moment tujuhbelasan seperti sekarang ini selalu meninggalkan kesan yang mendalam kepada kita yang mampu mensyukuri kemerdekaan bangsa ini. B...