POSTINGAN POPULER

Friday, June 13, 2008

FAMILY



Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; saya tidak melihat Anda."

Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."

"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang
akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."


Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.

"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon." "Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna merah muda." Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi." Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu." Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang merah muda."
“Maafkan Ibu ya nak..”

My Friends, cerita di atas sangat mewakili keseharian sebagian besar dari kita. Kita sangat ramah di luar rumah, apalagi kepada orang yang menurut kita sangat berjasa kepada hidup kita. Sementara kita acapkali menganggap keluarga kita hanyalah beban. Suami, istri, anak hanyalah menambah masalah kita saja. Kita serin lupa bahwa tanpa mereka apalah artinya diri kita ini. Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Thursday, June 12, 2008

Ayam dan Bebek


Berikut ini adalah cerita dari seorang GURU, Ajahn Chah dari Thailand timur laut.

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kwek! Kwek!"
"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kwek! kwek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
"Kwek! Kwek!" terdengar lagi.
"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.
"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.
"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bue… bek, kamu… kamu…."
Terdengar lagi suara, "Kwek! Kwek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam…."


Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."
"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kwek! Kwek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

My Friends, moral dari cerita ini adalah si suami akhirnya sadar : siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

Monday, June 02, 2008

MATAHARI




Konon Matahari dan Gua saling tertarik untuk mengeksplorasi situasi yang tidak mereka kenal. Matahari hanya mengenal terang, sementara Gua hanya mengenal gelap. Keduanya tertarik untuk mengenali keadaan yang masing-masing tidak mereka miliki. Matahari ingin tahu apa itu gelap, dan gua ingin tahu apa yang dinamakan dengan terang. Pada suatu hari Matahari pun turun ke bumi untuk tujuan ini. Dengan tetap membawa terangnya, ia memasuki gua untuk mengetahui gelap itu seperti apa. Sampai di gua, matahari kecewa, karena sekian lama mencari-cari apa itu gelap, tidak pernah ia temukan. Setiap kali dia menelisik ke sudt-sudut gua, yang ia lihat hanyalah terang, sesuatu yang ia lihat dan alami sehari-hari. Sebaliknya, sang gua begitu senangnya. Akhirnya ia tahu apa itu terang, setelah Matahari masuk ke dalam dirinya.
Yang menarik dari kisah ini adalah posisi Matahari. Dengan membawa terang, ia akan melihat terang kemana pun ia pergi. Bahkan masuk ke tempat gelap pun, ia tidak bisa melihat gelap. Karena begitu ia hadir di situ, tempat itupun bersinar terang karena cahayanya. Sementara sang Gua, walau di luar terang benderang, ia gelap di dalam. Sampai ada cahaya yang masuk ke dalamnya baru ia mendapatkan penerangan.



My Friends, sebenarnya dalam pikiran kita terdapat filter-filter. Filter ini berguna untuk menyaring apa yang kita serap maupun ingin ungkapkan. Dengan filter ini kita bisa melihat hal-hal sesuai dengan FOKUS kita. Saat kita FOKUS mencari kebaikan dalam diri seseorang, kebaikan pula yang akan kita temui. Saat kita mencari kesalahan, kesalahan pula yang akan kita temui. Saat kita membawa kebaikan, kebaikan pula yang kita tebarkan.

Betapa indahnya bila kita bisa menjadi pribadi yang bersinar ke manapun kita pergi. Menghadapi siapapun, dalam situasi apapun. Walaupun diri kita tidak sempurna, alangkah indahnya saat kita tidak mudah redup oleh situasi apapun. Tidak perlu selalu, cukup lebih sering kita lakukan. Indah dan terang sekali. Mari terus belajar dan mengembangkan diri untuk bisa menjadi Matahari itu.

TERANG




Dalam perjalanan ke kantor tadi pagi, kudengar lagu dari Glenn Fredly,

Jadilah terang jangan ditempat yang terang
Jadilah terang di tempat yang gelap
Jadilah jawaban jangan hanya kau diam
Jadilah jawaban diluar rumahmu


Ini bukan kali pertama aku mendengar lagu tersebut, tapi anehnya kali ini, tadi pagi aku merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengarnya. Tiba tiba saja menyeruak sebuah keinginan kuat dalam hati ini. Keinginan untuk menjadi si terang. Keinginan untuk berbagi. Tiba tiba aku merasa lagu itu menjadi begitu powerful. Bahkan sangat intimidatif dalam memaksa diriku untuk berbuat sesuatu.
Sangat sederhana memang rangkaian katanya. Bahkan nyaris tanpa nuansa keindahan linguis. Namun kekuatan maknanya sangatlah jelas. Lagu tersebut mengajak kita semua untuk bertindak. Melakukan sebuah langkah nyata yang berguna untuk sesama. Take action! Menebar rahmat.


BBM naik? So what gitu loh! Apa yang bisa kita lakukan untuk mengeremnya? Toh, dengan berbekal semua data yang kadang tidak masuk akal itu, pemerintah sudah mengumumkannya. Apakah kita akan ikut terprovokasi dengan melakukan demonstrasi yang kadang cenderung menambah kesengsaraan rakyat? Dalam salah satu bukunya Stephen R Covey mengajarkan sebuah teori yang bernama Prinsip 90:10. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Kemacetan di jalan, pesawat delay, BBM naik, dll. Janganlah kejadian-kejadian tersebut membuat hidup kita menjadi tidak karuan, amburadul. Jadikanlah kejadian-kejadian tersebut hanya 10 % pengaruhnya dalam kehidupan kita. Menurut Covey, yang penting adalah cara kita bereaksi terhadap hal-hal tidak menyenangkan seperti itu. Sharenya 90%. Ketika kita mengalami kemacetan di jalan raya, tidak perlu berteriak-teriak marah, atau menekan klakson berkali-kali. Semua ini hanya akan menguras energi dan emosi. Cobalah dengarkan lagu di radio, kalau perlu request lagu Terang di atas. Dan jadilah jawaban, jangan hanya kau diam. Mengantrilah dengan tertib, ikuti rambu lalu lintas yang ada. Dus, ketika pesawat kita delay. Tidak perlu marah marah kepada petugas tiket, mereka tidak bisa mengendalikan keterlambatan pesawat anda. Gunakan waktu anda untuk mempelajari situasi bandara dengan lengkap, membaca buku yang anda bawa, atau sekedar berkenalan dengan penumpang lain. Atau bisa juga anda mendengarkan lagu Terang di atas. Maka mensikapi harga BBM yang melambung 30% inipun, resep di atas masih bisa kita gunakan. Dengarkan saja lagu itu. Resapilah makna yang terkandung di dalamnya. Dan cobalah menjadi si terang.

Oooooo… jadilah jawaban
Oooooo… jadilah terang


Nah, anda sudah bisa tenang? Sudah mencoba untuk menjadi si terang? Barulah lakukan tindakan berikutnya. Dengan hati yang terang maka kita akan semakin mudah dalam mengatasi masalah keuangan kita. Menurut Kiyosaki, untuk mendapatkan Financial Freedom maka income kita at least harus tiga kali expense. Mungkinkah kita mengurangi expense kita, apalagi di tengan kenaikan harga BBM sekarang ini? Imposible! Jadi satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan income kita.

Jadilah garam jangan ditengah lautan
Jadilah harapan jangan hanya berharap
Jadilah jawaban jangan hanya ucapan
Jadilah jawaban jangan tambahkan beban


Dalam tempo satu minggu pasca kenaikan BBM ini, banyak sudah reaksi masyarakat yang terjadi. Mulai dari mahasiswa yang memblokade jalan, SPBU, tokoh masyarakat yang sesumbar mau membagikan Rp 18,000 trilyun kekayaannya untuk masyarakat, sampai kenekatan seorang motivator dalam membuang uang Rp 100 juta dari sebuah pesawat. Bermanfaatkah semua itu? Gara-gara blokade mahasiswa itu maka jalanan menjadi macet, masyarakat kesulitan membeli bensin. Bapak dari Tasik tadi juga malah menambah daftar bahan tertawaan di saat yang tidak tepat. Sementara ulah Pak Tung? Kenapa harus ditebar dari pesawat sih? Bukankah bisa dibagikan dengan lebih manusiawi? Tapi mendidikkah BLT (bantuan langsung tunai) semacam itu?

Jadi sembari mendengarkan lagu Terang tersebut, marilah kita pikirkan cara-cara yang lebih elegan dalam me-leverage income kita. Bagi kita yang masih menjadi karyawan, mulailah untuk menjalankan bisnis. Mulai saja dari yang kecil, yang penting take action. Bagi usahawan, marilah untuk mulai memikirkan sisi religi dalam berbisnis. Jangan asal meraup untung, tapi mulailah untuk bermental menebar berkah. Kikis kedzaliman kita kepada pelanggan, suplier ataupun partner kita. Jadilah terang.

Kedamaian yang kita inginkan
Hanya ada bila hati kita bersama



MASA DEPAN ENTERPRENEUR INDONESIA


Jum’at malam, 30 May 2008, Ruang Seminar Gd. Rektorat Lt 5, Universitas Jayabaya Jl Jend.Ahamad Yani, Pulo Mas, Jakarta Timur terasa berbeda. Kalau mungkin biasanya selepas maghrib gedung itu sepi sepi saja, apalagi pada hari Jumat, dimana semua orang sudah menunggunya. TGIF, Thanks God Its Friday, karena besoknya libur maka pada hari Jumat (utamanya sore malam hari) mayoritas orang lebih memilih untuk melupakan rutinitas keseharian mereka dan menikmati their off day. Malam itu terdengar teriakan-teriakan meriah dari dalam gedung. Ada apakah gerangan? Siapakah mereka? Apakah mereka sedang melakukan orasi unjuk rasa menolak kenaikan BBM? Apakah mereka orang-orang GILA?

Ternyata orang-orang yang berkumpul itu adalah peserta Free Seminar tentang Masa Depan Enterpreneur Indonesia yang digagas oleh Pak Valentino Dinsi dari Lets Go Indonesia yang menghadirkan beberapa enterpreneur sukses Indonesia seperti Roni Yuzirman (Komunitas Tangan Diatas), Valentino Dinsi (LET’S GO Indonesia), Khairu Salim (Entrepreneur College), Budi Utoyo (Entrepreneur University), Elang Gumilang (Maestro Muda Indonesia), Bambang Suharno (Indonesia Entrepreneur Society), Tukhas Imaroh (Universitas Jayabaya), Sahmulah Rifqi (Oase School for Entrepreneur), dan Zaenal Abidin (Institute Kemandirian). Karena kesibukan masing-masing peserta seminar dan mungkin juga para nara sumber, seminar tersebut terpaksa dimulai terlambat 1 jam yaitu pukul 19.00 WIB. Acara dibuka oleh sang penggagas ide yaitu Pak Valentino Dinsi. Founder Lets Go Indonesia ini menyampaikan kegelisahannya akan kondisi negeri ini. Seratus tahun sudah sejak didirikannya organisasi Budi Utomo, namun kenyataannya kebangkitan nasional itu belumlah kentara. Yang ada justru kian hari kondisi negeri kita tercinta ini kian terpuruk. Berangkat dari kegelisahannya itulah beliau mulai menelepon rekan rekan sesama enterpreneur untuk mulai melakukan sebuah aksi. Dan gayung bersambut, sehingga sebagai tonggaknya diselenggarakanlah free seminar ini. Bang Valent, sapaan akrabnya, juga berkomitmen untuk rutin mengadakan seminar seperti ini setiap bulannya. Dan tetap FREE.
Kemudian mulailah beliau mempersilakan para narasumber untuk memberikan opening speech.

Diawali oleh pak Salim yang langsung menularkan virus GILA-nya kepada semua peserta. Setiap beliau meneriakkan “Apa Kabar?”, maka semua peserta diminta untuk menjawab GILA. Ternyata GILA ini adalah kependekan dari (kalau tidak salah ingat ya, :)) Gairah Ingin Lakukan Aksi. Selanjutnya pendiri Enterpreneur College ini menyatakan bahwa perbedaan antara orang kaya dan orang miskin hanyalah satu. Yaitu AKSI. Orang kaya (atau minimal sudah bermental kaya) akan selalu melakukan aksi. Take action miracle happens. Sementara orang miskin (atau yang bermental miskin) biasanya hanya rajin berpangku tangan. Selalu menyalahkan lingkungan ketika nasib baik tak pernah berpihak kepadanya. Mengeluh. Always Blame It To The Rain kalau kata Milli Vanilli.
Kemudian mic berpindah ke tangan Pak Bambang Suharno, yang juga tak mau kalah. Setiap kali meneriakkan “Selamat Malam”, maka beliau minta dijawab dengan “Selamat Pagi!” Ini bukan sebuah time disorientation, tapi memang itulah metafora dari dunia bisnis. There is no evening day, yang identik dengan kegelapan. Sebuah semangat enterpreneurship sederhana namun powerful coba ditawarkan oleh founder Indonesia Entrepreneur Society ini. Pendapat ini juga di amini oleh Ibu Imaroh dari Universitas Jayabaya yang memberikan opening speech berikutnya. Ibu dosen yang doktor juga pengusaha ini menimpali bahwa seorang enterpreneur harus selalu mempunyai semangat pagi. Semangat yang senantiasa berkobar, seperti halnya saat kita memulai aktifitas di pagi hari.


Tiba-tiba masuk seorang dengan postur tinggi besar mengenakan sport costum warna merah putih layaknya seorang judoin. Siapakah dia? Ternyata beliau langsung menyambar mic dan langsung meneriakkan “Apa Kabar?” “GILAAAA!”, kompak para peserta seminar menjawab. “Siapa mau lima puluh ribu?”, katanya sambil mengacungkan selembar uang limapuluh ribuan. Serentak para peserta seminar mengacungkan tangannya. Dan seorang peserta dengan cekatan mendekati bapak tersebut dan langsung menyambar uang tadi. Satu pelajaran berharga saya dapatkan malam itu. Ternyata mau saja tidak cukup. Mengacungkan tangan saja tidak cukup untuk mendapatkan uang tersebut. Kita harus take action! Bapak tadi ternyata adalah Rektor Institut Kemandirian (menurut beliau sih rektor yang mengangkat dirinya sendiri, :)) Pak Zainal Abidin yang akrab disapa Bang Jay. Selanjutnya Bang Jay memutar sebuah movie clip yang bertutur tentang kehidupan topeng monyet. Dengan kesabaran dan keuletan pelatihnya, monyet tadi mampu melakukan berbagai gaya. Menarik gerobak, salto berjumpalitan, bermain kuda lumping, perang-perangan, bersantai, bahkan shalat. Berbekal pelbagai gaya tersebut seekor monyet mampu menghasilkan Rp 15.000 per sekali tanggap (untuk durasi kurang dari 1 jam). Sementara kenyataan di sebuah pabrik sepatu Nike yang di pasaran dibandrol Rp 1,4 jutaan, pekerjanya hanya mendapatkan upah Rp 5000,- (saya yakin untuk menghasilkan sebuah sepatu diperlukan waktu lebih dari 1 jam). Rupanya korelasi ini yang mau disampaikan oleh Bang Jay, harga pekerja di Indonesia tidaklah lebih dari seekor monyet!

Kesempatan berikut diberikan kepada Pak Budi Utoyo dari Enterpreneur University. Beliau memaparkan sebuah catatan kecil bahwa ternyata semakin tinggi pendidikan seseorang itu, semakin sulitlah dia untuk menjadi enterpreuner. Rata-rata orang pandai tersebut hanyalah bekerja membesarkan usaha orang lain. Beberapa contoh beliau sebutkan, mulai dari Om Liem yang tak lulus SD, Andri Wongso yang di kartu namanya tertulis SDDT TBS. Sekolah Dasar Tidak Tamat, tapi Bisa Sukses. Juga dedengkot enterpreneur Indonesia Bob Hasan. Namun beliau mengingatkan, meskipun dalam dunia enterpreneur latar belakang pendidikan tidaklah menentukan, namun seorang enterpreneur sejati haruslah selalu belajar. Belajar dari kehidupan ini. Banyak membaca dlsb..

Kemudia sambung menyambung pak Rifqi dan Elang Gumilang memberikan ulasannya. Inti dari pembicaraan kedua tokoh ini hampir sama, yaitu bahwa ada sebuah tangan besar yang akan mengatur kehidupan kita. Pak Rifki dari Oase School for Entrepreneur mengingatkan kita bahwa dalam menjalankan sebuah bisnis kita harus mampu memilah-milah faktor pendukung. Karena menurut beliau ada dua faktor pendukung utama. Faktor teknis sebesar 20 %, dan non teknis 80 %. Rata-rata orang selalu memfokuskan diri pada penanganan faktor teknis seperti promosi, permodalan, manpower, dll. Jarang pengusaha yang mengurusi faktor non teknis, padahal sebenarnya sharenya lebih besar. Apa saja faktor non teknis ini? Menurut Pak Rifki, ini adalah penguasaan apa yang disebut habluminallah dan hablum minannaas. Hubungan transedental manusia dengan Tuhannya dan antar manusia itu sendiri. Meskipun kita sudah menjalankan semua teknik marketing (4 P’s), dan untuk sementara hasil bisnis kita gemilang, namun bila kita masih sering melakukan kedzaliman-kedzaliman baik kepada Sang Khalik maupun sesama, maka kegemilangan kita hanyalah semu adanya. Kita sukses namun jarang menderma, atau karena kesibukan berbisnis maka shalat jadi terbengkelai. Berdagang namun mencurangi pelanggan, ataupun menyiksa suplier dengan tagihan yang menyendat adalah contoh contoh faktor non teknis tadi. Tuhan tahu, Dia hanya menunggu. Suatu saat pasti kita akan menerima akibatnya. Makanya ketika ada audience yang bertanya kenapa sebagai karyawan dia tidak bisa menjalankan bisni dengan baik, Pak Rifki langsung menjawab, karena sebagai karyawan kita masih sering malkukan kedzaliman kepada perusahaan. Contoh nyata, istirahat seharusnya jam 12.00, tapi karena ingin mengurusi bisnis kita keluar kantor jam 11.30. Satu kedzaliman telah terjadi. Contoh lain, kita mencetak dan menggandakan proposal bisnis menggunakan fasilitas kantor, tanpa ijin dari atasan lagi. Kedzaliman lagi. Belum lagi koneksi internet kantor yang kita gunakan untuk melakukan transaksi-transaksi bisnis. (Gubrak, mohon maaf kalau banyak yang tersindir ya. Including me, hehehe).
Beliau juga mengingatkan bahwa ada perbedaan mendasar antar Businessman dengan Enterpreneur. Seorang businessman hanyalah seseorang yang menjalankan bisnisnya, that’s all. Dia tidak peduli dengan lingkungan. Yang dicari hanyalah laba semata. Apapun caranya halal saja adanya. Bila terjadi kegagalan maka dia akan mencari kambing hitam. Menyalahkan pemerintah, lingkungan, karyawan dll. Sementara enterpreneur adalah sebuah sikap mental, state of mind. Seorang enterpreneur akan berusaha untuk selalu bermanfaat untuk orang lain. Bersama menebar berkah. Bila terjadi kegagalan maka dia akan mawas diri, introspeksi, dan segera bangkit lagi.

Kemudian sang Maestro Muda Indonesia, Elang menyitir sebuah ayat Al Quran, bahwasanya tidak akan Allah memberikan cobaan di luar kemampuan umatNya. Meskipun masih belia, pemuda berpenghasilan 17 M/tahun ini mempuyai wawasan yang luas, dan sebagaiman orang sukses lainnya, PD sekali. Religius pula.

Pak Roni tiba, dan langsung dimintai komentar mengenai TDA. “Tangan Di Atas adalah komunitas yang tidak sengaja saya bentuk. Bermula dari blogging, kemudian dibentuklah mailing list TDA yang sekarang membernya lebih dari dua ribu orang”, Pak Roni memulai penjelasannya. Sebenarnya TDA lebih diutamakan sebagai komunitas offline, yaitu pertemuan rutin membernya untuk saling sharing bisnis dan saling mendukung dengan slogan bersama menebar berkah. Kini TDA telah bekerja sama dengan beberapa pihak seperti Detik.com, dan President University. Detik menawarkan program discount untuk beriklan di websitenya dan President University bahkan akan memberikan dukungan nyata kepada member TDA dalam mengembangkan bisnisnya. Bila perlu sampai Go Public. Dan perkembangan terbaru dari TDA adalah akan diluncurkannya Portal TDA pada bulan Juli nanti. Malam itu Jendral TDA ini juga memberi kesempatan bagi audience yang ingin bergabung dengan komunitas TDA untuk langsung mengirimkan email kepada beliau di roniyuzirman@gmail.com, dijamin langsung di approve.

Pada kesempatan itu juga secara resmi dibentuk Indonesian Enterpreneur Association yang nantinya akan berafiliasi dengan International Enterpreneur Association. Secara aklamasi audience memilih Pak Valentino Dinsi sebagai Ketuanya. Selamat untuk Bang Valent. Selamat untuk kita semua. Bangkitlah Enterpreneur Indonesia.
(haridewa)

NB:
Ada sedikit small winning yang ingin saya ceritakan. Singkatnya setelah acara selesai, para peserta seminar saling berebutan untuk berfoto dengan para narasumber, bertukar kartu nama atau sekedar bersalaman. Saya berkesempatan untuk bersalaman dengan Pak Isdi, Mas Faif, Bu Sri Kurniatun dan Pak Roni (tapi gak sempat ngobrol, beliau sibuk sih), dan langsung menghampiri Bang Jay. “Bang Jay, saya Hari, boleh minta kartu namanya?” “Enak saja, bayar!”, katanya. Dan karena saya sudah mulai kenal karakternya, maka langsung saja saya mengeluarkan dompet. “Nggak masalah, berapa Bang Jay?” “Sepuluh ribu!”. Langsung saja kuulurkan uang sepuluhribuan. Untuk mengenal seorang Zainal Abidin mungkin memang perlu ongkos, pikirku. Tapi diluar dugaan, sambil memberikan kartu namanya beliau memberikan selembar uang limapuluhribuan. “Bagus, saya suka orang yang nggak ragu-ragu seperti ini.” Hahaha, ternyata malam tadi membawa berkah untukku. Wawasan jelas makin bertambah, dan untung Rp 40 ribu man! Terima kasih Bang Jay.

NB2: Mohon maaf bila ada sitasi yang kurang tepat. Maklum tadi malam ga sempat nyatat. Semua hanya bermodal ingatan.Hehehe.

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...