POSTINGAN POPULER

Tuesday, April 22, 2008

Law of Mind


Sebenarnya hal yang lebih penting adalah bukan sekedar menjadi yang pertama di tataran pasar, namun menjadi first in the mind (dalam tataran pikiran) pelanggan kita. Contoh kasus yang paling popular adalah kompetisi antara pabrikan MP3 player,Creative dengan iPod. Creative adalah hard drive multimedia MP3 player yang pertama di dunia. Creative bahkan mengantongi hak paten penggunaan interface yang dipakai oleh Ipod. Sementara iPod melaunch produknya setelah Creative. Namun meskipun pengekor, iPod melakukan beberapa perbaikan (mungkin dia juga mengenal teori ATM, Amati, Tiru, Modifikasi , :)), sehingga iPOd berhasil membuat design yang lebih Excellent. iPod juga memperbaiki tata cara operasi gadgetnya sehingga lebih user friendly. Dan kelebihan lain iPod adalah pabrikannya, yaitu Apple (yang sudah terkenal mempunyai desain yang bagus, simple dan fun).

Dan ternyata meskipun bukan perintis produk, namun iPod mampu mengungguli Creative menjadi market Leader. Menurut Ries, kelemahan Creative ternyata justru terletak pada varian produknya yang terlalu banyak. Bahkan dengan menempelkan brand 'Creative' ke semua jenis produknya yang beragam ini,akibatnya pelanggan menjadi tidak focus, bingung dan kesulitan menjadikan MP3 Creative sebagai TOM (Top Of Mind)-nya.
Sementara iPod hanya mempunyai 3 varian, namun didukung dengan promosi yang sangat gencar dan fancy (sesuai dengan targetnya yaitu anak muda). Bahkan dengan selera humor yang tinggi, mereka memasang iklan di Google yang ditujukan kepada aliens. Maksud candaan ini tentunya bila memang alien itu ada, ketika mereka ingin mendengarkan musik digital, pakailah iPod.

Dengan semua usahanya tersebut iPod berhasil menancapkan image bahwa music adalah iPod. Maka iPodpun berhasil mendominasi mind share muda mudi di seluruh dunia akan penggunaan digital music player. Tak heran bila penjualannyapun langsung meledak dan di tahun 2005 iPod menguasai market share Portable MP3 Player dengan 82%, sedangkan Creative hanya kebagian 4% MS.

Nah pertanyaannya sekarang adalah, jika kita mempunyai banyak varian, apakah kita tidak mempunyai peluang untuk menjadi first of mind? Baiklah, sekarang kita lihat contoh kasus berikut ini. Market leader untuk sector ponsel adalah Nokia. Produk ini menjadi Leading brand hampir di semua Negara. Nokia adalah merk yang paling agresif dengan rekor penjualan sebanyak 78,4 miliar unit di Q2 2006, dengan market share 34%dan net sales Q2 2006 =EUR 9,813 mil.Wow..! Namun tahukah anda berapa varian baru yang dikeluarkan Nokia dalam waktu 6 bulan terakhir ini. 70 jenis!

Nah lho, jadi bingung kan? Kunci sukses Nokia dan iPod bisa menjadi market leader adalah mereka berhasil menjadi the first in the costumer mind sesuai dengan segment mereka masing-masing.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi first in mind :

1.Definisikan dulu produk kita itu mau merambah ke segment apa. Atau dengan kata lain siapakah target market kita. Buatlah yang se-spesifik mungkin. Apakah orang tua, anak muda, laki-laki atau perempuan.

2.Lakukan survey, siapakah saingan kita (bisa dilakukan dengan membuka google dan mengetikkan keyword yang sesuai dengan produk kita).

3.Lakukan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi)

4.Bila diperlukan, buatlah diversivikasi produk dari brand kita sesuai dengan kemampuan kita dan peluang yang ada.

Maka insya Allah, kita bisa menjadi first of the mind dan bahkan mampu mengalahkan sang perintis. Yakinlah bahwa ‘It is not about being first in the marketplace but about being first in the mind of the customer’

next "Law of Line Extension"

Friday, April 18, 2008

Law Of Leadership


Menurut Ries, It’s better to be first than it’s to be better. Adalah lebih utama menjadi yang pertama (perintis) ketimbang menjadi yang lebih bagus. Karena persepsi yang akan di dapat oleh pasar dari produk perintis (the first one) adalah :

• Original
• Authentic
• Expert
• The Best


Dengan menjadi yang pertama maka produk kita akan menjadi Market Leader (pemimpin pasar). Konsekuensi logis dari market leader tentunya adalah produk kita akan mampu :

• Attract best people

Kita akan mendapatkan best quality consumers. Istilah jaman sekarang pelanggan KW 1 (bukan hanya barang khan yang bisa kw 1 :)). Kalau mengikuti LoA, maka berlaku hukum orang dengan selera tinggi tentunya akan mencari barang yang mempunyai image terbaik.

• Attract best distribution
Distribusi di sini maksudnya adalah, selain sistemnya yang bagus juga distributor yang berkualitas. Sebagai contoh, mana ada mall yang mempunyai reputasi international menjual barang kw2 atau kw3. Pasti yang dicarinya selalu kw1.

• Attract new coverage
Barang bagus pasti dicari orang. Meski jauh tempatnya mereka akan rela menempuh jarak tersebut.

Sementara bila kita hanya menjadi follower (atau istilahnya produk me too), maka kita akan dipaksa oleh pasar untuk menekan harga. Lha kalau niat kita berbisnis untuk make much money, bagaimana mungkin bila harga kita harus dipres.


Contoh nyata di dunia global adalah di dunia IT. Dell adalah perusahaan IT pertama yang melihat peluang penjualan PC langsung ke konsumen (kantor dan individual), dan ternyata dalam 10 tahun perjalanan bisnisnya, mereka berhasil membukukan revenu sebesar $ 258 Billion, dengan net profit 16,1 B. Sedangkan pengikutnya, Gateway hanya mampu meraup revenu $ 58 B, dan minus net pfrofit $ -865 M. Contoh lain, Microsoft me-launch systemnya pada bulan Agustus 1981 dan dia sekarang menguasai 93% market share. Sementara Macintosh yang me launch produknya di bulan Januari 1984 hanya mendapatkan 4% MS. Sangat jauh berbeda bukan? Dan masih banyak contoh lainnya.

Dalam kenyataannya Market Leader akan selalu memantapkan dan menambah kepemimpinannya akan pasar, sementara follower hanya akan semakin jauh tertinggal. Cobalah kita cermati sekitar kita, sangatlah sulit menemukan merk kedua bisa melibas produk unggulannya. (Ex Coca cola vs pepsi ?, Mc Donalds vs King Burger?, etc.)

Meskipun sudah banyak contoh kasus seperti yang telah disebutkan di atas, tapi anehnya kenapa banyak perusahaan di dunia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, sementara mereka bisa menjadi yang pertama!

Jadi menurut hukum kepemimpinan ini, Ries ingin mengatakan bahwa :
1. Untuk mencari uang banyak maka kita harus menjadi yang pertama bukan (hanya) yang terbaik. Lepas dari itu kita akan dipaksa untuk menekan harga kita.
2. Kecepatan dan momentum yang tepat adalah kunci utama dari kesuksesan kita
3. Menjadi yang pertama akan memberikan kita peluang yang lebih besar untuk menjadi pemimpin pasar.
4. Namun, ternyata kesuksesan kita tidak hanya tergantung pada being the first namun.......
next "Law of Mind"

Thursday, April 10, 2008

TELAGA HATI


Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, kemudian diaduknya perlahan.
"Coba minum air ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya ?" "Segar ", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.
"Tidak, " sahut pemuda itu.
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini. Tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki! Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang dapat kamu lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
***
My Friends, hati kita laksana wadah tadi. Perasaan kita adalah tempat penampungan itu. Kalbu kita adalah tempat kita menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hati kita seperti gelas, jadilah telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Hidup ini adalah sebuah pilihan. Pertanyaannya adalah, sanggupkah kita menjalani kehidupan ini dengan baik sampai ajal kita menjelang? Maka dari itu Friends, marilah kita senantiasa belajar bersabar menerima kenyataan untuk menjadikan hati kita sebuah telaga.

KISAH PENEBANG KAYU


Pada suatu ketika seorang penebang kayu yang sangat kuat mendatangi sebuah perusahaan penggergajian kayu untuk minta pekerjaan. Dan diapun mendapatkan pekerjaan itu. Bayarannya sangat bagus, begitu pula situasi kerjanya. Oleh karena itu si penebang kayu memutuskan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Majikannya memberinya sebuah kapak, dan menunjukkan daerah yang harus digarapnya
Pada hari pertama si penebang kayu berhasil menebang 18 pohon. “Selamat..!” kata majikannya, “Pertahankan kualitas kerjamu” Merasa sangat termotivasi oleh pujian majikannya, si penebang kayu berusaha untuk bekerja lebih keras pada hari berikutnya, namun dia hanya berhasil menebang 15 pohon. Pada hari ketiga, meskipun dia berusaha lebih keras lagi, dia hanya berhasil menebang 10 pohon. Hari demi hari hasil tebangannya justru makin berkurang.

“Pasti aku mulai kehilangan kekuatanku”, pikir si penebang kayu. Dia lalu mendatangi majikannya untuk minta maaf, sambil berkata bahwa dia betul-betul tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya.
“Kapan kali terakhir kamu mengasah kapakmu ?”, majikannya bertanya.
“Mengasah kapak?, Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya terlalu sibuk menebangi pohon”
***
My Friends, begitulah hidup kita. Kadangkala kita terlalu sibuk, sehingga kita tidak meluangkan waktu kita untuk mengasah kapak kita. Saat ini orang-orang terlihat lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka tidak merasa lebih bahagia. Kenapa hal ini terjadi ? Mungkinkah karena kita telah melupakan cara untuk bertahan agar tetap tajam ?

Tidak ada yang salah dengan semua aktivitas dan kerja keras kita. Tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk terlalu sibuk, sampai-sampai kita mengabaikan hal yang paling penting dalam hidup kita, seperti meluangkan waktu untuk berdoa, atau membaca. Kita semua mebutuhkan waktu untuk bersantai, untuk berpikir dan merenung, untuk selalu belajar dan berkembang.

Jika kita tidak meluangkan waktu untuk mengasah kapak kita, niscaya kita akan menjadi tumpul dan mulai kehilangan efektivitas kita. Maka, marilah mulai hari ini kita pikirkan cara terbaik yang memungkinkan kita bekerja dengan lebih efektif, dan hargailah cara-cara itu.

KAIL DAN IKAN


Suatu hari Budi dan anaknya pergi memancing di sebuah kolam pancing. Begitu tiba di lokasi kolam pancing dia langsung disambut oleh seorang pemandu. Berikut ini percakapan antara Budi dan sang pemandu :
Pemandu : "Bapak ingin memancing di kolam tipe apa?"
Budi : "Lho memangnya di sini ada kolam tipe apa aja?"
Pemandu : " Di sini ada banyak kolam, ada kolam yang ikannya besar-besar tapi ikannya jarang biasanya ini untuk tingkat yang sudah mahir. Ada juga yang tingkat kesulitannya sedang. Kami juga punya satu kolam istimewa. Di kolam tersebut, begitu Bapak melemparkan kail, akan langsung di tarik dan pasti dapat ikan"
Budi : "Wahh mana ada kolam seperti itu? Saya tidak percaya...! Tapi bolehlah saya mau coba kolam istimewa itu!"
Pemandu : "Ok tapi di kolam ini berlaku ketentuan, yaitu setiap ikan yang terpancing tidak boleh di bawa pulang, melainkan harus dilepas kembali ke kolam tersebut! "
Budi : "Oke, tidak masalah"

Singkat cerita si Budi mulai memancing di kolam istimewa itu. Dia melemparkan kail, terasa kail itu bergetar sedikit. Secepat kilat dia menarik jorannya. Namun terasa ringan, dan ternyata umpannya telah hilang. Budi tidak mendapatkan ikannya. Tak menyerah begitu saja, Budi mencoba lagi. Dua kali, tiga kali, empat kali, selalu umpannya hilang tapi tidak dapat ikan. Budi mulai emosi, dengan sewot dia berbicara pada si pemandu.
Budi : "Wahh kamu bohong ya?? Mana bukti omonganmu tadi? Sudah beberapa kali saya lempar kali, tapi tak satupun ikan yang tertangkap”
Pemandu : "Hahahaha, Bapak tidak tahu caranya sih. Sini coba saya tunjukan caranya kepada Bapak"

Sang pemandu mengambil kail si Budi, memasang umpan, dan melemparkan kail ke kolam. Satu detik setelah kail menyentuh air sang pemandu langsung menarik kail nya dan hubb... tertangkaplah ikan tersebut.
Sambil membebaskan ikan dari kail dan melepaskan kembali ke kolam sang pemandu bercerita,"Hehehe, ikan-ikan di kolam ini tidak pernah diberi makan sehingga kelaparan. Tetapi ikan-ikan di kolam ini juga memiliki mulut yang sangat peka karena sudah beratus-ratus kali terkena kail dan dilepaskan kembali. Sehingga ketika memakan umpan dan merasakan ada sesuatu yang keras (kail) maka ikan tersebut segera memuntahkan umpan tersebut"
***
My Friends, ikan-ikan tersebut sudah berkali-kali terkena kail. Sama seperti kita yang sering kali jatuh bangun menghadapi KEGAGALAN dalam hidup. TAPI, sama seperti ikan yang sudah hafal akan kail dan umpan yang mereka makan dan menjadikan mereka kebal. Semestinya sebagai manusia yang dikaruniai kelebihan dibanding seekor ikan, kita juga akan mampu menghadapi dan menyikapi KEGAGALAN yang terjadi dalam hidup kita dengan bijaksana. KEGAGALAN adalah sebuah kesempatan agar kita semakin kuat dan semakin pintar untuk terbebas dari kegagalan-kegagalan lain di masa mendatang.

KUPU-KUPU


Suatu ketika, tersebutlah seorang pemuda sedang duduk di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongannya makin senyap, meruap nyaris musnah, sampai sebuah suara menyapanya. Ternyata ada orang lain di sana. "Sedang apa kau di sini anak muda?" tanya seorang kakek yang rupanya sedari tadi mengamati pemuda itu. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak jua kutemukan rasa itu dalam diriku. Gunung dan lembah telah kudaki, lautan dan samudera juga sudah kuseberangi tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.” Mereka berpandangan. “Sesederhana itukah sebuah kebahagiaan?” kata pemuda itu dalam hati. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya mantap menuju satu arah, taman. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang beterbangan di sana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."
Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
***
My Friends, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu. Namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.
Namun marilah kita belajar. Belajar bahwa kebahagiaan tak bisa didapat dengan cara-cara seperti itu. Marilah belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Marilah belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.
Marilah kita temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan. Dalam tenang. Dalam ketulusan hati kita. Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, layaknya kupu-kupu, bahagia itu beterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

WIN WIN SOLUTION


Pada suatu malam yang dingin, dengan mengendarai mobil sport terbaru yang hanya mempunyai dua tempat duduk, anda melintasi sebuah gurun. Di tengah perjalanan, anda bertemu dengan tiga orang manusia, yang pertama adalah seorang nenek keriput yang terkena serangan jantung, yang kedua adalah sahabat lama anda yang pernah menyelamatkan hidup anda di masa lalu, sedangkan yang terakhir adalah seorang gadis cantik berkulit putih mulus dengan postur tubuh yang sangat aduhai, sosok gadis yang selama ini sangat anda idam-idamkan. Ketiga orang itu melambaikan tangannya minta pertolongan kepada anda. Dan karena tempat duduk di mobil anda hanya dua, tentunya anda harus menentukan pilihan diantara ketiga orang tersebut yang akan anda tolong.

Sebuah pilihan yang sulit memang, karena begitu anda menolong orang pertama, anda akan dicap sebagai orang yang tak tahu balas budi, bahkan munafik dan bodoh karena melewatkan kesempatan yang belum tentu sekali seumur hidup bertemu dengan gadis yang anda idam-idamkan. Ketika anda menolong orang kedua pun orang akan tetap mempersalahkan anda sebagai orang yang tak bermoral karena telah menyebabkan seorang nenek meninggal dunia, belum lagi cap munafik dan bodoh seperti pada kasus pertama. Dan lebih parah lagi pandangan orang kepada anda apabila anda menolong orang yang terakhir. Anda akan dijuluki si pengkhianat yang tak bermoral. Terus bagaimana dong? Pusiiing !
Kalau saya jadi anda, saya tidak akan melakukan tiga hal diatas, karena menurut saya ada satu pemecahan yang bisa memuaskan semua orang. Saya akan berikan kunci kontak mobil kepada sahabat lama saya dan minta dia untuk segera membawa nenek tersebut ke rumah sakit terdekat agar nyawanya tertolong. Di sisi lain sahabat saya juga tertolong telah keluar dari gurun itu.
Mungkin anda akan menganggap saya idiot dengan membiarkan diri saya terjebak di gurun untuk menggantikan dua orang tersebut. Anda salah, karena saya tidak sendiri. Ada seorang gadis cantik berkulit putih, dengan postur tubuh yang aduhai, sosok gadis yang selama ini saya idam-idamkan, menemani saya disini.
Itulah kehidupan. Seringkali kita dihadapkan pada problematika hidup yang mengharuskan kita menentukan pilihan. Dan seringkali pula, karena banyaknya kepentingan yang bermain didalamnya, kita dihadapkan pada keputusan yang sulit untuk diambil. Kita punya kepentingan yang harus kita perjuangkan, disisi lain ada peraturan yang harus kita taati. Untuk menyelaraskan antara kepentingan dan peraturan agar seimbang itulah diperlukan cara berpikir menang-menang (WIN-WIN SOLUTION). Caranya adalah dengan kompromi. Sedikit kita boleh mengalah, asalkan kepentingan kitapun tercapai.

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...