POSTINGAN POPULER

Thursday, August 07, 2008

HANYA TIGA HARI........



Hanya ada 3 hari di hidup ini...

Yang pertama: Hari kemarin. (PAST)
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan;
dan mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...


Yang kedua: Hari esok. (FUTURE)
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; biarkan saja...


Yang tersisa kini hanyalah : Hari ini. (PRESENT)
Pintu masa lalu telah tertutup;
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini
bila kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan
ketakutan akan esok hari.

Hiduplah di hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan
hanyalah permainan pikiran yang rumit

Salam sukses selalu

Tuesday, July 15, 2008

Alergi Hidup


Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".



Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Romantis. Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat keluar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala bsesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

My Friends, itulah manusia, makhluk yang telah diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya, namun seringkali justru mengalami kedangkalan hidup. Stress. Tertekan. Bosan hidup dan lain lain. Semua itu karena kita kurang mampu menghargai anugrah Yang Maha Kuasa. Kurang bersyukur. Maka untuk bisa merasa hidup lebih hidup, kita bisa mengikuti wasiat dari sang guru di atas. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Ucapkan terima kasih atas apapun yang kita terima dalam hidup ini. Yakinlah dalam setiap kejadian pastilah ada hikmah di dalamnya. Insya Allah kita akan mengalir terus. Kita tidak akan pernah lupa hidup dalam kekinian. Inilah kunci yang akan membuat kita selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !

Friday, June 13, 2008

FAMILY



Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; saya tidak melihat Anda."

Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."

"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang
akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."


Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.

"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon." "Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna merah muda." Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi." Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu." Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang merah muda."
“Maafkan Ibu ya nak..”

My Friends, cerita di atas sangat mewakili keseharian sebagian besar dari kita. Kita sangat ramah di luar rumah, apalagi kepada orang yang menurut kita sangat berjasa kepada hidup kita. Sementara kita acapkali menganggap keluarga kita hanyalah beban. Suami, istri, anak hanyalah menambah masalah kita saja. Kita serin lupa bahwa tanpa mereka apalah artinya diri kita ini. Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Thursday, June 12, 2008

Ayam dan Bebek


Berikut ini adalah cerita dari seorang GURU, Ajahn Chah dari Thailand timur laut.

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kwek! Kwek!"
"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kwek! kwek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
"Kwek! Kwek!" terdengar lagi.
"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.
"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.
"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bue… bek, kamu… kamu…."
Terdengar lagi suara, "Kwek! Kwek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam…."


Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."
"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kwek! Kwek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

My Friends, moral dari cerita ini adalah si suami akhirnya sadar : siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

Monday, June 02, 2008

MATAHARI




Konon Matahari dan Gua saling tertarik untuk mengeksplorasi situasi yang tidak mereka kenal. Matahari hanya mengenal terang, sementara Gua hanya mengenal gelap. Keduanya tertarik untuk mengenali keadaan yang masing-masing tidak mereka miliki. Matahari ingin tahu apa itu gelap, dan gua ingin tahu apa yang dinamakan dengan terang. Pada suatu hari Matahari pun turun ke bumi untuk tujuan ini. Dengan tetap membawa terangnya, ia memasuki gua untuk mengetahui gelap itu seperti apa. Sampai di gua, matahari kecewa, karena sekian lama mencari-cari apa itu gelap, tidak pernah ia temukan. Setiap kali dia menelisik ke sudt-sudut gua, yang ia lihat hanyalah terang, sesuatu yang ia lihat dan alami sehari-hari. Sebaliknya, sang gua begitu senangnya. Akhirnya ia tahu apa itu terang, setelah Matahari masuk ke dalam dirinya.
Yang menarik dari kisah ini adalah posisi Matahari. Dengan membawa terang, ia akan melihat terang kemana pun ia pergi. Bahkan masuk ke tempat gelap pun, ia tidak bisa melihat gelap. Karena begitu ia hadir di situ, tempat itupun bersinar terang karena cahayanya. Sementara sang Gua, walau di luar terang benderang, ia gelap di dalam. Sampai ada cahaya yang masuk ke dalamnya baru ia mendapatkan penerangan.



My Friends, sebenarnya dalam pikiran kita terdapat filter-filter. Filter ini berguna untuk menyaring apa yang kita serap maupun ingin ungkapkan. Dengan filter ini kita bisa melihat hal-hal sesuai dengan FOKUS kita. Saat kita FOKUS mencari kebaikan dalam diri seseorang, kebaikan pula yang akan kita temui. Saat kita mencari kesalahan, kesalahan pula yang akan kita temui. Saat kita membawa kebaikan, kebaikan pula yang kita tebarkan.

Betapa indahnya bila kita bisa menjadi pribadi yang bersinar ke manapun kita pergi. Menghadapi siapapun, dalam situasi apapun. Walaupun diri kita tidak sempurna, alangkah indahnya saat kita tidak mudah redup oleh situasi apapun. Tidak perlu selalu, cukup lebih sering kita lakukan. Indah dan terang sekali. Mari terus belajar dan mengembangkan diri untuk bisa menjadi Matahari itu.

TERANG




Dalam perjalanan ke kantor tadi pagi, kudengar lagu dari Glenn Fredly,

Jadilah terang jangan ditempat yang terang
Jadilah terang di tempat yang gelap
Jadilah jawaban jangan hanya kau diam
Jadilah jawaban diluar rumahmu


Ini bukan kali pertama aku mendengar lagu tersebut, tapi anehnya kali ini, tadi pagi aku merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengarnya. Tiba tiba saja menyeruak sebuah keinginan kuat dalam hati ini. Keinginan untuk menjadi si terang. Keinginan untuk berbagi. Tiba tiba aku merasa lagu itu menjadi begitu powerful. Bahkan sangat intimidatif dalam memaksa diriku untuk berbuat sesuatu.
Sangat sederhana memang rangkaian katanya. Bahkan nyaris tanpa nuansa keindahan linguis. Namun kekuatan maknanya sangatlah jelas. Lagu tersebut mengajak kita semua untuk bertindak. Melakukan sebuah langkah nyata yang berguna untuk sesama. Take action! Menebar rahmat.


BBM naik? So what gitu loh! Apa yang bisa kita lakukan untuk mengeremnya? Toh, dengan berbekal semua data yang kadang tidak masuk akal itu, pemerintah sudah mengumumkannya. Apakah kita akan ikut terprovokasi dengan melakukan demonstrasi yang kadang cenderung menambah kesengsaraan rakyat? Dalam salah satu bukunya Stephen R Covey mengajarkan sebuah teori yang bernama Prinsip 90:10. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Kemacetan di jalan, pesawat delay, BBM naik, dll. Janganlah kejadian-kejadian tersebut membuat hidup kita menjadi tidak karuan, amburadul. Jadikanlah kejadian-kejadian tersebut hanya 10 % pengaruhnya dalam kehidupan kita. Menurut Covey, yang penting adalah cara kita bereaksi terhadap hal-hal tidak menyenangkan seperti itu. Sharenya 90%. Ketika kita mengalami kemacetan di jalan raya, tidak perlu berteriak-teriak marah, atau menekan klakson berkali-kali. Semua ini hanya akan menguras energi dan emosi. Cobalah dengarkan lagu di radio, kalau perlu request lagu Terang di atas. Dan jadilah jawaban, jangan hanya kau diam. Mengantrilah dengan tertib, ikuti rambu lalu lintas yang ada. Dus, ketika pesawat kita delay. Tidak perlu marah marah kepada petugas tiket, mereka tidak bisa mengendalikan keterlambatan pesawat anda. Gunakan waktu anda untuk mempelajari situasi bandara dengan lengkap, membaca buku yang anda bawa, atau sekedar berkenalan dengan penumpang lain. Atau bisa juga anda mendengarkan lagu Terang di atas. Maka mensikapi harga BBM yang melambung 30% inipun, resep di atas masih bisa kita gunakan. Dengarkan saja lagu itu. Resapilah makna yang terkandung di dalamnya. Dan cobalah menjadi si terang.

Oooooo… jadilah jawaban
Oooooo… jadilah terang


Nah, anda sudah bisa tenang? Sudah mencoba untuk menjadi si terang? Barulah lakukan tindakan berikutnya. Dengan hati yang terang maka kita akan semakin mudah dalam mengatasi masalah keuangan kita. Menurut Kiyosaki, untuk mendapatkan Financial Freedom maka income kita at least harus tiga kali expense. Mungkinkah kita mengurangi expense kita, apalagi di tengan kenaikan harga BBM sekarang ini? Imposible! Jadi satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan income kita.

Jadilah garam jangan ditengah lautan
Jadilah harapan jangan hanya berharap
Jadilah jawaban jangan hanya ucapan
Jadilah jawaban jangan tambahkan beban


Dalam tempo satu minggu pasca kenaikan BBM ini, banyak sudah reaksi masyarakat yang terjadi. Mulai dari mahasiswa yang memblokade jalan, SPBU, tokoh masyarakat yang sesumbar mau membagikan Rp 18,000 trilyun kekayaannya untuk masyarakat, sampai kenekatan seorang motivator dalam membuang uang Rp 100 juta dari sebuah pesawat. Bermanfaatkah semua itu? Gara-gara blokade mahasiswa itu maka jalanan menjadi macet, masyarakat kesulitan membeli bensin. Bapak dari Tasik tadi juga malah menambah daftar bahan tertawaan di saat yang tidak tepat. Sementara ulah Pak Tung? Kenapa harus ditebar dari pesawat sih? Bukankah bisa dibagikan dengan lebih manusiawi? Tapi mendidikkah BLT (bantuan langsung tunai) semacam itu?

Jadi sembari mendengarkan lagu Terang tersebut, marilah kita pikirkan cara-cara yang lebih elegan dalam me-leverage income kita. Bagi kita yang masih menjadi karyawan, mulailah untuk menjalankan bisnis. Mulai saja dari yang kecil, yang penting take action. Bagi usahawan, marilah untuk mulai memikirkan sisi religi dalam berbisnis. Jangan asal meraup untung, tapi mulailah untuk bermental menebar berkah. Kikis kedzaliman kita kepada pelanggan, suplier ataupun partner kita. Jadilah terang.

Kedamaian yang kita inginkan
Hanya ada bila hati kita bersama



MASA DEPAN ENTERPRENEUR INDONESIA


Jum’at malam, 30 May 2008, Ruang Seminar Gd. Rektorat Lt 5, Universitas Jayabaya Jl Jend.Ahamad Yani, Pulo Mas, Jakarta Timur terasa berbeda. Kalau mungkin biasanya selepas maghrib gedung itu sepi sepi saja, apalagi pada hari Jumat, dimana semua orang sudah menunggunya. TGIF, Thanks God Its Friday, karena besoknya libur maka pada hari Jumat (utamanya sore malam hari) mayoritas orang lebih memilih untuk melupakan rutinitas keseharian mereka dan menikmati their off day. Malam itu terdengar teriakan-teriakan meriah dari dalam gedung. Ada apakah gerangan? Siapakah mereka? Apakah mereka sedang melakukan orasi unjuk rasa menolak kenaikan BBM? Apakah mereka orang-orang GILA?

Ternyata orang-orang yang berkumpul itu adalah peserta Free Seminar tentang Masa Depan Enterpreneur Indonesia yang digagas oleh Pak Valentino Dinsi dari Lets Go Indonesia yang menghadirkan beberapa enterpreneur sukses Indonesia seperti Roni Yuzirman (Komunitas Tangan Diatas), Valentino Dinsi (LET’S GO Indonesia), Khairu Salim (Entrepreneur College), Budi Utoyo (Entrepreneur University), Elang Gumilang (Maestro Muda Indonesia), Bambang Suharno (Indonesia Entrepreneur Society), Tukhas Imaroh (Universitas Jayabaya), Sahmulah Rifqi (Oase School for Entrepreneur), dan Zaenal Abidin (Institute Kemandirian). Karena kesibukan masing-masing peserta seminar dan mungkin juga para nara sumber, seminar tersebut terpaksa dimulai terlambat 1 jam yaitu pukul 19.00 WIB. Acara dibuka oleh sang penggagas ide yaitu Pak Valentino Dinsi. Founder Lets Go Indonesia ini menyampaikan kegelisahannya akan kondisi negeri ini. Seratus tahun sudah sejak didirikannya organisasi Budi Utomo, namun kenyataannya kebangkitan nasional itu belumlah kentara. Yang ada justru kian hari kondisi negeri kita tercinta ini kian terpuruk. Berangkat dari kegelisahannya itulah beliau mulai menelepon rekan rekan sesama enterpreneur untuk mulai melakukan sebuah aksi. Dan gayung bersambut, sehingga sebagai tonggaknya diselenggarakanlah free seminar ini. Bang Valent, sapaan akrabnya, juga berkomitmen untuk rutin mengadakan seminar seperti ini setiap bulannya. Dan tetap FREE.
Kemudian mulailah beliau mempersilakan para narasumber untuk memberikan opening speech.

Diawali oleh pak Salim yang langsung menularkan virus GILA-nya kepada semua peserta. Setiap beliau meneriakkan “Apa Kabar?”, maka semua peserta diminta untuk menjawab GILA. Ternyata GILA ini adalah kependekan dari (kalau tidak salah ingat ya, :)) Gairah Ingin Lakukan Aksi. Selanjutnya pendiri Enterpreneur College ini menyatakan bahwa perbedaan antara orang kaya dan orang miskin hanyalah satu. Yaitu AKSI. Orang kaya (atau minimal sudah bermental kaya) akan selalu melakukan aksi. Take action miracle happens. Sementara orang miskin (atau yang bermental miskin) biasanya hanya rajin berpangku tangan. Selalu menyalahkan lingkungan ketika nasib baik tak pernah berpihak kepadanya. Mengeluh. Always Blame It To The Rain kalau kata Milli Vanilli.
Kemudian mic berpindah ke tangan Pak Bambang Suharno, yang juga tak mau kalah. Setiap kali meneriakkan “Selamat Malam”, maka beliau minta dijawab dengan “Selamat Pagi!” Ini bukan sebuah time disorientation, tapi memang itulah metafora dari dunia bisnis. There is no evening day, yang identik dengan kegelapan. Sebuah semangat enterpreneurship sederhana namun powerful coba ditawarkan oleh founder Indonesia Entrepreneur Society ini. Pendapat ini juga di amini oleh Ibu Imaroh dari Universitas Jayabaya yang memberikan opening speech berikutnya. Ibu dosen yang doktor juga pengusaha ini menimpali bahwa seorang enterpreneur harus selalu mempunyai semangat pagi. Semangat yang senantiasa berkobar, seperti halnya saat kita memulai aktifitas di pagi hari.


Tiba-tiba masuk seorang dengan postur tinggi besar mengenakan sport costum warna merah putih layaknya seorang judoin. Siapakah dia? Ternyata beliau langsung menyambar mic dan langsung meneriakkan “Apa Kabar?” “GILAAAA!”, kompak para peserta seminar menjawab. “Siapa mau lima puluh ribu?”, katanya sambil mengacungkan selembar uang limapuluh ribuan. Serentak para peserta seminar mengacungkan tangannya. Dan seorang peserta dengan cekatan mendekati bapak tersebut dan langsung menyambar uang tadi. Satu pelajaran berharga saya dapatkan malam itu. Ternyata mau saja tidak cukup. Mengacungkan tangan saja tidak cukup untuk mendapatkan uang tersebut. Kita harus take action! Bapak tadi ternyata adalah Rektor Institut Kemandirian (menurut beliau sih rektor yang mengangkat dirinya sendiri, :)) Pak Zainal Abidin yang akrab disapa Bang Jay. Selanjutnya Bang Jay memutar sebuah movie clip yang bertutur tentang kehidupan topeng monyet. Dengan kesabaran dan keuletan pelatihnya, monyet tadi mampu melakukan berbagai gaya. Menarik gerobak, salto berjumpalitan, bermain kuda lumping, perang-perangan, bersantai, bahkan shalat. Berbekal pelbagai gaya tersebut seekor monyet mampu menghasilkan Rp 15.000 per sekali tanggap (untuk durasi kurang dari 1 jam). Sementara kenyataan di sebuah pabrik sepatu Nike yang di pasaran dibandrol Rp 1,4 jutaan, pekerjanya hanya mendapatkan upah Rp 5000,- (saya yakin untuk menghasilkan sebuah sepatu diperlukan waktu lebih dari 1 jam). Rupanya korelasi ini yang mau disampaikan oleh Bang Jay, harga pekerja di Indonesia tidaklah lebih dari seekor monyet!

Kesempatan berikut diberikan kepada Pak Budi Utoyo dari Enterpreneur University. Beliau memaparkan sebuah catatan kecil bahwa ternyata semakin tinggi pendidikan seseorang itu, semakin sulitlah dia untuk menjadi enterpreuner. Rata-rata orang pandai tersebut hanyalah bekerja membesarkan usaha orang lain. Beberapa contoh beliau sebutkan, mulai dari Om Liem yang tak lulus SD, Andri Wongso yang di kartu namanya tertulis SDDT TBS. Sekolah Dasar Tidak Tamat, tapi Bisa Sukses. Juga dedengkot enterpreneur Indonesia Bob Hasan. Namun beliau mengingatkan, meskipun dalam dunia enterpreneur latar belakang pendidikan tidaklah menentukan, namun seorang enterpreneur sejati haruslah selalu belajar. Belajar dari kehidupan ini. Banyak membaca dlsb..

Kemudia sambung menyambung pak Rifqi dan Elang Gumilang memberikan ulasannya. Inti dari pembicaraan kedua tokoh ini hampir sama, yaitu bahwa ada sebuah tangan besar yang akan mengatur kehidupan kita. Pak Rifki dari Oase School for Entrepreneur mengingatkan kita bahwa dalam menjalankan sebuah bisnis kita harus mampu memilah-milah faktor pendukung. Karena menurut beliau ada dua faktor pendukung utama. Faktor teknis sebesar 20 %, dan non teknis 80 %. Rata-rata orang selalu memfokuskan diri pada penanganan faktor teknis seperti promosi, permodalan, manpower, dll. Jarang pengusaha yang mengurusi faktor non teknis, padahal sebenarnya sharenya lebih besar. Apa saja faktor non teknis ini? Menurut Pak Rifki, ini adalah penguasaan apa yang disebut habluminallah dan hablum minannaas. Hubungan transedental manusia dengan Tuhannya dan antar manusia itu sendiri. Meskipun kita sudah menjalankan semua teknik marketing (4 P’s), dan untuk sementara hasil bisnis kita gemilang, namun bila kita masih sering melakukan kedzaliman-kedzaliman baik kepada Sang Khalik maupun sesama, maka kegemilangan kita hanyalah semu adanya. Kita sukses namun jarang menderma, atau karena kesibukan berbisnis maka shalat jadi terbengkelai. Berdagang namun mencurangi pelanggan, ataupun menyiksa suplier dengan tagihan yang menyendat adalah contoh contoh faktor non teknis tadi. Tuhan tahu, Dia hanya menunggu. Suatu saat pasti kita akan menerima akibatnya. Makanya ketika ada audience yang bertanya kenapa sebagai karyawan dia tidak bisa menjalankan bisni dengan baik, Pak Rifki langsung menjawab, karena sebagai karyawan kita masih sering malkukan kedzaliman kepada perusahaan. Contoh nyata, istirahat seharusnya jam 12.00, tapi karena ingin mengurusi bisnis kita keluar kantor jam 11.30. Satu kedzaliman telah terjadi. Contoh lain, kita mencetak dan menggandakan proposal bisnis menggunakan fasilitas kantor, tanpa ijin dari atasan lagi. Kedzaliman lagi. Belum lagi koneksi internet kantor yang kita gunakan untuk melakukan transaksi-transaksi bisnis. (Gubrak, mohon maaf kalau banyak yang tersindir ya. Including me, hehehe).
Beliau juga mengingatkan bahwa ada perbedaan mendasar antar Businessman dengan Enterpreneur. Seorang businessman hanyalah seseorang yang menjalankan bisnisnya, that’s all. Dia tidak peduli dengan lingkungan. Yang dicari hanyalah laba semata. Apapun caranya halal saja adanya. Bila terjadi kegagalan maka dia akan mencari kambing hitam. Menyalahkan pemerintah, lingkungan, karyawan dll. Sementara enterpreneur adalah sebuah sikap mental, state of mind. Seorang enterpreneur akan berusaha untuk selalu bermanfaat untuk orang lain. Bersama menebar berkah. Bila terjadi kegagalan maka dia akan mawas diri, introspeksi, dan segera bangkit lagi.

Kemudian sang Maestro Muda Indonesia, Elang menyitir sebuah ayat Al Quran, bahwasanya tidak akan Allah memberikan cobaan di luar kemampuan umatNya. Meskipun masih belia, pemuda berpenghasilan 17 M/tahun ini mempuyai wawasan yang luas, dan sebagaiman orang sukses lainnya, PD sekali. Religius pula.

Pak Roni tiba, dan langsung dimintai komentar mengenai TDA. “Tangan Di Atas adalah komunitas yang tidak sengaja saya bentuk. Bermula dari blogging, kemudian dibentuklah mailing list TDA yang sekarang membernya lebih dari dua ribu orang”, Pak Roni memulai penjelasannya. Sebenarnya TDA lebih diutamakan sebagai komunitas offline, yaitu pertemuan rutin membernya untuk saling sharing bisnis dan saling mendukung dengan slogan bersama menebar berkah. Kini TDA telah bekerja sama dengan beberapa pihak seperti Detik.com, dan President University. Detik menawarkan program discount untuk beriklan di websitenya dan President University bahkan akan memberikan dukungan nyata kepada member TDA dalam mengembangkan bisnisnya. Bila perlu sampai Go Public. Dan perkembangan terbaru dari TDA adalah akan diluncurkannya Portal TDA pada bulan Juli nanti. Malam itu Jendral TDA ini juga memberi kesempatan bagi audience yang ingin bergabung dengan komunitas TDA untuk langsung mengirimkan email kepada beliau di roniyuzirman@gmail.com, dijamin langsung di approve.

Pada kesempatan itu juga secara resmi dibentuk Indonesian Enterpreneur Association yang nantinya akan berafiliasi dengan International Enterpreneur Association. Secara aklamasi audience memilih Pak Valentino Dinsi sebagai Ketuanya. Selamat untuk Bang Valent. Selamat untuk kita semua. Bangkitlah Enterpreneur Indonesia.
(haridewa)

NB:
Ada sedikit small winning yang ingin saya ceritakan. Singkatnya setelah acara selesai, para peserta seminar saling berebutan untuk berfoto dengan para narasumber, bertukar kartu nama atau sekedar bersalaman. Saya berkesempatan untuk bersalaman dengan Pak Isdi, Mas Faif, Bu Sri Kurniatun dan Pak Roni (tapi gak sempat ngobrol, beliau sibuk sih), dan langsung menghampiri Bang Jay. “Bang Jay, saya Hari, boleh minta kartu namanya?” “Enak saja, bayar!”, katanya. Dan karena saya sudah mulai kenal karakternya, maka langsung saja saya mengeluarkan dompet. “Nggak masalah, berapa Bang Jay?” “Sepuluh ribu!”. Langsung saja kuulurkan uang sepuluhribuan. Untuk mengenal seorang Zainal Abidin mungkin memang perlu ongkos, pikirku. Tapi diluar dugaan, sambil memberikan kartu namanya beliau memberikan selembar uang limapuluhribuan. “Bagus, saya suka orang yang nggak ragu-ragu seperti ini.” Hahaha, ternyata malam tadi membawa berkah untukku. Wawasan jelas makin bertambah, dan untung Rp 40 ribu man! Terima kasih Bang Jay.

NB2: Mohon maaf bila ada sitasi yang kurang tepat. Maklum tadi malam ga sempat nyatat. Semua hanya bermodal ingatan.Hehehe.

Wednesday, May 28, 2008

"Bukan Saya, Boss!!!"



Ini cerita tiga orang sahabat yang sedang bertugas ke Papua New Guinea. Mereka tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah itu dirawat oleh seorang pribumi setempat, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Selama beberapa hari semua urusan berjalan dengan lancar, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang. Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan ternyata jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari. Sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang pribumi setempat, penunggu rumah yang lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.


Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali botol anggur tersebut seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya! Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut "Not me, Boss! Selama ini saya hanya menggunakannya untuk keperluan memasak hidangan para Boss!"


My Friends, terlalu banyak kejadian yang akhirnya justru menyiksa kita sendiri, hanya karena kita malas, atau malu untuk bertanya. Kita memilih berasumsi yang belum tentu benar ketimbang mencari jawaban langsung dengan menanyakannya kepada orang yang bersangkutan. Dan terkadang hasil dari sebuah asumsi itu hanya melahirkan hal-hal lainnya yang lebih rumit, dibandingkan bila kita langsung mencari pokok masalah dengan bertanya kepada sumbernya. Satu hal lagi yang mungkin agak parah, kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu terjadi, hanya karena kita terlalu sering berasumsi.

PRINSIP 90:10


Apa kabar anda hari ini? Saya berharap Anda semua selalu dalam kondisi yang bagus, fisik maupun spiritual. Kenapa saya tanyakan hal ini? Karena terkadang kita merasa bahwa kita sedang dalam suasana atau keadaan yang sangat buruk pada suatu hari. Pekerjaan berantakan, atasan marah-marah, keluargapun terasa hanya mengganggu. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Ternyata jawabannya sangat sederhana. Semua bermula dari diri kita sendiri. Kalau Anda sudah membaca buku The Secret-nya Rhonda Byrne, tentunya anda sudah tahu bahwa sebuah energi (bahkan hanya pikiran) negative akan membawa atau memanggil energi-energi negative lain yang ada di alam semesta ini. Dan ternyata Stephen R Covey, Begawan Management yang terkenal dengan Eight Habits-nya itu telah mengetahui rahasia hebat ini, bahkan jauh sebelum Rhonda Byrne menerbitkan bukunya. Dia menamakannya Prinsip 90:10.
Bagaimana prinsip 90:10 itu ?

- 10% dari hidup anda terjadi karena apa yang langsung anda alami.
- 90% dari hidup anda ditentukan dari cara anda bereaksi.

Apa maksudnya ?
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri anda


Contohnya :
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule anda. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana anda. Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini.
Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini. Bagaimana caranya ? …. Dari cara anda bereaksi !!
Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi anda dapat mengontrol reaksi anda. Anda tidak dapat mengontrol bos yang suka marah marah, namun anda dapat mengontrol emosi anda.

Marilah kita lihat contoh di bawah ini :
Kondisi 1
Anda makan pagi dengan keluarga anda. Anak anda secara tidak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman anda sehingga pakaian kerja anda tersiram dan kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi.
Reaksi anda :
Anda bentak anak anda karena telah menumpahkan kopi ke pakaian anda. Anak anda akhirnya menangis. Setelah membentak, anda menoleh ke istri anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir di ujung meja. Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya. Akhirnya anak anda ketinggalan mobil jemputannya.
Istri anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru ke mobil dan mengantar anak anda ke sekolah. Karena anda telat, anda pacu mobil dengan kecepatan tinggi, bahkan anda langgar lampu merah.
Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan dana extra Rp 100.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya anda sampai di sekolah. Anak anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit.
Setelah tiba di kantor di mana anda telat 20 menit, anda baru ingat kalau tas anda tertinggal di rumah.
Hari kerja anda dimulai dengan situasi buruk. Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran anda terganggu karena kondisi di rumah. Pada saat tiba di rumah, anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri dan anak anda.
Mengapa ? … Karena cara anda bereaksi pada pagi itu.
Mengapa anda mengalami hari yang buruk ?
1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi ?
2. Apakah penyebabnya karena anak anda ?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas ?
4. Apakah anda penyebabnya ?

Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah anda sendiri !! Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah accident cangkir kopi. Cara anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab hari buruk anda.

Berikut adalah contoh yang sebaiknya atau seharusnya anda sikapi.
Kondisi 2
Cairan kopi menyiram baju anda. Begitu anak anda akan menangis, anda berkata lembut : "Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya." Anda ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan mengambil tas, secepatnya anda menuju jendela ruang depan dan melihat anak anda sedang naik mobil jemputan sambil melambaikan tangan ke anda. Anda kemudian mengecup lembut pipi istri anda dan mengatakan : "Sampai jumpa makan malam nanti."
Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staff anda. Bos anda mengomentari semangat dan kecerahan hari anda di kantor.
Apakah anda melihat perbedaan kedua kondisi tersebut ?

Dua skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri dengan kondisi berbeda.

Mengapa ?
Ternyata penyebabnya adalah dari cara anda bereaksi !
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung dari reaksi anda sendiri. Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90:10 dari Sang Begawan. Jika ada orang yang mengatakan hal buruk tentang anda, jangan cepat terpancing. Biarkan serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan komentar buruk tersebut mempengaruhi anda. Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan anda: kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.

Bagaimana reaksi anda jika anda mengalami kemacetan dan terlambat masuk kantor ? Apakah anda akan marah ? Memukul stir mobil ? Memaki-maki ? Apakah tekanan darah anda akan naik cepat ? Siapa yang peduli jika anda datang telat 10 detik ? Kenapa anda biarkan kondisi tersebut merusak hari anda? Cobalah ingat prinsip 90:10 dan jangan khawatir, masalah anda akan cepat terselesaikan.

Contoh lain :

Pesawat delay.
Kondisi ini merusak seluruh schedule anda. Kenapa anda harus marah-marah kepada petugas tiket di bandara ? Mereka tidak dapat mengendalikan apa yang sedang terjadi. Kenapa harus stress? Kondisi ini justru akan memperburuk situasi anda. Gunakan waktu anda untuk mempelajari situasi bandara dengan lengkap, membaca buku yang anda bawa, atau sekedar berkenalan dengan penumpang lain.

Sekarang anda sudah tahu prinsip 90:10. Gunakanlah dalam aktivitas harian anda. Anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang dan hasilnya sangat menakjubkan.

Sudah berjuta-juta orang yang menderita akibat stress, masalah berat, cobaan hidup dan sakit hati yang sebenarnya hal ini dapat diatasi jika kita mengerti cara menggunakan prinsip 90:10.

Kalau anda pernah mendengar sebuah pameo, You are what you eat, maka kini saatnya anda menambah satu pameo lagi: Your life is how you react!

Selamat mencoba!

disarikan dari buku dan situs Stephen R Covey

Tuesday, April 22, 2008

Law of Mind


Sebenarnya hal yang lebih penting adalah bukan sekedar menjadi yang pertama di tataran pasar, namun menjadi first in the mind (dalam tataran pikiran) pelanggan kita. Contoh kasus yang paling popular adalah kompetisi antara pabrikan MP3 player,Creative dengan iPod. Creative adalah hard drive multimedia MP3 player yang pertama di dunia. Creative bahkan mengantongi hak paten penggunaan interface yang dipakai oleh Ipod. Sementara iPod melaunch produknya setelah Creative. Namun meskipun pengekor, iPod melakukan beberapa perbaikan (mungkin dia juga mengenal teori ATM, Amati, Tiru, Modifikasi , :)), sehingga iPOd berhasil membuat design yang lebih Excellent. iPod juga memperbaiki tata cara operasi gadgetnya sehingga lebih user friendly. Dan kelebihan lain iPod adalah pabrikannya, yaitu Apple (yang sudah terkenal mempunyai desain yang bagus, simple dan fun).

Dan ternyata meskipun bukan perintis produk, namun iPod mampu mengungguli Creative menjadi market Leader. Menurut Ries, kelemahan Creative ternyata justru terletak pada varian produknya yang terlalu banyak. Bahkan dengan menempelkan brand 'Creative' ke semua jenis produknya yang beragam ini,akibatnya pelanggan menjadi tidak focus, bingung dan kesulitan menjadikan MP3 Creative sebagai TOM (Top Of Mind)-nya.
Sementara iPod hanya mempunyai 3 varian, namun didukung dengan promosi yang sangat gencar dan fancy (sesuai dengan targetnya yaitu anak muda). Bahkan dengan selera humor yang tinggi, mereka memasang iklan di Google yang ditujukan kepada aliens. Maksud candaan ini tentunya bila memang alien itu ada, ketika mereka ingin mendengarkan musik digital, pakailah iPod.

Dengan semua usahanya tersebut iPod berhasil menancapkan image bahwa music adalah iPod. Maka iPodpun berhasil mendominasi mind share muda mudi di seluruh dunia akan penggunaan digital music player. Tak heran bila penjualannyapun langsung meledak dan di tahun 2005 iPod menguasai market share Portable MP3 Player dengan 82%, sedangkan Creative hanya kebagian 4% MS.

Nah pertanyaannya sekarang adalah, jika kita mempunyai banyak varian, apakah kita tidak mempunyai peluang untuk menjadi first of mind? Baiklah, sekarang kita lihat contoh kasus berikut ini. Market leader untuk sector ponsel adalah Nokia. Produk ini menjadi Leading brand hampir di semua Negara. Nokia adalah merk yang paling agresif dengan rekor penjualan sebanyak 78,4 miliar unit di Q2 2006, dengan market share 34%dan net sales Q2 2006 =EUR 9,813 mil.Wow..! Namun tahukah anda berapa varian baru yang dikeluarkan Nokia dalam waktu 6 bulan terakhir ini. 70 jenis!

Nah lho, jadi bingung kan? Kunci sukses Nokia dan iPod bisa menjadi market leader adalah mereka berhasil menjadi the first in the costumer mind sesuai dengan segment mereka masing-masing.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi first in mind :

1.Definisikan dulu produk kita itu mau merambah ke segment apa. Atau dengan kata lain siapakah target market kita. Buatlah yang se-spesifik mungkin. Apakah orang tua, anak muda, laki-laki atau perempuan.

2.Lakukan survey, siapakah saingan kita (bisa dilakukan dengan membuka google dan mengetikkan keyword yang sesuai dengan produk kita).

3.Lakukan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi)

4.Bila diperlukan, buatlah diversivikasi produk dari brand kita sesuai dengan kemampuan kita dan peluang yang ada.

Maka insya Allah, kita bisa menjadi first of the mind dan bahkan mampu mengalahkan sang perintis. Yakinlah bahwa ‘It is not about being first in the marketplace but about being first in the mind of the customer’

next "Law of Line Extension"

Friday, April 18, 2008

Law Of Leadership


Menurut Ries, It’s better to be first than it’s to be better. Adalah lebih utama menjadi yang pertama (perintis) ketimbang menjadi yang lebih bagus. Karena persepsi yang akan di dapat oleh pasar dari produk perintis (the first one) adalah :

• Original
• Authentic
• Expert
• The Best


Dengan menjadi yang pertama maka produk kita akan menjadi Market Leader (pemimpin pasar). Konsekuensi logis dari market leader tentunya adalah produk kita akan mampu :

• Attract best people

Kita akan mendapatkan best quality consumers. Istilah jaman sekarang pelanggan KW 1 (bukan hanya barang khan yang bisa kw 1 :)). Kalau mengikuti LoA, maka berlaku hukum orang dengan selera tinggi tentunya akan mencari barang yang mempunyai image terbaik.

• Attract best distribution
Distribusi di sini maksudnya adalah, selain sistemnya yang bagus juga distributor yang berkualitas. Sebagai contoh, mana ada mall yang mempunyai reputasi international menjual barang kw2 atau kw3. Pasti yang dicarinya selalu kw1.

• Attract new coverage
Barang bagus pasti dicari orang. Meski jauh tempatnya mereka akan rela menempuh jarak tersebut.

Sementara bila kita hanya menjadi follower (atau istilahnya produk me too), maka kita akan dipaksa oleh pasar untuk menekan harga. Lha kalau niat kita berbisnis untuk make much money, bagaimana mungkin bila harga kita harus dipres.


Contoh nyata di dunia global adalah di dunia IT. Dell adalah perusahaan IT pertama yang melihat peluang penjualan PC langsung ke konsumen (kantor dan individual), dan ternyata dalam 10 tahun perjalanan bisnisnya, mereka berhasil membukukan revenu sebesar $ 258 Billion, dengan net profit 16,1 B. Sedangkan pengikutnya, Gateway hanya mampu meraup revenu $ 58 B, dan minus net pfrofit $ -865 M. Contoh lain, Microsoft me-launch systemnya pada bulan Agustus 1981 dan dia sekarang menguasai 93% market share. Sementara Macintosh yang me launch produknya di bulan Januari 1984 hanya mendapatkan 4% MS. Sangat jauh berbeda bukan? Dan masih banyak contoh lainnya.

Dalam kenyataannya Market Leader akan selalu memantapkan dan menambah kepemimpinannya akan pasar, sementara follower hanya akan semakin jauh tertinggal. Cobalah kita cermati sekitar kita, sangatlah sulit menemukan merk kedua bisa melibas produk unggulannya. (Ex Coca cola vs pepsi ?, Mc Donalds vs King Burger?, etc.)

Meskipun sudah banyak contoh kasus seperti yang telah disebutkan di atas, tapi anehnya kenapa banyak perusahaan di dunia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, sementara mereka bisa menjadi yang pertama!

Jadi menurut hukum kepemimpinan ini, Ries ingin mengatakan bahwa :
1. Untuk mencari uang banyak maka kita harus menjadi yang pertama bukan (hanya) yang terbaik. Lepas dari itu kita akan dipaksa untuk menekan harga kita.
2. Kecepatan dan momentum yang tepat adalah kunci utama dari kesuksesan kita
3. Menjadi yang pertama akan memberikan kita peluang yang lebih besar untuk menjadi pemimpin pasar.
4. Namun, ternyata kesuksesan kita tidak hanya tergantung pada being the first namun.......
next "Law of Mind"

Thursday, April 10, 2008

TELAGA HATI


Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, kemudian diaduknya perlahan.
"Coba minum air ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya ?" "Segar ", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.
"Tidak, " sahut pemuda itu.
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini. Tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki! Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang dapat kamu lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
***
My Friends, hati kita laksana wadah tadi. Perasaan kita adalah tempat penampungan itu. Kalbu kita adalah tempat kita menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hati kita seperti gelas, jadilah telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Hidup ini adalah sebuah pilihan. Pertanyaannya adalah, sanggupkah kita menjalani kehidupan ini dengan baik sampai ajal kita menjelang? Maka dari itu Friends, marilah kita senantiasa belajar bersabar menerima kenyataan untuk menjadikan hati kita sebuah telaga.

KISAH PENEBANG KAYU


Pada suatu ketika seorang penebang kayu yang sangat kuat mendatangi sebuah perusahaan penggergajian kayu untuk minta pekerjaan. Dan diapun mendapatkan pekerjaan itu. Bayarannya sangat bagus, begitu pula situasi kerjanya. Oleh karena itu si penebang kayu memutuskan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Majikannya memberinya sebuah kapak, dan menunjukkan daerah yang harus digarapnya
Pada hari pertama si penebang kayu berhasil menebang 18 pohon. “Selamat..!” kata majikannya, “Pertahankan kualitas kerjamu” Merasa sangat termotivasi oleh pujian majikannya, si penebang kayu berusaha untuk bekerja lebih keras pada hari berikutnya, namun dia hanya berhasil menebang 15 pohon. Pada hari ketiga, meskipun dia berusaha lebih keras lagi, dia hanya berhasil menebang 10 pohon. Hari demi hari hasil tebangannya justru makin berkurang.

“Pasti aku mulai kehilangan kekuatanku”, pikir si penebang kayu. Dia lalu mendatangi majikannya untuk minta maaf, sambil berkata bahwa dia betul-betul tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya.
“Kapan kali terakhir kamu mengasah kapakmu ?”, majikannya bertanya.
“Mengasah kapak?, Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya terlalu sibuk menebangi pohon”
***
My Friends, begitulah hidup kita. Kadangkala kita terlalu sibuk, sehingga kita tidak meluangkan waktu kita untuk mengasah kapak kita. Saat ini orang-orang terlihat lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka tidak merasa lebih bahagia. Kenapa hal ini terjadi ? Mungkinkah karena kita telah melupakan cara untuk bertahan agar tetap tajam ?

Tidak ada yang salah dengan semua aktivitas dan kerja keras kita. Tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk terlalu sibuk, sampai-sampai kita mengabaikan hal yang paling penting dalam hidup kita, seperti meluangkan waktu untuk berdoa, atau membaca. Kita semua mebutuhkan waktu untuk bersantai, untuk berpikir dan merenung, untuk selalu belajar dan berkembang.

Jika kita tidak meluangkan waktu untuk mengasah kapak kita, niscaya kita akan menjadi tumpul dan mulai kehilangan efektivitas kita. Maka, marilah mulai hari ini kita pikirkan cara terbaik yang memungkinkan kita bekerja dengan lebih efektif, dan hargailah cara-cara itu.

KAIL DAN IKAN


Suatu hari Budi dan anaknya pergi memancing di sebuah kolam pancing. Begitu tiba di lokasi kolam pancing dia langsung disambut oleh seorang pemandu. Berikut ini percakapan antara Budi dan sang pemandu :
Pemandu : "Bapak ingin memancing di kolam tipe apa?"
Budi : "Lho memangnya di sini ada kolam tipe apa aja?"
Pemandu : " Di sini ada banyak kolam, ada kolam yang ikannya besar-besar tapi ikannya jarang biasanya ini untuk tingkat yang sudah mahir. Ada juga yang tingkat kesulitannya sedang. Kami juga punya satu kolam istimewa. Di kolam tersebut, begitu Bapak melemparkan kail, akan langsung di tarik dan pasti dapat ikan"
Budi : "Wahh mana ada kolam seperti itu? Saya tidak percaya...! Tapi bolehlah saya mau coba kolam istimewa itu!"
Pemandu : "Ok tapi di kolam ini berlaku ketentuan, yaitu setiap ikan yang terpancing tidak boleh di bawa pulang, melainkan harus dilepas kembali ke kolam tersebut! "
Budi : "Oke, tidak masalah"

Singkat cerita si Budi mulai memancing di kolam istimewa itu. Dia melemparkan kail, terasa kail itu bergetar sedikit. Secepat kilat dia menarik jorannya. Namun terasa ringan, dan ternyata umpannya telah hilang. Budi tidak mendapatkan ikannya. Tak menyerah begitu saja, Budi mencoba lagi. Dua kali, tiga kali, empat kali, selalu umpannya hilang tapi tidak dapat ikan. Budi mulai emosi, dengan sewot dia berbicara pada si pemandu.
Budi : "Wahh kamu bohong ya?? Mana bukti omonganmu tadi? Sudah beberapa kali saya lempar kali, tapi tak satupun ikan yang tertangkap”
Pemandu : "Hahahaha, Bapak tidak tahu caranya sih. Sini coba saya tunjukan caranya kepada Bapak"

Sang pemandu mengambil kail si Budi, memasang umpan, dan melemparkan kail ke kolam. Satu detik setelah kail menyentuh air sang pemandu langsung menarik kail nya dan hubb... tertangkaplah ikan tersebut.
Sambil membebaskan ikan dari kail dan melepaskan kembali ke kolam sang pemandu bercerita,"Hehehe, ikan-ikan di kolam ini tidak pernah diberi makan sehingga kelaparan. Tetapi ikan-ikan di kolam ini juga memiliki mulut yang sangat peka karena sudah beratus-ratus kali terkena kail dan dilepaskan kembali. Sehingga ketika memakan umpan dan merasakan ada sesuatu yang keras (kail) maka ikan tersebut segera memuntahkan umpan tersebut"
***
My Friends, ikan-ikan tersebut sudah berkali-kali terkena kail. Sama seperti kita yang sering kali jatuh bangun menghadapi KEGAGALAN dalam hidup. TAPI, sama seperti ikan yang sudah hafal akan kail dan umpan yang mereka makan dan menjadikan mereka kebal. Semestinya sebagai manusia yang dikaruniai kelebihan dibanding seekor ikan, kita juga akan mampu menghadapi dan menyikapi KEGAGALAN yang terjadi dalam hidup kita dengan bijaksana. KEGAGALAN adalah sebuah kesempatan agar kita semakin kuat dan semakin pintar untuk terbebas dari kegagalan-kegagalan lain di masa mendatang.

KUPU-KUPU


Suatu ketika, tersebutlah seorang pemuda sedang duduk di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongannya makin senyap, meruap nyaris musnah, sampai sebuah suara menyapanya. Ternyata ada orang lain di sana. "Sedang apa kau di sini anak muda?" tanya seorang kakek yang rupanya sedari tadi mengamati pemuda itu. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak jua kutemukan rasa itu dalam diriku. Gunung dan lembah telah kudaki, lautan dan samudera juga sudah kuseberangi tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.” Mereka berpandangan. “Sesederhana itukah sebuah kebahagiaan?” kata pemuda itu dalam hati. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya mantap menuju satu arah, taman. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang beterbangan di sana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."
Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
***
My Friends, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu. Namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.
Namun marilah kita belajar. Belajar bahwa kebahagiaan tak bisa didapat dengan cara-cara seperti itu. Marilah belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Marilah belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.
Marilah kita temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan. Dalam tenang. Dalam ketulusan hati kita. Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, layaknya kupu-kupu, bahagia itu beterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

WIN WIN SOLUTION


Pada suatu malam yang dingin, dengan mengendarai mobil sport terbaru yang hanya mempunyai dua tempat duduk, anda melintasi sebuah gurun. Di tengah perjalanan, anda bertemu dengan tiga orang manusia, yang pertama adalah seorang nenek keriput yang terkena serangan jantung, yang kedua adalah sahabat lama anda yang pernah menyelamatkan hidup anda di masa lalu, sedangkan yang terakhir adalah seorang gadis cantik berkulit putih mulus dengan postur tubuh yang sangat aduhai, sosok gadis yang selama ini sangat anda idam-idamkan. Ketiga orang itu melambaikan tangannya minta pertolongan kepada anda. Dan karena tempat duduk di mobil anda hanya dua, tentunya anda harus menentukan pilihan diantara ketiga orang tersebut yang akan anda tolong.

Sebuah pilihan yang sulit memang, karena begitu anda menolong orang pertama, anda akan dicap sebagai orang yang tak tahu balas budi, bahkan munafik dan bodoh karena melewatkan kesempatan yang belum tentu sekali seumur hidup bertemu dengan gadis yang anda idam-idamkan. Ketika anda menolong orang kedua pun orang akan tetap mempersalahkan anda sebagai orang yang tak bermoral karena telah menyebabkan seorang nenek meninggal dunia, belum lagi cap munafik dan bodoh seperti pada kasus pertama. Dan lebih parah lagi pandangan orang kepada anda apabila anda menolong orang yang terakhir. Anda akan dijuluki si pengkhianat yang tak bermoral. Terus bagaimana dong? Pusiiing !
Kalau saya jadi anda, saya tidak akan melakukan tiga hal diatas, karena menurut saya ada satu pemecahan yang bisa memuaskan semua orang. Saya akan berikan kunci kontak mobil kepada sahabat lama saya dan minta dia untuk segera membawa nenek tersebut ke rumah sakit terdekat agar nyawanya tertolong. Di sisi lain sahabat saya juga tertolong telah keluar dari gurun itu.
Mungkin anda akan menganggap saya idiot dengan membiarkan diri saya terjebak di gurun untuk menggantikan dua orang tersebut. Anda salah, karena saya tidak sendiri. Ada seorang gadis cantik berkulit putih, dengan postur tubuh yang aduhai, sosok gadis yang selama ini saya idam-idamkan, menemani saya disini.
Itulah kehidupan. Seringkali kita dihadapkan pada problematika hidup yang mengharuskan kita menentukan pilihan. Dan seringkali pula, karena banyaknya kepentingan yang bermain didalamnya, kita dihadapkan pada keputusan yang sulit untuk diambil. Kita punya kepentingan yang harus kita perjuangkan, disisi lain ada peraturan yang harus kita taati. Untuk menyelaraskan antara kepentingan dan peraturan agar seimbang itulah diperlukan cara berpikir menang-menang (WIN-WIN SOLUTION). Caranya adalah dengan kompromi. Sedikit kita boleh mengalah, asalkan kepentingan kitapun tercapai.

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...